<
App splash

Baru 2 Hari Damai, Trump Sudah Balik Ancam Hancurkan Iran

Gencatan senjata AS-Iran belum genap 48 jam, tapi Selat Hormuz yang seharusnya jadi bukti kemenangan Trump justru masih nyaris tertutup. Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran belum genap 48 jam, tapi Trump sudah kehilangan kesabaran. Dalam sebuah unggahan di Truth Social, Trump menyatakan Iran melakukan pekerjaan yang sangat buruk dalam membuka Selat Hormuz untuk lalu lintas minyak, dan menegaskan ini bukan bagian dari kesepakatan yang telah disetujui. Kenyataan di lapangan memang jauh dari gambaran yang dijual Trump sebagai kemenangan total. CEO Abu Dhabi National Oil Company Sultan Ahmed Al Jaber menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak benar-benar terbuka, akses masih dibatasi dan dikontrol Iran, dan kapal yang ingin melintas harus meminta izin terlebih dahulu. Sebelum perang, lebih dari 20 juta barel minyak melintas setiap hari. Kini hanya segelintir kapal yang berhasil lewat. Iran Justru Berencana Pungut Tarif di Hormuz Iran bahkan dikabarkan berencana memungut tarif $1 per barel minyak dari setiap kapal yang melintas, dibayar dalam mata uang kripto. Trump langsung memperingatkan Iran untuk segera menghentikan rencana tersebut. Sementara pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menyebut Selat Hormuz akan memasuki “fase baru” dalam negosiasi mendatang, sinyal bahwa Iran tidak berniat menyerahkan kendali penuh atas jalur itu begitu saja. Dampak ke Pasar Energi dan Kripto Bagi pasar energi dan kripto, kebuntuan ini berarti satu hal: ketidakpastian belum selesai. Harga minyak kembali mendekati $100 per barel pada Kamis sore seiring cemasnya investor bahwa aliran energi global belum pulih. Bitcoin ikut tertekan di kisaran $66.500, dengan negosiasi langsung AS-Iran di Pakistan akhir pekan ini menjadi penentu arah pasar berikutnya.

Perang Terbuka! Dua Raksasa Crypto Exchange Saling Bantai di Depan Publik

CZ rilis memoar yang ungkit konflik lama dengan OKX. Star Xu balas dengan sebut CZ pembohong kronis. Taruhannya: $1 miliar. Perseteruan dua raksasa industri kripto meledak kembali ke permukaan. CZ merilis memoar berjudul Freedom of Money yang membahas ulang konfliknya dengan pendiri OKX Star Xu sejak era OKCoin 2014-2015, termasuk tuduhan bahwa Xu pernah melaporkan pendiri Huobi Leon Li ke otoritas China. Xu langsung merespons keras, membantah semua tuduhan dan menyebut CZ sebagai pembohong yang sudah berulang kali menyesatkan publik. Konflik Ini Bermula Lebih dari Satu Dekade Lalu Perseteruan ini bukan baru. Konflik bermula saat CZ bekerja sebagai CTO di OKCoin pada 2014, kemudian hengkang pada 2015 di tengah perselisihan kontrak yang melibatkan investor Bitcoin Roger Ver. OKCoin saat itu menuduh CZ memalsukan dokumen kontrak, tuduhan yang dibantah CZ dan ia klaim buktinya telah dimanipulasi. CZ pergi dan mendirikan Binance pada 2017, yang kemudian tumbuh menjadi bursa kripto terbesar di dunia, melampaui OKX. Taruhan $1 Miliar Star Xu bahkan membawa pertikaian ini ke ranah personal, mempertanyakan apakah kepemilikan saham Binance CZ sudah secara resmi dipisahkan dari mantan istrinya dalam proses perceraian. CZ merespons dengan menyatakan dirinya sudah resmi bercerai dan menantang Star Xu dengan taruhan $1 miliar untuk membuktikan klaimnya secara terbuka. Yang Perlu Diperhatikan Investor Bagi pasar kripto, drama ini bukan sekadar urusan pribadi dua pendiri exchange. Ketika dua platform terbesar di dunia saling serang secara terbuka, kepercayaan pengguna terhadap tata kelola exchange menjadi pertanyaan yang relevan, terutama di tengah kondisi pasar yang sudah tertekan akibat ketidakpastian geopolitik.

