<
App splash

Nvidia Digugat atas Tuduhan Sembunyikan Lebih dari US$1 Miliar Pendapatan GPU Crypto sebagai Penjualan Gaming

Nvidia menghadapi gugatan kelas setelah perusahaan dituduh sengaja menyembunyikan lebih dari US$1 miliar pendapatan dari penjualan GPU untuk keperluan crypto mining, dengan melaporkannya sebagai pendapatan segmen gaming. Gugatan ini menilai laporan keuangan Nvidia menyesatkan investor selama periode booming kripto berlangsung. Para penggugat menyebut Nvidia secara sadar mengklasifikasikan penjualan kartu grafis ke para penambang kripto sebagai penjualan ke para gamer. Praktik ini diduga berlangsung saat permintaan GPU dari para penambang melonjak tajam, membuat angka pendapatan segmen gaming tampak jauh lebih besar dan stabil dari kondisi sebenarnya. Bagi investor saham Nvidia, ini adalah risiko finansial nyata. Jika gugatan berhasil, perusahaan berpotensi menghadapi kewajiban ganti rugi besar yang bisa menekan harga saham dan sentimen pasar teknologi secara keseluruhan, termasuk saham produsen semikonduktor lain yang selama ini ikut terangkat oleh narasi AI dan kripto. Bagi ekosistem kripto, kasus ini membuka kembali diskusi soal ketergantungan industri mining terhadap pasokan hardware dari segelintir produsen besar. Gangguan terhadap Nvidia, baik dari tekanan hukum maupun penurunan kepercayaan investor, bisa berdampak ke ketersediaan dan harga GPU yang menjadi tulang punggung operasional jaringan proof-of-work global.

Iran Beri Spanyol Akses Bebas Selat Hormuz, Teheran Kini Jadi Penjaga Gerbang Energi Global

Iran resmi memberikan akses bebas kepada kapal-kapal Spanyol untuk melintas di Selat Hormuz, menyusul keputusan Madrid yang menolak mengizinkan Amerika Serikat menggunakan pangkalan militer Spanyol untuk operasi melawan Iran. Langkah ini dikonfirmasi pada 24 Maret 2026, menjadikan Spanyol bagian dari kelompok negara yang Teheran anggap tidak bermusuhan. Menurut Reuters dan Financial Times, Iran telah resmi menginformasikan kepada Dewan Keamanan PBB dan Organisasi Maritim Internasional bahwa kapal dari negara yang tidak mendukung operasi militer AS dan Israel diizinkan melintas, selama mematuhi aturan keamanan yang ditetapkan Teheran. Turki, India, Pakistan, Rusia, dan China sudah lebih dulu masuk daftar negara yang mendapat izin serupa. Selat Hormuz adalah jalur tempat sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintas setiap harinya. Sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026, lalu lintas kapal tanker di selat ini anjlok drastis dan mendorong harga minyak Brent melonjak ke atas US$100 per barel. Sistem izin lintas yang kini dibangun Iran secara efektif menempatkan Teheran sebagai penjaga gerbang energi global, dengan kekuatan menentukan negara mana yang bisa mengakses pasokan minyak kawasan dan mana yang tidak. Bagi Indonesia sebagai negara importir energi, dinamika ini berdampak langsung ke biaya impor minyak, tekanan terhadap Rupiah, dan prospek inflasi domestik. Selama Iran mempertahankan kendali selat dan kapal AS serta Israel tetap diblokir, ketidakpastian di pasar energi global belum akan mereda dalam waktu dekat.

