Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan peringatan keras kepada Iran, menyebut Teheran harus segera bersikap serius dalam negosiasi atau menghadapi konsekuensi. Trump mengklaim negosiator Iran secara diam-diam mencari kesepakatan, meski Iran secara terbuka terus menolak adanya pembicaraan langsung dengan Washington.
Ketegangan ini terjadi di tengah dinamika yang semakin kompleks. Melansir Bloomberg dan CNBC, AS telah mengirimkan rencana perdamaian 15 poin kepada Iran melalui perantara Pakistan. Iran menerima dokumen tersebut, namun juru bicara militer Iran tetap menegaskan tidak ada negosiasi yang berlangsung. Trump sebelumnya menunda ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari dengan alasan pembicaraan yang disebutnya “produktif.”
Bagi pasar global, setiap sinyal dari negosiasi ini berdampak langsung ke harga energi dan aset berisiko. Ketika Trump mengumumkan penundaan serangan pekan lalu, harga minyak Brent langsung turun lebih dari 9 persen dalam satu sesi perdagangan, menurut data Bloomberg. Sensitivitas pasar terhadap perkembangan negosiasi ini mencerminkan betapa besar ketergantungan harga energi global pada hasil akhir konflik Iran-AS.
Jika negosiasi gagal dan eskalasi kembali terjadi, pasar bersiap menghadapi guncangan energi berikutnya. Harga minyak Brent yang kembali menembus US$100 per barel akan menambah tekanan inflasi global, mempersulit pemangkasan suku bunga bank sentral, dan menekan aset berisiko termasuk Bitcoin dan Rupiah dalam waktu bersamaan.