AS Bekukan $344 Juta Crypto Iran: Sinyal Bahwa Stablecoin Tidak Sebebas yang Kamu Kira

Departemen Keuangan AS pada Jumat 24 April 2026 mengumumkan pembekuan $344 juta dalam bentuk USDT di dua dompet Tron yang terkait dengan Garda Revolusi Iran (IRGC) dan Hezbollah, melansir CNN, CoinDesk, dan The Block. Menteri Keuangan Scott Bessent menyebut langkah ini bagian dari “Operation Economic Fury”, kampanye sanksi finansial yang berjalan paralel dengan operasi militer “Operation Epic Fury” yang sudah berjalan sejak Februari. Pembekuan ini menjadi yang terbesar terkait Iran sejak perang dimulai dan menandai babak baru dalam perang ekonomi AS terhadap Tehran. Yang menarik, Tether sebagai penerbit USDT bertindak duluan. Sehari sebelum OFAC umumkan sanksi resminya, Tether sudah lebih dulu membekukan dana di dua alamat Tron tersebut atas permintaan langsung otoritas AS. Pernyataan resmi Tether tidak menyebut Iran secara eksplisit, hanya menyebut “aktivitas terkait perilaku ilegal”, melansir Cointelegraph. Baru keesokan harinya OFAC mengumumkan sanksi resmi dan mengonfirmasi keterkaitan dengan IRGC dan Hezbollah. Pola ini menunjukkan koordinasi erat antara stablecoin issuer swasta dan pemerintah AS dalam penegakan sanksi. Skala crypto Iran tidak main-main. Menurut data Chainalysis, dompet-dompet Iran menerima total $7,8 miliar dalam crypto sepanjang 2025, dengan IRGC sendiri memegang sekitar separuhnya, melansir The Block. Crypto sudah lama menjadi alat utama Iran untuk menghindari sanksi yang sudah berlangsung puluhan tahun. Bahkan, sebelum pembekuan ini diumumkan, ada laporan dari Forbes dan Financial Times bahwa Iran berencana memungut Bitcoin sebagai biaya transit kapal yang melewati Selat Hormuz, salah satu titik strategis pengangkutan minyak dunia. Aksi pembekuan AS ini bisa dilihat sebagai langkah langsung untuk menutup celah tersebut. Buat investor crypto, ada pelajaran penting di sini. Selama ini banyak yang percaya stablecoin seperti USDT memberi kebebasan finansial yang tidak bisa diintervensi pemerintah. Aksi ini membuktikan sebaliknya. Tether dan stablecoin terpusat lainnya memiliki kemampuan teknis untuk membekukan token di alamat tertentu, dan mereka akan menggunakannya jika diminta otoritas AS. Bahkan analis dari Atlantic Council, Daniel Tannebaum, menyebut langkah ini “bermakna” meskipun tidak akan secara dramatis mengubah strategi Iran karena negara ini sudah lama beradaptasi dengan sanksi, melansir CNN. Reaksi pasar relatif terkendali. Bitcoin masih bertahan di kisaran $77.700, dengan sentimen yang lebih banyak digerakkan oleh ketegangan di Selat Hormuz dan ketidakpastian kebijakan Fed di bawah calon ketua baru Kevin Warsh. Tapi aksi ini menjadi pengingat penting bahwa narasi “crypto adalah kebebasan finansial mutlak” punya batasannya. Selama konflik geopolitik ini berlanjut, regulasi terhadap crypto akan makin ketat, dan investor harus paham bahwa stablecoin terpusat seperti USDT atau USDC bisa dibekukan kapan saja kalau otoritas mau. Pertanyaannya bukan lagi “apakah crypto akan diregulasi”, tapi “seberapa jauh regulasi itu akan menyentuh dompet kamu”.