Dow Jones Cetak Hari Terbaik dalam Setahun, tapi Pasar Belum Benar-Benar Aman

Gencatan senjata AS-Iran membalikkan berpekan-pekan tekanan pasar dalam hitungan jam. Tapi Hormuz belum terbuka, Trump sudah marah-marah, dan Bitcoin belum kemana-mana. Satu pengumuman gencatan senjata cukup untuk membalikkan berpekan-pekan tekanan pasar dalam hitungan jam. Dow Jones melonjak lebih dari 1.300 poin atau 2,85% pada Rabu, mencatat hari terbaik sejak April 2025, sementara S&P 500 melompat 2,5% dan Nasdaq melonjak 2,8% setelah Trump mengumumkan jeda serangan ke Iran selama dua minggu. Pemicu utamanya bukan hanya gencatan senjata, tapi janji pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama enam minggu menjadi biang keladi krisis energi global. S&P 500 melanjutkan kenaikan pada Kamis dan ditutup di 6.824, berbalik positif untuk pertama kalinya sepanjang 2026, sementara Dow Jones juga akhirnya masuk zona hijau untuk tahun ini. Tapi Ada yang Pasar Belum Lihat Kelegaan ini datang dengan catatan besar. Hormuz belum benar-benar terbuka, Trump sudah marah-marah ke Iran di Truth Social, dan Israel masih membom Lebanon. Saham-saham AI seperti Nvidia, Meta, Tesla, AMD, dan Micron memimpin kenaikan dengan lonjakan antara 4% hingga 10%, sementara saham maskapai penerbangan juga melonjak tajam di atas harapan pasokan bahan bakar jet yang lebih murah. Bitcoin Belum Ikut Pesta Bitcoin belum ikut euforia ini. Harga masih bergerak di kisaran $66.500 karena investor kripto menunggu kepastian yang lebih konkret soal Hormuz dan kelanjutan negosiasi AS-Iran di Pakistan akhir pekan ini. Jika kesepakatan damai terwujud, aset berisiko termasuk Bitcoin berpotensi menyusul reli pasar saham yang sudah lebih dulu bergerak.

Dana Besar Diam-Diam Masuk Kripto, Termasuk Bitcoin & Ethereum

Reli Bitcoin dan Ethereum pasca gencatan senjata bukan sekadar reaksi emosional. Data on-chain bicara lain. Reli Bitcoin dan Ethereum pasca gencatan senjata AS-Iran bukan sekadar reaksi emosional pasar. Data on-chain menunjukkan ada uang baru yang masuk secara terstruktur. Menurut CryptoQuant, reli yang terjadi dalam 24 jam setelah pengumuman gencatan senjata didorong oleh pembukaan posisi long baru, bukan likuidasi paksa dari trader yang bertaruh harga turun. Kenapa Ini Berbeda dari Reli Biasa Perbedaan ini penting untuk dipahami. Reli yang dipicu likuidasi short biasanya cepat habis karena tidak ada pembeli baru yang menopang harga. Sebaliknya, reli yang didorong posisi long baru menunjukkan bahwa investor secara aktif memilih masuk pasar dengan keyakinan harga akan terus naik. Open interest Bitcoin dan Ethereum di pasar futures perpetual masing-masing melonjak lebih dari $2 miliar dalam satu hari, sinyal masuknya modal segar dalam skala besar. Masuk di Tengah Ketakutan Ekstrem Konteksnya relevan: ini terjadi di tengah kondisi pasar yang sebelumnya berada dalam ketakutan ekstrem. Fear and Greed Index sempat menyentuh level terendah dalam berbulan-bulan, dan Bitcoin masih bergerak di kisaran $66.500 sebelum pengumuman gencatan senjata. Masuknya posisi long baru dalam skala lebih dari $2 miliar dalam satu hari menunjukkan bahwa pelaku pasar institusional tidak menunggu kepastian penuh sebelum mulai membangun posisi. Yang Perlu Dicermati Selanjutnya Yang perlu diperhatikan ke depan adalah apakah momentum ini bertahan setelah negosiasi AS-Iran di Pakistan akhir pekan ini. Jika gencatan senjata bertahan dan Selat Hormuz mulai normal kembali, fondasi untuk reli lanjutan sudah mulai terbentuk dari bawah.