Trump: Iran Mau Buat Kesepakatan Tapi Takut Dihabisi Rakyatnya Sendiri

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Iran sebenarnya ingin membuka negosiasi dengan Washington, namun enggan mengakuinya secara terbuka karena khawatir menghadapi reaksi keras dari dalam negeri. “Mereka sangat ingin membuat kesepakatan, tapi takut mengatakannya. Karena mereka pikir mereka akan dihabisi oleh rakyatnya sendiri,” ujar Trump dalam pernyataan resminya, dikutip Reuters. Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi tekanan diplomatik AS terhadap Iran terkait program nuklir Teheran, yang dalam beberapa pekan terakhir turut mendorong volatilitas harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent saat ini bertahan di kisaran US$74 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$70 per barel, keduanya sensitif terhadap setiap perubahan dinamika di kawasan Teluk. Jika sinyal negosiasi ini berkembang menjadi kesepakatan konkret, tekanan geopolitik yang selama ini menopang harga minyak berpotensi mereda. Penurunan harga minyak secara berkelanjutan bisa menekan angka inflasi global, yang pada gilirannya memberi ruang bagi bank sentral, termasuk The Fed, untuk lebih cepat memangkas suku bunga. Kondisi suku bunga yang lebih rendah secara historis menjadi angin segar bagi aset berisiko, termasuk Bitcoin dan pasar kripto secara luas. Namun pasar belum bereaksi signifikan terhadap pernyataan Trump ini. Para analis mengingatkan bahwa klaim sepihak dari Washington tanpa konfirmasi dari pihak Iran belum cukup untuk mengubah arah kebijakan. Ketegangan Iran-AS tetap menjadi salah satu variabel utama yang perlu dicermati investor dalam memantau pergerakan harga komoditas dan aset berisiko ke depan.

Rp1 Juta Bitcoin di 2010 Kini Senilai Hampir Rp900 Miliar, Tapi Ada Satu Tahun yang Justru Bikin Rugi

Investasi senilai Rp1 juta pada Bitcoin di tahun 2010, saat harganya masih berada di kisaran US$0,08 per koin, kini bernilai hampir Rp900 miliar. Dengan jumlah tersebut, seorang investor bisa memperoleh sekitar 738 Bitcoin, yang pada harga saat ini di kisaran US$71.700 atau sekitar Rp1,2 miliar per koin, berubah menjadi salah satu keputusan finansial paling menguntungkan dalam sejarah aset digital. Namun tidak semua periode masuk memberikan hasil yang sama. Mereka yang menempatkan Rp1 juta pada Bitcoin di tahun 2015, saat pasar kripto hampir tidak dilirik siapa pun, kini memegang nilai aset sekitar Rp238 juta, masih jauh di atas modal awal meski tidak sebanding dengan generasi pertama pemegang Bitcoin. Data ini menunjukkan bahwa waktu masuk ke pasar memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dibanding jumlah modal yang ditempatkan. Satu periode menjadi pengecualian yang perlu dicermati: mereka yang membeli Bitcoin di awal 2025 ketika harganya menyentuh US$93.000 justru berada dalam posisi rugi hari ini. Rp1 juta yang diinvestasikan kala itu kini bernilai sekitar Rp820 ribu, turun sekitar 18 persen dari modal awal. Ini bukan anomali; koreksi tajam setelah fase kenaikan besar adalah pola yang berulang dalam sejarah Bitcoin sejak 2009. Pola yang sama terus terlihat dalam 16 tahun perjalanan aset ini: investor yang masuk di fase sepi, saat tidak ada liputan media besar dan tidak ada euforia publik, secara konsisten mencatat imbal hasil lebih tinggi dibanding mereka yang masuk saat harga sudah di puncak perhatian. Bagi investor ritel Indonesia yang kini mempertimbangkan posisi di aset kripto, data historis ini bukan jaminan, tetapi bisa menjadi cermin untuk mengevaluasi waktu dan harga masuk yang dipilih.

Komandan Angkatan Laut IRGC Alireza Tangsiri Dilaporkan Tewas dalam Serangan di Bandar Abbas

Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Alireza Tangsiri, dilaporkan tewas dalam sebuah serangan di Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis yang berbatasan langsung dengan Selat Hormuz. Informasi ini disampaikan pejabat Israel kepada Jerusalem Post pada 26 Maret 2026. Iran hingga saat ini belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait laporan tersebut. Tangsiri adalah sosok kunci di balik penutupan Selat Hormuz sejak konflik AS-Iran pecah pada 28 Februari 2026. Di bawah komandonya, Angkatan Laut IRGC memblokir jalur yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia setiap harinya, mendorong harga minyak Brent melonjak ke atas US$100 per barel dan memicu krisis energi global terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Jika laporan ini terkonfirmasi, ini menjadi salah satu eliminasi militer paling berdampak dalam konflik ini. Kekosongan komando di posisi yang mengendalikan strategi Selat Hormuz berpotensi mengubah dinamika negosiasi antara Iran dan AS yang saat ini masih berjalan tanpa titik temu. Namun dampak ke pasar energi, Rupiah, dan kripto baru akan terlihat jelas setelah ada konfirmasi resmi dari pihak Iran. Selama status laporan ini masih belum terverifikasi, pasar kemungkinan akan bergerak volatil di tengah ketidakpastian informasi.