Trump Dievakuasi dari Acara Resmi Usai Penembakan, Tegas Lanjut Perang Iran

Presiden AS Donald Trump dievakuasi dari White House Correspondents’ Dinner di Washington Hilton pada Sabtu malam 25 April 2026 setelah terjadi insiden penembakan di area screening venue, melansir Bloomberg, CNN, dan AP. Trump, Ibu Negara Melania, Wakil Presiden JD Vance, serta seluruh anggota Cabinet termasuk Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Menlu Marco Rubio dalam kondisi selamat. Pelaku, pria 30 tahun asal California, sudah dalam tahanan. Sekitar 2.600 tamu di ballroom langsung berlindung di bawah meja saat 5 hingga 8 tembakan terdengar. Satu agen Secret Service dilaporkan terluka tertembak. Yang menarik, beberapa jam setelah evakuasi, Trump langsung memberikan keterangan dari White House dan tegas menyatakan insiden ini tidak akan menghentikan dia memenangkan perang Iran, melansir Bloomberg. Sikap keras ini muncul tepat saat tekanan keamanan terhadap Trump justru meningkat, mengulangi pola yang sudah pernah terjadi sejak percobaan pembunuhan di Butler, Pennsylvania, Juli 2024 dan di Mar-a-Lago, September 2024. Trump juga mengumumkan acara akan dijadwalkan ulang dalam 30 hari. Sikap keras Trump ini bukan terjadi di ruang kosong. Beberapa hari sebelumnya, Trump batal mengirim utusan AS ke Pakistan untuk pembicaraan damai dengan Iran karena tawaran Tehran dinilai “tidak cukup baik”. AS juga baru saja menyita kapal sanksi Iran di Laut Arab sebagai bagian dari blokade militer Selat Hormuz yang masih berjalan. Sebelumnya, Departemen Keuangan AS juga membekukan $344 juta crypto terkait IRGC dan Hezbollah dalam apa yang disebut “Operation Economic Fury”. Semua ini menunjukkan AS justru mempertajam tekanan ekonomi dan militer terhadap Iran, bukan melonggarkannya. Pasar belum sempat bereaksi terhadap insiden penembakan dan pernyataan Trump karena keduanya terjadi di akhir pekan. Tapi Senin pagi waktu Asia, potensi sentimen risk-off cukup besar. Kombinasi insiden keamanan terhadap presiden AS dan sikap keras Trump yang menutup pintu negosiasi dengan Iran biasanya memicu kenaikan dolar AS sebagai safe haven, lonjakan harga Brent crude yang sudah di kisaran $105 per barel, serta tekanan ke aset berisiko seperti Bitcoin (saat ini di $77.700), saham, dan Rupiah yang sudah lemah di Rp17.165 per dolar. Buat investor Indonesia, ini momentum untuk siap-siap menghadapi volatilitas tambahan minggu depan. Dua hal yang perlu dipantau: pernyataan resmi Trump berikutnya soal langkah AS terhadap Iran setelah insiden ini, dan apakah blokade Selat Hormuz akan dieskalasi lebih jauh. Selama konflik geopolitik ini terus memanas dan tidak ada sinyal de-eskalasi, tekanan ke Rupiah dan aset berisiko di Indonesia akan terus berlanjut. Kalau kamu punya posisi terbuka di crypto atau saham, ini saat yang tepat untuk meninjau ulang manajemen risiko kamu sebelum pasar buka Senin pagi.
Trader Anonim Cuan Rp42 Miliar dari APE dalam 1 Hari: Diduga Insider Trading?