Dunia Deal $1,25 Triliun dalam 3 Bulan, Indonesia Dapat Berapa?

Saat korporasi global menandatangani deal senilai $1,25 triliun hanya dalam tiga bulan pertama 2026, satu pertanyaan yang jarang dibahas adalah: berapa porsi yang masuk ke Indonesia? Gelombang Modal Global yang Tidak Merata Total nilai merger dan akuisisi global di kuartal pertama 2026 mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, naik 26% dibanding periode yang sama tahun lalu. Ini bukan sekadar angka. Di baliknya ada perlombaan penguasaan infrastruktur kecerdasan buatan, konsolidasi industri makanan dan konsumen skala raksasa, hingga private equity yang mulai menggelontorkan sekitar $2 triliun modal yang selama ini tertahan di pinggir lapangan. Modal sebesar itu tidak akan tersebar merata. Ia mengalir ke negara dengan kepastian hukum paling kuat, efisiensi regulasi paling tinggi, dan potensi pertumbuhan paling meyakinkan. Indonesia di Tengah Pesta yang Tidak Sepenuhnya Miliknya Kenyataannya, investasi asing langsung ke Indonesia sempat turun 8,9% secara tahunan di kuartal ketiga 2025, penurunan terbesar sejak kuartal pertama 2020, di tengah tekanan tarif Amerika Serikat dan melemahnya daya beli domestik. Ini terjadi justru ketika gelombang modal global sedang berputar dengan kecepatan tertinggi dalam sejarah. Pemerintah sendiri mengakui persaingan dengan negara lain untuk memperebutkan modal semakin ketat. Vietnam menarik lebih banyak pabrik teknologi. India mengunci komitmen investasi dari perusahaan-perusahaan Amerika yang mendiversifikasi rantai pasokan dari China. Malaysia membangun ekosistem data center dengan insentif pajak yang agresif. Modal Dasar yang Kuat, Tapi Belum Cukup Indonesia punya argumen yang kuat di atas kertas: populasi 280 juta jiwa, pertumbuhan ekonomi di atas 5%, posisi strategis di jantung Asia Tenggara, dan kekayaan sumber daya alam yang belum sepenuhnya dioptimalkan. Larangan ekspor nikel yang dimulai 2020 terbukti berhasil menarik investasi smelter asing dalam jumlah besar. Tapi dalam perlombaan berebut modal global yang semakin selektif ini, dasar yang kuat saja tidak cukup. Setiap dolar investasi asing yang tidak masuk ke Indonesia adalah dolar yang masuk ke Vietnam, India, atau Malaysia. Dan ketika sekitar 80% eksekutif M&A global menyatakan berencana meningkatkan aktivitas deal tahun ini, jendela kesempatannya tidak akan terbuka selamanya. Apa Hubungannya dengan Kripto dan Kelas Menengah Indonesia? Bagi investor kripto Indonesia, dinamika ini relevan secara langsung. Semakin besar aliran investasi asing masuk, semakin kuat fondasi ekonomi yang menopang kelas menengah yang menjadi basis utama adopsi kripto di dalam negeri. Rupiah yang stabil, lapangan kerja yang tumbuh, dan daya beli yang meningkat adalah prasyarat untuk adopsi aset digital yang lebih luas. Sebaliknya, ketika investasi asing melambat, tekanan pada rupiah meningkat, daya beli tergerus, dan alokasi ke aset berisiko seperti kripto menjadi prioritas yang lebih mudah dikorbankan. Indonesia tidak kekurangan potensi. Yang dibutuhkan adalah eksekusi yang lebih cepat dari pesaing regionalnya, sebelum gelombang $1,25 triliun ini selesai berputar dan uangnya sudah terkunci di tempat lain.