Trump Peringatkan Iran Harus Serius Bernegosiasi, AS Kirim Rencana Perdamaian 15 Poin Lewat Pakistan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan peringatan keras kepada Iran, menyebut Teheran harus segera bersikap serius dalam negosiasi atau menghadapi konsekuensi. Trump mengklaim negosiator Iran secara diam-diam mencari kesepakatan, meski Iran secara terbuka terus menolak adanya pembicaraan langsung dengan Washington. Ketegangan ini terjadi di tengah dinamika yang semakin kompleks. Melansir Bloomberg dan CNBC, AS telah mengirimkan rencana perdamaian 15 poin kepada Iran melalui perantara Pakistan. Iran menerima dokumen tersebut, namun juru bicara militer Iran tetap menegaskan tidak ada negosiasi yang berlangsung. Trump sebelumnya menunda ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari dengan alasan pembicaraan yang disebutnya “produktif.” Bagi pasar global, setiap sinyal dari negosiasi ini berdampak langsung ke harga energi dan aset berisiko. Ketika Trump mengumumkan penundaan serangan pekan lalu, harga minyak Brent langsung turun lebih dari 9 persen dalam satu sesi perdagangan, menurut data Bloomberg. Sensitivitas pasar terhadap perkembangan negosiasi ini mencerminkan betapa besar ketergantungan harga energi global pada hasil akhir konflik Iran-AS. Jika negosiasi gagal dan eskalasi kembali terjadi, pasar bersiap menghadapi guncangan energi berikutnya. Harga minyak Brent yang kembali menembus US$100 per barel akan menambah tekanan inflasi global, mempersulit pemangkasan suku bunga bank sentral, dan menekan aset berisiko termasuk Bitcoin dan Rupiah dalam waktu bersamaan.

Transaksi Besar Bitcoin Anjlok ke Level Terendah Sejak September 2023, Pelaku Pasar Besar Kurangi Aktivitas

Data on-chain Bitcoin menunjukkan sinyal yang patut dicermati. Jumlah transaksi harian Bitcoin senilai di atas US$100 ribu kini berada di titik terendah sejak September 2023, menurut data Glassnode. Transaksi besar di jaringan Bitcoin umumnya berasal dari institusi, dana investasi besar, atau investor kakap yang memindahkan aset dalam jumlah signifikan. Ketika volume transaksi ini turun drastis, artinya pelaku besar sedang mengurangi aktivitas, baik karena menunggu kepastian arah pasar maupun karena mulai keluar dari posisi yang sudah dibangun sebelumnya. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan volatilitas pasar saham AS yang berada di level tertinggi dalam satu dekade. Kombinasi keduanya menggambarkan satu kondisi yang sama: pelaku pasar besar sedang dalam mode tunggu dan lihat, bukan mode akumulasi. Secara historis, penurunan aktivitas transaksi besar sering mendahului periode konsolidasi harga yang lebih panjang. Bagi investor ritel yang saat ini memegang Bitcoin, data ini menjadi pengingat bahwa pergerakan harga dalam waktu dekat kemungkinan besar masih akan ditentukan oleh keputusan segelintir pelaku besar, bukan oleh sentimen pasar secara umum.

Iran Rancang Undang-Undang Pungut Biaya di Selat Hormuz, Harga Minyak Global Terancam Naik

Iran merancang undang-undang baru yang memungkinkan Teheran memungut biaya dari kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Langkah ini bertujuan menambah pemasukan negara sekaligus memperketat kendali atas lalu lintas maritim di salah satu jalur paling strategis di dunia. Selat Hormuz adalah titik chokepoint utama distribusi minyak global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur sempit ini setiap harinya, termasuk ekspor dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak. Jika Iran benar-benar menerapkan aturan ini, biaya pengiriman minyak global bisa naik dan berdampak langsung ke harga minyak Brent dan WTI di pasar internasional. Harga minyak yang naik berarti tekanan inflasi yang lebih tinggi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Rupiah akan menghadapi tekanan lebih besar sebagai mata uang negara importir energi, sementara Bank Indonesia berpotensi menahan atau bahkan menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas. Kondisi itu secara historis menekan harga aset berisiko. Kripto, saham domestik, dan obligasi pemerintah semuanya sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga global. Selama rancangan undang-undang ini belum ditarik atau dinegosiasikan, ketidakpastian di pasar energi dan aset berisiko berpotensi terus berlanjut.