Sebuah wallet baru di blockchain berinisial 0x0b8a berhasil mengubah $174 ribu atau sekitar Rp3 miliar menjadi $2,45 juta atau sekitar Rp42 miliar dalam waktu satu hari trading ApeCoin (APE), melansir Bloomberg, AMBCrypto, dan CoinDesk. Total profit yang diraih trader anonim ini mencapai $2,27 juta atau setara return 14x lipat dari modal awalnya. Yang membuat kasus ini heboh dan jadi sorotan komunitas crypto: timing trading-nya terlalu sempurna untuk dianggap sekadar keberuntungan. Berdasarkan analisis on-chain dari Lookonchain dan Onchain Lens, wallet 0x0b8a menjual 75 ETH untuk mendapatkan modal awal $174 ribu. Lalu wallet ini membuka posisi 5x leveraged long di Hyperliquid senilai $1,03 juta dengan entry di kisaran harga APE $0,1047. Saat APE meroket dari $0,10 ke puncak intraday $0,223, wallet ini menutup posisi long dengan profit $1,79 juta. Tidak berhenti di sana, wallet langsung flip short di dekat puncak dan menutup posisi dengan profit tambahan $488 ribu. Naik dan turun, dua-duanya berhasil ditangkap dengan timing yang nyaris mustahil ditebak tanpa informasi privat. Pemicu lonjakan harga APE sebenarnya legitimate. Yuga Labs, perusahaan pencipta koleksi NFT Bored Ape Yacht Club (BAYC), mengumumkan Michael Figge sebagai CEO baru pada 24 April 2026. Pengumuman ini bertepatan dengan ulang tahun BAYC yang kelima, momentum simbolik yang sukses membangkitkan kembali sentimen di komunitas yang sudah lama lesu. Volume trading APE meledak 2.130% ke hampir $300 juta dalam hitungan jam. Harga melonjak dari $0,10 ke puncak intraday $0,223. Pertanyaannya: bagaimana wallet baru yang baru dibuat hari itu bisa tahu menempatkan posisi tepat sebelum pengumuman? Inilah yang bikin para on-chain analyst curiga ada insider trading. Kasus ini bukan yang pertama. Pasar crypto, terutama altcoin dengan kapitalisasi pasar kecil, sangat rentan dimainkan oleh pihak yang punya akses informasi. Saat insider sudah masuk di harga rendah dan keluar di puncak, yang biasanya tertinggal adalah investor retail yang baru masuk karena terbawa hype FOMO. Pola ini berulang terus: muncul kabar bagus, harga naik vertikal, retail masuk di puncak, lalu insider keluar dan harga jatuh. Volume yang tiba-tiba meledak tanpa fundamental yang jelas adalah sinyal warning, bukan undangan untuk ikut masuk. APE sendiri sekarang bertahan di kisaran $0,18, tapi kalau gagal hold support $0,13, yang paling dirugikan adalah trader yang baru masuk di akhir rally. Buat investor retail Indonesia, kasus ini adalah pengingat penting bahwa crypto bukan kasino dan bukan jalan pintas jadi kaya. Trading leverage tanpa informasi yang dimiliki insider bisa membuat modal kamu lenyap dalam hitungan menit. Aturan dasar yang jarang dipakai tapi terbukti efektif: kalau kamu tidak tahu kenapa harga sebuah aset tiba-tiba naik tajam, jangan masuk. Kalau kamu masuk hanya karena lihat orang lain cuan, kamu sedang bertaruh dengan modalmu sendiri sementara whale sudah lebih dulu masuk di harga rendah. Crypto adalah aset volatil yang butuh pemahaman, bukan keberanian buta.
Trump Lolos dari Maut 5 Kali dalam 2 Tahun: Kenapa Dia Masih Hidup?