Israel Serang Lebanon 254 Tewas Jam Setelah Gencatan Senjata, 800 Kapal Masih Terjebak di Teluk Persia

Israel melancarkan serangan udara terbesar sepanjang konflik di Lebanon pada 8 April 2026, menghantam lebih dari 100 pusat komando dan lokasi militer Hezbollah dalam waktu 10 menit, termasuk kawasan padat penduduk di jantung Beirut tanpa peringatan sebelumnya, melansir Bloomberg. Serangan ini dilakukan hanya beberapa jam setelah AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata dua minggu yang sempat disambut lega oleh pasar global dan warga sipil Lebanon yang sudah sebulan lebih hidup di bawah ancaman bom. Kementerian Pertahanan Sipil Lebanon mencatat sedikitnya 254 orang tewas dan lebih dari 1.165 lainnya terluka dalam serangan 8 April tersebut, menjadikannya hari dengan korban jiwa tertinggi sejak konflik ini dimulai, melansir Al Jazeera. Di antara yang tewas terdapat tenaga medis dan warga sipil di kawasan komersial Beirut yang tidak masuk dalam peringatan evakuasi Israel sebelumnya. Konflik ini langsung memunculkan kontradiksi serius dalam perjanjian gencatan senjata. AS dan Israel menyatakan gencatan senjata dengan Iran tidak mencakup operasi militer terhadap Hezbollah di Lebanon. Namun Iran dan Pakistan sebagai mediator menyatakan Lebanon seharusnya masuk dalam perjanjian tersebut, melansir CNN. Wakil Presiden AS JD Vance menyebut hal ini sebagai “kesalahpahaman”, sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan tanggung jawab ada di tangan AS untuk memastikan Israel mematuhi kesepakatan. Ketegangan ini langsung berdampak ke Selat Hormuz. Iran menutup kembali akses kapal komersial setelah serangan Israel di Lebanon, dan hanya tiga kapal yang tercatat melintas pada hari Rabu. Data Marine Traffic menunjukkan 426 tanker minyak, 34 kapal LPG, dan 19 kapal LNG masih tertahan di kawasan tersebut, melansir CNN. Secara keseluruhan lebih dari 800 kapal terjebak di dalam Teluk Persia, sementara dalam kondisi normal sekitar 135 kapal melewati Hormuz setiap harinya, melansir Bloomberg. Bagi pasar global, setiap jam Hormuz tetap tertutup adalah tekanan tambahan terhadap pasokan energi dunia. Brent crude yang sempat anjlok sekitar 13 persen saat gencatan senjata diumumkan kini kembali terancam naik seiring ketidakpastian yang belum mereda. Selama 800 kapal itu belum bergerak, dan selama Lebanon belum masuk dalam perjanjian damai yang diakui semua pihak, gencatan senjata ini lebih menyerupai jeda sementara daripada penyelesaian konflik yang sesungguhnya. Sumber: Bloomberg, CNN, Al Jazeera, Reuters

