<
App splash

BlackRock Peringatkan Minyak Bisa Tembus US$150 Per Barel, Resesi Global Mengancam

Larry Fink, CEO BlackRock selaku perusahaan pengelola investasi terbesar di dunia dengan aset lebih dari US$10 triliun, mengeluarkan peringatan keras soal dampak konflik Iran terhadap ekonomi global. Fink menyebut bahwa jika Iran terus menjadi ancaman terhadap pasokan minyak dunia, harga minyak bisa bertahan di kisaran US$100 hingga US$150 per barel selama bertahun-tahun. Jika skenario itu terwujud, resesi global hampir tidak bisa dihindari. Peringatan ini bukan sekadar spekulasi. BlackRock mengelola lebih dari US$10 triliun aset global, dan pandangan Fink secara historis menjadi salah satu referensi utama para manajer investasi besar dunia dalam mengambil keputusan alokasi portofolio. Ketika Fink berbicara soal risiko makro, pasar mendengarkan. Dampaknya ke Indonesia tidak kecil. Harga minyak di atas US$100 per barel berarti biaya impor energi melonjak dan tekanan terhadap Rupiah meningkat. Inflasi domestik akan lebih sulit dikendalikan, dan Bank Indonesia berpotensi menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Langkah itu pada akhirnya menekan pasar saham domestik dan aset berisiko termasuk kripto dalam jangka pendek.

Rusia Kirim Drone ke Iran di Tengah Negosiasi Iran-AS, Pasar Energi Kembali Terancam

Di tengah kabar Iran dan Amerika Serikat sedang menjajaki kesepakatan damai, Rusia justru mengirim drone ke Teheran. Financial Times melaporkan langkah ini terjadi tepat saat negosiasi kedua pihak masih berjalan, dan langsung memperumit dinamika geopolitik yang sudah memanas antara Barat dan blok Rusia-Iran. Pengiriman drone dari Moskow ke Teheran bukan yang pertama, melansir Financial Times. Kerja sama militer kedua negara meningkat signifikan sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, dengan Iran sebelumnya dilaporkan memasok drone ke Rusia untuk digunakan di medan perang Ukraina. Kini arah kerja sama itu tampak berbalik, dan skala pengiriman terbaru ini disebut lebih besar dari sebelumnya. Bagi pasar energi, langkah Rusia ini adalah sinyal bahwa ketegangan di kawasan Timur Tengah belum akan mereda dalam waktu dekat. Harga minyak Brent dan WTI berpotensi naik kembali jika eskalasi terjadi, yang pada gilirannya bisa menambah tekanan inflasi global dan menunda rencana pemangkasan suku bunga bank sentral utama termasuk The Fed. Dampaknya ke aset berisiko tidak bisa diabaikan. Kripto, Rupiah, dan pasar saham domestik semuanya sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga dan sentimen risiko global. Selama Rusia terus memasok Iran di tengah negosiasi yang belum selesai, ketidakpastian di pasar berpotensi bertahan lebih lama dari perkiraan.

Akses Berhasil!

Silahkan Download PDF melalui tombol dibawah ini. Kamu juga dapat gabung ke grup discord gratis untuk dapatkan info crypto menarik lainnya!

Pendaftaran Berhasil

Terima kasih telah mendaftar. Link Zoom akan dikirim melalui WhatsApp kamu. Punya pertanyaan? Silahkan chat minsul melalui tombol dibawah ini.