Insiden penembakan di White House Correspondents’ Dinner pada Sabtu malam 25 April 2026 menjadi yang kelima dalam daftar percobaan pembunuhan dan ancaman serius terhadap Donald Trump dalam waktu kurang dari dua tahun, melansir Axios, AP, dan Wikipedia. Sekitar 2.600 tamu di ballroom Washington Hilton harus berlindung di bawah meja saat 5 hingga 8 tembakan terdengar. Trump, Melania, Wakil Presiden JD Vance, dan seluruh Cabinet selamat. Pelaku, pria 30 tahun asal California, sudah dalam tahanan. Tidak ada presiden AS modern yang menghadapi sebanyak ini ancaman dalam waktu sesingkat ini. Insiden pertama dan paling dekat dengan kematian terjadi pada 13 Juli 2024 di rally kampanye Butler, Pennsylvania. Thomas Crooks (20 tahun) menembakkan delapan peluru dari senapan AR-15 dari atap gedung di dekat panggung. Salah satu peluru menggores telinga kanan Trump. Satu penonton, Corey Comperatore, tewas dan dua lainnya luka kritis. Crooks ditembak mati oleh Secret Service Counter Sniper. Direktur Secret Service Kimberly Cheatle mundur setelah insiden ini, dan publik mempertanyakan banyak kelalaian pengamanan yang seharusnya bisa dicegah. Bulan yang sama dengan Butler, FBI mengungkap plot pembunuhan Trump yang didalangi Garda Revolusi Iran (IRGC). Asif Merchant, warga Pakistan, ditangkap di Houston dan akhirnya dihukum di pengadilan New York pada Maret 2026. Iran diketahui memang berencana balas dendam atas tewasnya Qasem Soleimani tahun 2020. Lalu pada September 2024, Ryan Routh (58 tahun) sembunyi 12 jam di semak-semak Trump International Golf Club di West Palm Beach dengan senapan SKS. Secret Service tembak duluan saat melihat moncong senapan, Routh kabur dan akhirnya ditangkap. Sekarang dia dipenjara seumur hidup. Memasuki masa jabatan kedua, ancaman justru tidak berkurang. Februari 2026, Austin Tucker Martin (21 tahun) menerobos perimeter Mar-a-Lago jam 1:30 pagi dengan shotgun dan gas canister. Trump kebetulan sedang di Washington saat itu. Martin ditembak mati di gerbang utara. Lalu Sabtu malam 25 April 2026, penembakan terjadi di White House Correspondents’ Dinner, satu agen Secret Service terluka tertembak. Beberapa jam setelah evakuasi, Trump tegas menyatakan insiden ini tidak akan menghentikan dia memenangkan perang Iran, melansir Bloomberg. Trump sendiri sempat berkomentar setelah insiden Mar-a-Lago Februari lalu: “Saya tidak tahu berapa lama saya akan ada. Banyak yang mengincar saya. Tapi mereka cuma mengincar presiden yang berdampak, tidak mengincar yang tidak berdampak.” Pola ancaman yang berulang ini menambah dimensi keamanan baru ke setiap kebijakan Trump. Buat investor, ini juga jadi faktor tambahan dalam menilai stabilitas politik AS yang langsung berpengaruh ke pergerakan dolar, harga minyak, dan aset berisiko termasuk Bitcoin dan Rupiah. Selama Trump terus mengambil sikap keras terhadap Iran dan kebijakan-kebijakan kontroversial lainnya, daftar ancaman ini kemungkinan besar akan bertambah panjang.
Iran Ajukan Tawaran Damai Bertahap ke AS: Buka Hormuz Dulu, Nuklir Belakangan

Iran mengajukan proposal damai baru kepada Amerika Serikat melalui mediator Pakistan dengan formula bertahap, yaitu membuka Selat Hormuz dan mengakhiri perang lebih dulu, sementara negosiasi nuklir ditunda ke tahap berikutnya, melansir Axios dan Reuters. Proposal ini dikirim setelah negosiasi di Islamabad pekan lalu mentok karena perbedaan posisi yang lebar antara kedua pihak. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengakui kepada para mediator dari Pakistan, Mesir, Turki, dan Qatar bahwa elite Iran sendiri belum satu suara soal sejauh mana konsesi nuklir yang bisa mereka berikan. Maka mereka memilih jalan bypass: selesaikan dulu isu paling konkret dan mendesak, baru bahas yang paling sensitif. Detail proposal yang dikirim ke Washington terdiri dari dua tahap. Tahap pertama: akhiri perang secara permanen, buka kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas pelayaran komersial, dan AS mencabut blokade angkatan lautnya. Tahap kedua: negosiasi soal program nuklir Iran baru dimulai setelah Hormuz benar-benar terbuka dan blokade dicabut. Pendekatan ini memberi Iran ruang nafas ekonomi karena Hormuz adalah sumber