UEA Peringatkan: Damai Iran Tidak Sah Tanpa Nuklir

9 April 2026 | Geopolitik & Pasar Gencatan senjata dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran yang diumumkan Trump pada Selasa malam belum membuat kawasan Timur Tengah benar-benar tenang. Buktinya, Uni Emirat Arab (UEA) langsung angkat suara sehari setelahnya. Kementerian Luar Negeri UEA meminta pendekatan berkelanjutan untuk mengatasi seluruh ancaman dari Iran, termasuk kemampuan nuklir dan rudal balistiknya, melansir Bloomberg. Bagi UEA, gencatan senjata dua minggu saja tidak cukup. Mereka ingin isu nuklir dan pelucutan rudal Iran masuk ke meja negosiasi, bukan sekadar ditunda. Kenapa UEA Punya Alasan Kuat untuk Khawatir UEA bukan sekadar penonton dalam konflik ini. Sejak perang dimulai pada Februari 2026, lebih dari 40% serangan rudal dan drone Iran diarahkan ke wilayah UEA. Abu Dhabi bahkan pernah mencegat rudal balistik langsung di atasnya, dengan puing jatuh yang menewaskan 2 orang. Dengan rekam jejak seperti itu, wajar jika UEA tidak puas hanya dengan jeda sementara. Tanpa penyelesaian soal nuklir dan rudal, ancaman jangka panjang tetap ada, dan UEA tahu itu lebih dari siapa pun. Selat Hormuz: Belum Benar-benar Terbuka Salah satu tuntutan utama UEA adalah pembukaan penuh Selat Hormuz tanpa syarat. Dan ini bukan permintaan kecil. Selat Hormuz adalah jalur pengiriman sekitar 20% pasokan minyak dunia. Sejak konflik pecah, jalur ini baru dibuka sebagian dan masih dalam koordinasi dengan militer Iran. Artinya, aliran energi global belum kembali normal. Harga minyak Brent saat ini berada di kisaran $94 per barel. Angka ini memang turun dari puncak $112 di masa krisis, tapi masih jauh di atas level $70 sebelum perang dimulai. Selama Hormuz belum sepenuhnya bebas, harga minyak tetap rentan terhadap eskalasi ulang. Gencatan Senjata yang Rapuh Di sisi lain, Iran sendiri sudah mengklaim tiga klausul dari gencatan senjata telah dilanggar. Parlemen Iran menyebut perjanjian ini tidak dijalankan sesuai kesepakatan. Pasar langsung merespons, indeks saham Asia Pasifik turun 0,4% dan futures AS kehilangan momentum setelah sempat melonjak besar pasca pengumuman gencatan. Analis dari BCA Research memperingatkan bahwa konflik bisa kembali memanas sebelum akhir tahun, terutama setelah pemilu sela Amerika Serikat. Negosiasi resmi putaran pertama dijadwalkan berlangsung di Islamabad pada 10 April 2026. Dampak Langsung ke Indonesia Bagi Indonesia, situasi ini bukan sekadar berita luar negeri. Ada dua dampak konkret yang perlu diperhatikan. Pertama, harga BBM. Setiap kenaikan ulang harga minyak global akan langsung menekan anggaran subsidi energi pemerintah dan berpotensi mendorong harga BBM naik di tingkat konsumen. Kedua, nilai tukar Rupiah. Ketidakpastian geopolitik yang belum selesai membuat investor global cenderung menghindari aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti Rupiah. Selama situasi Timur Tengah belum stabil, tekanan terhadap Rupiah akan terus ada. Apa yang Perlu Dipantau Selanjutnya Ada tiga hal yang akan menentukan arah pasar dalam beberapa hari ke depan. Pertama, apakah negosiasi di Islamabad pada 10 April menghasilkan sesuatu yang konkret. Kedua, apakah Selat Hormuz benar-benar dibuka penuh tanpa koordinasi militer Iran. Ketiga, bagaimana respons Iran terhadap tuntutan UEA soal nuklir dan rudal. Jika ketiga hal ini berjalan positif, harga minyak berpeluang turun lebih jauh dan tekanan inflasi global akan berkurang. Ini juga membuka ruang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga, yang secara historis menjadi katalis positif bagi aset berisiko termasuk kripto. Sebaliknya, jika negosiasi gagal dan konflik kembali pecah, pasar akan kembali ke mode defensif.

ISRAEL SERANG LEBANON: 254 TEWAS JAM SETELAH GENCATAN SENJATA!