IHSG Anjlok 13%, Perak Jatuh 20%, Bitcoin Justru Naik 8% Sejak Konflik Iran Pecah

Konflik Iran telah memukul hampir seluruh kelas aset dalam beberapa pekan terakhir, tapi dua aset justru bergerak berlawanan arah dari mayoritas pasar: Bitcoin naik 8,68 persen dan Ethereum naik 17,26 persen dalam periode yang sama, menurut data Google Finance. Di sisi yang melemah, perak mencatat performa terburuk dengan penurunan lebih dari 20 persen sejak konflik dimulai. IHSG menyusul dengan koreksi 13,41 persen, angka yang mencerminkan tekanan nyata ke pasar saham domestik akibat kombinasi sentimen global dan dampak konflik terhadap harga komoditas. Emas, yang secara historis dianggap sebagai aset pelindung di masa krisis, justru turun 12,22 persen. S&P 500 terkoreksi 5,61 persen. Pola ini menarik karena membalik narasi yang sudah berlaku puluhan tahun: bahwa investor lari ke emas saat konflik meningkat. Data kali ini menunjukkan sebagian pelaku pasar mulai memandang Bitcoin dan Ethereum sebagai alternatif penyimpan nilai di tengah ketidakpastian geopolitik, meski narasi ini masih diperdebatkan di kalangan analis. Bagi investor Indonesia, angka IHSG minus 13 persen bukan sekadar statistik. Ini berarti portofolio saham domestik mengalami tekanan signifikan dalam waktu singkat, sementara mereka yang memiliki alokasi di aset kripto justru mencatat keuntungan di periode yang sama. Apakah ini pergeseran struktural dalam perilaku investor global, atau hanya anomali satu siklus konflik, masih terlalu dini untuk disimpulkan.

Polisi Irlandia Bobol Dompet Bitcoin Rp590 Miliar Milik Pengedar Narkoba, 11 Dompet Senilai Rp5,7 Triliun Masih Terkunci

Europol dan Criminal Assets Bureau (CAB) Irlandia berhasil memindahkan 500 Bitcoin senilai sekitar US$35 juta dari dompet digital yang tidak aktif hampir satu dekade, menurut laporan BeInCrypto dan CCN pada 24 Maret 2026. Ini adalah terobosan besar dalam penanganan aset kripto hasil kejahatan, sekaligus pengingat keras soal risiko penyimpanan Bitcoin yang kerap diabaikan investor ritel. Dompet itu milik Clifton Collins, warga Dublin yang ditangkap polisi pada 2017 setelah ditemukan terlibat bisnis perkebunan ganja ilegal. Collins membeli 6.000 Bitcoin antara 2011 dan 2012 menggunakan uang hasil kejahatan tersebut, dan mencetak kunci akses ke seluruh 12 dompet digitalnya dalam satu lembar kertas yang ia simpan di dalam tempat pancing di rumah sewanya di Galway. Ketika Collins ditangkap, pemilik rumah membersihkan properti dan membuang seluruh isinya termasuk tempat pancing itu, sehingga satu-satunya salinan kunci akses kemungkinan besar ikut musnah. Hampir satu dekade lamanya, lebih dari Rp5,7 triliun nilai Bitcoin Collins duduk terkunci tanpa bisa disentuh siapa pun. Europol akhirnya berhasil membobol satu dari 12 dompet tersebut menggunakan metode teknis canggih yang belum dirinci secara publik. Pihak berwenang menyatakan optimis metode yang sama bisa diterapkan ke 11 dompet sisanya. Kasus Collins bukan anomali. Firma analitik Chainalysis memperkirakan sekitar 3,7 juta Bitcoin, atau hampir 20% dari total pasokan yang pernah ditambang, hilang selamanya karena kunci akses yang tidak bisa dipulihkan. Bagi investor yang menyimpan Bitcoin secara mandiri tanpa cadangan yang memadai, risiko ini nyata dan tidak bisa diabaikan.

Akses Berhasil!

Silahkan Download PDF melalui tombol dibawah ini. Kamu juga dapat gabung ke grup discord gratis untuk dapatkan info crypto menarik lainnya!

Pendaftaran Berhasil

Terima kasih telah mendaftar. Link Zoom akan dikirim melalui WhatsApp kamu. Punya pertanyaan? Silahkan chat minsul melalui tombol dibawah ini.