utama devisa minyak negara, sekaligus mengulur waktu untuk membangun konsensus internal soal posisi nuklir. Buat Trump, proposal ini justru jadi dilema. Kalau AS terima, blokade Hormuz harus dicabut dan dengan itu leverage utama untuk memaksa Iran melepas stok uranium yang sudah diperkaya hilang. Padahal menghentikan program nuklir Iran adalah tujuan utama yang membuat Trump masuk ke perang ini. White House sudah merespons dengan nada dingin lewat juru bicara Olivia Wales: “AS pegang kartu dan hanya akan menyetujui deal yang mengutamakan rakyat Amerika, tidak pernah membiarkan Iran punya senjata nuklir”. Sikap ini diperkuat pernyataan Trump pasca insiden penembakan Sabtu malam yang menegaskan dia tidak akan mundur dari perang Iran. Pasar bereaksi keras terhadap stalemate diplomasi ini. Brent crude naik hampir 2 persen ke 107,49 dolar per barel pada perdagangan Senin pagi, tertinggi sejak 7 April. WTI menyusul ke 96,17 dolar per barel. Tekanan ke harga energi datang dari kenyataan bahwa lalu lintas pelayaran di Hormuz masih sangat terbatas dan blokade ganda (Iran menutup, AS memblokade) belum dicabut dari kedua sisi. Ekonom dari Chevron Mike Wirth bahkan memperingatkan bahwa efek penutupan Hormuz akan terasa dalam waktu lama karena rantai pasok dan inventaris global butuh waktu untuk pulih, meskipun selat segera dibuka. Buat Indonesia, ini berarti tekanan ganda yang nyata. APBN 2026 yang dipatok dengan asumsi harga minyak hanya 70 dolar per barel kini harus menanggung selisih lebih dari 35 dolar per barel di setiap impor BBM yang masuk. Rupiah di kisaran Rp17.165 per dolar AS bakal makin tertekan, dan inflasi domestik yang sudah di 4,76 persen YoY (tertinggi tiga tahun) berisiko naik lagi. Trump dijadwalkan memimpin Situation Room meeting hari Senin untuk membahas langkah berikutnya. Yang dipantau pasar: apakah AS akan menerima, menolak, atau memodifikasi proposal Iran. Selama kedua pihak masih saling tunggu siapa yang mengalah duluan, harga energi akan tetap tinggi dan beban ekonomi Indonesia bakal terus berat.
Rupiah Tembus Rp17.300, Rekor Terburuk Sepanjang Masa

Rupiah mencetak sejarah kelam pada perdagangan Kamis pagi (23/4/2026). Untuk pertama kalinya, mata uang Garuda menembus level Rp17.300 per dolar AS, mencatat posisi terlemah sepanjang masa. Berdasarkan data Refinitiv, Rupiah melemah 0,74% ke Rp17.310 pada pukul 09.35 WIB, jauh lebih dalam dari pembukaan di Rp17.210 hanya beberapa menit sebelumnya. Dampaknya langsung terasa di pasar saham. IHSG anjlok 1,10% atau 82,97 poin ke level 7.458, dengan 405 saham melemah dan hanya 248 saham yang menguat. Kapitalisasi pasar turun ke Rp13.333 triliun. Saham-saham konglomerasi Prajogo Pangestu, termasuk BREN dan DSSA, menjadi beban utama setelah pengumuman MSCI yang membekukan rebalancing indeks saham Indonesia. Tekanan ke Rupiah bersumber dari dua arah sekaligus. Dari dalam negeri, Bank Indonesia kembali menahan suku bunga acuan di 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur 21 hingga 22 April 2026. Keputusan ini membuat ruang pemangkasan suku bunga makin sempit, mendorong investor menarik dana dan memilih parkir di aset berbasis dolar AS. Dari luar, blokade Selat Hormuz oleh Iran mendorong harga minyak Brent melonjak 3,5% ke $101,91 per barel, memperkuat indeks dolar ke level tertinggi dalam 12 hari terakhir di 98,59. Pelemahan Rupiah ke level bersejarah ini berdampak berlapis bagi masyarakat Indonesia. Pertama, semua barang impor dari bahan pangan hingga elektronik berpotensi makin mahal seiring daya beli Rupiah yang terus tergerus. Kedua, pemerintah Indonesia menghadapi tekanan fiskal yang tidak ringan. Indonesia harus membayar utang senilai Rp833,96 triliun yang jatuh tempo di 2026, tertinggi dalam satu dekade terakhir. Setiap pelemahan Rupiah langsung membengkakkan nilai pembayaran utang luar negeri yang seluruhnya dihitung dalam dolar AS. Situasi ini belum menunjukkan tanda mereda. Konflik AS dan Iran di Selat Hormuz masih berlangsung di tengah gencatan senjata yang rapuh, sementara negosiasi damai belum menunjukkan kemajuan berarti. Selama tekanan eksternal belum mereda, Rupiah dan pasar keuangan Indonesia akan terus menghadapi ujian berat.