Dunia baru saja menghela napas lega ketika Amerika Serikat dan Iran mengumumkan gencatan senjata dua minggu pada 8 April 2026. Namun hanya dalam hitungan jam, Israel melancarkan serangan udara terbesar sepanjang perang ke Lebanon, menghantam lebih dari 100 target Hezbollah dalam waktu 10 menit menggunakan 50 jet tempur yang menjatuhkan sekitar 160 bom. Kementerian Pertahanan Sipil Lebanon mencatat sedikitnya 254 orang tewas dan lebih dari 1.165 lainnya luka-luka, menjadikan hari itu sebagai hari paling mematikan dalam konflik Lebanon sejak perang dimulai. Serangan ini mencakup kawasan padat penduduk di jantung Beirut tanpa peringatan sebelumnya, termasuk gedung apartemen, kawasan komersial, dan area di dekat fasilitas kesehatan. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa gencatan senjata AS-Iran tidak mencakup operasi militer Israel terhadap Hezbollah di Lebanon. Trump kemudian mengonfirmasi posisi yang sama, dengan alasan bahwa Lebanon tidak dimasukkan karena keberadaan Hezbollah. Pernyataan ini bertentangan langsung dengan klaim Pakistan selaku mediator dan Iran, yang keduanya menyebut Lebanon seharusnya termasuk dalam kesepakatan. Kebingungan soal cakupan gencatan senjata langsung membawa konsekuensi nyata. Hezbollah, yang semula menahan diri sejak pengumuman gencatan senjata, akhirnya membalas dengan meluncurkan roket ke wilayah utara Israel pada Kamis dini hari, serangan pertama kelompok tersebut sejak perjanjian ditandatangani. Iran merespons dengan menutup kembali Selat Hormuz, yang sebelumnya sempat dibuka sebagai bagian dari syarat gencatan senjata. Harga minyak mentah Brent yang sempat anjlok lebih dari 13 persen pasca-pengumuman gencatan senjata, kini kembali terancam naik tajam. Dampak ke pasar tidak bisa diabaikan. Selat Hormuz yang kembali tertutup berarti sekitar 20 persen pasokan minyak global kembali terhambat, dan tekanan inflasi energi yang sempat mereda bisa berbalik arah dalam waktu singkat. Ketidakpastian ini menjadi beban tambahan bagi aset berisiko termasuk Bitcoin, yang selama konflik ini bergerak sensitif mengikuti setiap eskalasi dan de-eskalasi geopolitik. Lebih dari 1,2 juta warga Lebanon telah mengungsi sejak konflik meluas pada awal Maret, dan korban jiwa di Lebanon kini melampaui 1.600 orang. Wakil Presiden AS JD Vance dijadwalkan memimpin delegasi negosiasi ke Islamabad pada Sabtu ini bersama utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner. Namun dengan Hezbollah sudah membalas tembak, Iran menutup kembali Hormuz, dan Lebanon tetap menjadi zona perang aktif di luar kesepakatan, gencatan senjata yang baru berusia satu hari ini kini berdiri di atas fondasi yang sangat rapuh.

Diam-Diam 4,37 Juta Bitcoin Menghilang dari Pasar

Di tengah tekanan pasar yang masih berlangsung, satu kelompok investor justru bergerak diam-diam menambah kepemilikan Bitcoin mereka. Data CryptoQuant per 7 April 2026 menunjukkan holder jangka panjang Bitcoin, yaitu investor yang menyimpan Bitcoin minimal 155 hari tanpa menjual, kini memegang total 4,37 juta BTC. Angka ini merupakan level tertinggi yang pernah tercatat dalam sejarah jaringan Bitcoin, melansir Cointelegraph.Yang membuat data ini menarik adalah konteksnya. Akumulasi ini terjadi bersamaan dengan harga Bitcoin yang masih bertahan di kisaran 68.000 dolar AS di tengah ketidakpastian geopolitik akibat konflik Iran-AS, tekanan tarif Amerika Serikat, dan sentimen pasar yang masih dalam zona ketakutan. Chart akumulasi CryptoQuant menunjukkan tiga kelompok investor sekaligus, yaitu alamat akumulasi besar, alamat ritel yang akumulasi, dan alamat dengan pola akumulasi, semuanya mencatat tren yang konsisten naik sejak awal 2023.Secara sederhana, Bitcoin yang dipegang holder jangka panjang adalah Bitcoin yang keluar dari sirkulasi aktif pasar. Angka 4,37 juta BTC setara dengan lebih dari 20% dari total seluruh Bitcoin yang akan pernah ada, tersimpan di tangan investor yang memilih untuk tidak menjual meski pasar bergejolak. Semakin banyak Bitcoin yang dikunci oleh kelompok ini, semakin sedikit pasokan yang tersedia untuk diperjualbelikan di bursa, sebuah dinamika yang secara historis pernah mendahului pergerakan harga signifikan di siklus-siklus sebelumnya.Perlu dicatat bahwa data akumulasi bukan sinyal harga secara langsung dan tidak menjamin pola serupa akan terulang. Kondisi makro global 2026 jauh lebih kompleks dibanding siklus sebelumnya, dengan variabel tambahan seperti konflik geopolitik aktif, ketegangan perdagangan global, dan ketidakpastian kebijakan bank sentral yang semuanya berpotensi memengaruhi arah pasar dalam jangka pendek. Yang pasti, dinamika pasokan Bitcoin yang semakin menyempit ini layak dicermati oleh siapapun yang mengikuti pergerakan aset ini secara serius.

