Investor asing kembali melancarkan aksi jual besar di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Senin 27 April 2026, dengan total net sell mencapai Rp2,03 triliun, melansir Investor Daily dan Katadata. Yang paling kena lagi-lagi saham bank big caps. BBCA dilepas asing Rp897,54 miliar, BMRI Rp679,17 miliar, dan BBRI Rp200,25 miliar dalam satu hari saja. Kalau ditarik ke pekan lalu (20-24 April), total asing yang membuang ketiga bank big caps ini sudah mencapai Rp5,34 triliun. BBCA bahkan sudah turun 25% sejak awal tahun ke level Rp6.050, titik terendahnya sejak masa pandemi 2021.
Yang menarik, asing tidak menghilang dari pasar Indonesia. Mereka pindah ke saham komoditas. Net buy terbesar terjadi di EMAS Rp92 miliar (perusahaan tambang emas), INCO Rp60 miliar (nikel), dan ARCI Rp51 miliar. Pola ini klasik dalam dunia investasi: ketika ketidakpastian global meningkat, investor pindah dari aset berisiko seperti saham bank ke aset safe haven dan komoditas yang nilainya cenderung naik saat krisis. Emas dan nikel adalah dua komoditas yang harganya selalu menguat ketika dolar AS kuat dan ada tensi geopolitik.
Ada tiga pemicu utama yang membuat asing buru-buru keluar dari bank Indonesia. Pertama, perang Iran-AS yang belum ada tanda-tanda reda, dengan harga minyak Brent masih di kisaran 107 dolar per barel. Kedua, lembaga pemeringkat global Moody’s baru saja memberikan outlook negative untuk Indonesia, sinyal bahwa risiko fiskal makin tinggi. Ketiga, Rupiah dibuka melemah ke Rp17.234 per dolar AS pagi ini, menambah tekanan ke return investasi asing dalam denominasi dolar. Kombinasi tiga hal ini membuat saham bank Indonesia yang sebelumnya jadi favorit asing kini jadi sasaran utama jualan.
Analis Trimegah Sekuritas Jonathan Gunawan menjelaskan dengan analogi yang mudah dipahami: “Bank itu ibarat jantung yang memompa darah ke seluruh sendi-sendi perekonomian. Apabila prospek makro memburuk, saham perbankan yang akan pertama kali terkena imbas. Kalau dilihat, seluruh big banks melemah sejak awal tahun dan disertai net foreign sell yang besar. Jadi, ini tekanan sektoral, bukan spesifik ke BBCA”. Sektor perbankan jadi indikator utama kesehatan ekonomi. Kalau ekonomi tumbuh, kredit lancar, bank untung. Kalau ekonomi tertekan, kredit macet naik, NIM tertekan, dan asing langsung pindah.
Buat Indonesia, aliran modal keluar yang terus-menerus berarti tekanan ke Rupiah, IHSG yang susah pulih, dan iklim investasi yang melambat. Buat kamu sebagai konsumen biasa, dampaknya bisa terasa di dompet. Bank yang kehilangan likuiditas asing biasanya menjadi lebih selektif dalam menyalurkan kredit, dan bunga pinjaman seperti KPR dan cicilan kendaraan berpotensi naik. Buat investor saham, harga bank big caps yang sudah jauh dari puncak bisa jadi peluang akumulasi jangka panjang karena fundamentalnya masih kuat. BBCA misalnya, masih cetak laba bersih Rp14,7 triliun di Q1 2026, naik 4% YoY. Tapi peringatannya: selama Rupiah belum stabil dan perang Iran-AS belum reda, tekanan jual asing kemungkinan belum berhenti.