RI Terancam Turun Kelas di Mata Investor Dunia

Bursa Efek Indonesia mencatat rekor sanksi sepanjang kuartal pertama 2026. Sebanyak 845 sanksi dijatuhkan kepada 494 perusahaan tercatat yang melanggar berbagai kewajiban bursa, mulai dari keterlambatan laporan keuangan, kewajiban public expose, hingga pelanggaran ketentuan saham publik. Angka ini mencerminkan masih besarnya tantangan transparansi di pasar modal Indonesia. Pelanggaran yang paling menjadi sorotan adalah kewajiban free float, yaitu porsi saham yang wajib beredar bebas di publik. Sebanyak 267 perusahaan tercatat masih belum memenuhi ketentuan minimal 15% yang ditetapkan BEI. Perusahaan-perusahaan ini masih dikuasai segelintir pihak, dengan saham yang tidak beredar bebas di pasar seperti yang seharusnya. Jika tidak segera dipenuhi dalam batas waktu yang ditetapkan, sanksi berjenjang mulai dari suspensi perdagangan hingga penghapusan dari bursa menanti. Masalah ini tidak berdiri sendiri. MSCI, lembaga penyedia indeks saham global yang dijadikan acuan oleh dana investasi raksasa seperti BlackRock dan Vanguard, sudah membekukan penilaian indeks Indonesia sejak Januari 2026 dan memperpanjangnya hingga Mei 2026. Keputusan ini diambil karena MSCI menilai masalah transparansi free float dan struktur kepemilikan saham di Indonesia belum terselesaikan. Dampaknya langsung terasa. Kapitalisasi pasar BEI tergerus sekitar $120 miliar sejak awal April 2026 akibat arus keluar modal asing yang cukup besar, menurut data Reuters yang dilansir Kontan. Selama ratusan perusahaan masih tidak patuh dan MSCI belum mencabut pembekuannya, kepercayaan investor asing ke pasar modal Indonesia akan sulit pulih. Dana investasi global seperti BlackRock dan Vanguard tidak akan menambah posisi di Indonesia selama indeks masih dibekukan. Indonesia juga berisiko turun kelas dari Emerging Market ke Frontier Market jika reformasi tidak menunjukkan kemajuan berarti sebelum evaluasi MSCI berikutnya di Mei 2026. Dampaknya tidak berhenti di pasar saham. Tanpa aliran dana asing yang masuk, tekanan ke Rupiah makin berat di tengah kondisi yang sudah tertekan ke rekor terlemah Rp17.310 per dolar AS. Dan selama Rupiah terus melemah, harga barang impor dari bahan pangan hingga elektronik berpotensi makin mahal bagi masyarakat Indonesia.