UBS dan 6 Bank Swiss Ciptakan Saingan Baru Dolar AS

Enam bank terbesar Swiss resmi meluncurkan uji coba stablecoin yang dipatok ke franc Swiss pada Rabu (8/4/2026). UBS, PostFinance, Raiffeisen, Sygnum, Zürcher Kantonalbank, dan BCV bergabung bersama Swiss Stablecoin AG untuk membangun lingkungan pengujian digital, atau yang disebut sandbox, guna menguji berbagai skenario penggunaan mata uang digital berbasis blockchain ini. Melansir Reuters, saat ini belum ada stablecoin franc Swiss yang diatur secara resmi dan digunakan secara luas di Swiss, menjadikan proyek ini sebagai langkah pertama yang sangat dinantikan pasar. Langkah ini bukan sekadar eksperimen teknis. Franc Swiss adalah salah satu mata uang safe haven paling dicari di dunia, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik yang terus meningkat. Morgan Stanley bahkan menyebut franc Swiss setara emas sebagai aset pelindung nilai, dan mata uang ini sudah menguat lebih dari 12% terhadap dolar AS sepanjang 2025. Dengan masuknya institusi sekelas UBS ke ekosistem stablecoin, proyek ini membawa bobot kredibilitas yang jauh berbeda dibanding inisiatif serupa dari perusahaan crypto biasa.Bagi pasar crypto, munculnya stablecoin non-dolar dari bank-bank tradisional terbesar Swiss memperkuat narasi de-dolarisasi yang semakin menguat di sistem keuangan global. Ini bukan yang pertama. Pada Februari 2026, perusahaan AllUnity sudah lebih dulu meluncurkan stablecoin franc Swiss bernama CHFAU di jaringan Ethereum, yang diatur di bawah pengawasan regulator keuangan Jerman, BaFin. Kini dengan masuknya bank-bank tradisional terbesar Swiss, persaingan stablecoin non-dolar semakin serius dan tidak bisa diabaikan. Dalam konteks yang lebih luas, ini adalah bagian dari gelombang besar stablecoin non-dolar yang sedang terbentuk di seluruh dunia. Di kawasan Timur Tengah, sistem pembayaran di Selat Hormuz sudah mulai menggunakan yuan dan stablecoin sebagai alternatif dolar. Kini Swiss ikut bergerak dengan cara yang lebih terstruktur dan berbasis regulasi. Semakin banyak mata uang kuat dunia yang memiliki representasi digital sendiri, semakin terbuka pertanyaan tentang masa depan dominasi dolar AS di sistem keuangan global. Pengujian dijadwalkan berlangsung sepanjang 2026 dan proyek ini terbuka bagi bank serta institusi lain yang ingin berpartisipasi. Jika berhasil, ini bisa menjadi preseden penting bagi institusi keuangan di seluruh dunia untuk mengembangkan alternatif stablecoin di luar ekosistem dolar AS, dan mempercepat pergeseran struktural yang sudah lama diperbincangkan di pasar keuangan global.

Akses Berhasil!

Silahkan Download PDF melalui tombol dibawah ini. Kamu juga dapat gabung ke grup discord gratis untuk dapatkan info crypto menarik lainnya!

Pendaftaran Berhasil

Terima kasih telah mendaftar. Link Zoom akan dikirim melalui WhatsApp kamu. Punya pertanyaan? Silahkan chat minsul melalui tombol dibawah ini.