PPN 11% di Jalan Tol: Rencana Pajak Baru di Tengah Rupiah Rp17.165 per Dolar

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan berencana mengenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 11% atas jasa jalan tol, dengan target aturan rampung tahun 2028, melansir Detik Finance. Rencana ini tertuang dalam Rencana Strategis (Renstra) DJP 2025-2029 dan masuk dalam Rancangan Peraturan Menteri Keuangan tentang Perluasan Basis Pajak. Artinya, setiap tarif tol yang dibayar pengguna akan ditambah pajak 11%. Sebagai contoh, tarif Rp10.000 akan menjadi Rp11.100. Kelihatan kecil per transaksi, tapi untuk commuter harian, tambahan biayanya bisa mencapai Rp264.000 per tahun. Rencana ini muncul di tengah kondisi fiskal dan makroekonomi yang berat. Rupiah hari ini diperdagangkan di kisaran Rp17.165 per dolar AS, sementara harga minyak Brent berada di kisaran $95 per barel, melansir Bisnis.com – Berita Terbaru Bisnis, Ekonomi, Investasi Indonesia . APBN 2026 sendiri dipatok dengan asumsi harga minyak hanya $70 per barel. Artinya, subsidi BBM membengkak, dan beban bunga utang pemerintah ikut naik karena sebagian besar obligasi negara dalam denominasi dolar. Di sisi penerimaan, rasio pajak Indonesia masih tergolong rendah dibanding kebutuhan pembangunan. Pemerintah butuh sumber penerimaan baru untuk menjaga keseimbangan fiskal, dan jalan tol masuk dalam daftar perluasan basis pajak. Masalahnya, rencana ini muncul saat daya beli masyarakat sudah tertekan dari berbagai sisi. Inflasi Februari 2026 tercatat 4,76% YoY, tertinggi dalam tiga tahun terakhir menurut BPS. Harga kemasan plastik naik 40-80%, BBM terus naik mengikuti harga minyak global, dan barang-barang impor semakin mahal akibat pelemahan Rupiah. Kelas menengah yang selama ini menjadi pengguna utama jalan tol sudah kena tekanan dari banyak arah. PPN jalan tol akan menambah satu lapis lagi ke beban rumah tangga, sekaligus memperpanjang rantai kenaikan harga karena biaya logistik bagi pengusaha juga ikut naik. Rencana pengenaan PPN atas jasa jalan tol sebenarnya bukan ide baru. Tahun 2015, pemerintah sempat merancang kebijakan serupa melalui PER-1/PJ/2015, namun kemudian ditunda melalui PER-16/PJ/2015 yang ditandatangani Direktur Jenderal Pajak Sigit Priadi Pramudito. Alasan pencabutan saat itu adalah untuk menciptakan pertumbuhan investasi dan menghindari perbedaan pendapat di masyarakat. Sekarang, di tengah tekanan fiskal yang jauh lebih berat dibanding 10 tahun lalu, wacana ini kembali dimunculkan. DJP melalui Direktur Penyuluhan Inge Diana Rismawanti menegaskan rencana ini masih dalam tahap kajian dan belum menjadi ketentuan berlaku. Jika akan diformalkan, prosesnya akan melibatkan kajian mendalam dan koordinasi lintas kementerian, serta mempertimbangkan dampak terhadap masyarakat, dunia usaha, dan sektor transportasi. Target regulasi rampung 2028. Pertanyaan yang tersisa bukan hanya soal berapa beban tambahan yang bakal kamu bayar, tapi juga soal siapa yang ujung-ujungnya menanggung ongkos stabilitas fiskal di tengah Rupiah yang terus tertekan.
Calon Ketua Fed Baru Tolak jadi “Boneka” Trump: Ini Dampaknya ke Rupiah dan Crypto

Kevin Warsh, calon Ketua Federal Reserve pilihan Presiden Donald Trump, menjalani sidang konfirmasi Senat pada Selasa 21 April 2026. Wall Street langsung merespons negatif dengan indeks S&P 500, Dow Jones, dan Nasdaq semua turun 0,6% pada penutupan perdagangan, melansir CNBC dan Investing.com – Stock Market Quotes & Financial News . Pemicunya: Warsh menegaskan The Fed harus tetap independen dari tekanan politik dan menyatakan “inflasi adalah pilihan, dan The Fed harus bertanggung jawab atas itu”, sikap yang dianggap hawkish atau cenderung mempertahankan suku bunga tinggi. Situasinya menarik karena Trump sendiri yang memilih Warsh dengan harapan mantan gubernur Fed itu akan memangkas suku bunga secara agresif untuk mendorong ekonomi AS. Tapi di sidang, Warsh justru mengambil sikap berbeda. Dia tegas menolak menjadi “boneka” Trump dan menekankan bahwa kebijakan moneter harus didasarkan pada data, bukan tekanan politik. “The Fed harus tetap di jalurnya. Independensi Fed paling terancam ketika lembaga ini masuk ke ranah kebijakan fiskal dan sosial,” kata Warsh dalam pidato pembukaannya, melansir CNBC. Reaksi pasar langsung terasa di instrumen suku bunga. Imbal hasil obligasi AS 10 tahun naik 6 basis poin ke 4,311%. Probabilitas skenario zero rate cut sepanjang 2026 kini menjadi skenario dominan di pasar futures, naik tajam dari perkiraan awal tahun yang memprediksi 2-3 kali pemangkasan, melansir Benzinga. CME FedWatch menunjukkan sekitar 60% probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga di level 3,5-3,75% hingga akhir 2026, melansir FXStreet. Buat investor retail di Indonesia, implikasinya langsung terasa di dompet. Dolar AS tetap kuat, Rupiah terus tertekan di kisaran Rp17.165 per dolar, dan aset berisiko seperti crypto dan saham kehilangan salah satu katalis utama yang selama ini diharapkan mendorong harga naik. Pelemahan Rupiah juga berarti biaya impor makin mahal, dari BBM sampai kemasan plastik, yang pada akhirnya diteruskan ke harga barang konsumen. Konfirmasi Warsh sendiri masih menghadapi hambatan. Senator Thom Tillis dari Partai Republik bersumpah akan memblokir nominasi di komite sampai investigasi DOJ terhadap Ketua Fed saat ini, Jerome Powell, dihentikan. Polymarket memprediksi peluang Warsh dikukuhkan 94%, tapi kemungkinan dia duduk sebelum masa jabatan Powell berakhir 15 Mei 2026 hanya 35%. Satu hal yang jelas: era di mana pasar bisa mengandalkan Fed untuk terus memotong suku bunga sepertinya sudah berakhir, setidaknya untuk tahun ini.
Restrukturisasi Utang Whoosh Telah RampungRestrukturisasi Utang Whoosh Telah Rampung

Pemerintah memastikan bahwa proses restrukturisasi utang proyek kereta cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) telah selesai dan saat ini tinggal menunggu pengumuman resmi. Hasil pembahasan juga telah disampaikan kepada pemerintah China sebagai mitra proyek, sementara rincian skema akan diumumkan oleh Menteri Koordinator Infrastruktur dalam waktu dekat. Total biaya proyek tercatat mencapai US$7,2 miliar atau sekitar Rp116 triliun, dengan utang utama sebesar US$5,4 miliar atau sekitar Rp81 triliun. Pembengkakan biaya ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya proses pembebasan lahan yang berjalan lambat serta koordinasi antar instansi yang belum optimal. Dalam kurun waktu dua tahun, pembebasan lahan baru mencapai sekitar 4 kilometer. Selain itu, mitra China sempat mengalami kesulitan dalam menentukan pihak yang memiliki kewenangan utama dalam pengelolaan proyek. Pemerintah menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tidak akan digunakan untuk membayar utang proyek ini. Tanggung jawab pembiayaan dialihkan kepada Danantara sebagai pihak pengelola. Kebijakan ini diambil untuk menjaga agar beban fiskal negara tidak bertambah secara langsung. Ke depan, pengumuman resmi terkait skema restrukturisasi akan segera disampaikan. Sementara itu, operasional Whoosh tetap berjalan di bawah PT KAI dan tidak mengalami gangguan terhadap layanan publik. Dengan selesainya proses restrukturisasi, perhatian selanjutnya tertuju pada efektivitas pengelolaan serta keberlanjutan proyek dalam jangka panjang.Pemerintah memastikan bahwa proses restrukturisasi utang proyek kereta cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) telah selesai dan saat ini tinggal menunggu pengumuman resmi. Hasil pembahasan juga telah disampaikan kepada pemerintah China sebagai mitra proyek, sementara rincian skema akan diumumkan oleh Menteri Koordinator Infrastruktur dalam waktu dekat. Total biaya proyek tercatat mencapai US$7,2 miliar atau sekitar Rp116 triliun, dengan utang utama sebesar US$5,4 miliar atau sekitar Rp81 triliun. Pembengkakan biaya ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya proses pembebasan lahan yang berjalan lambat serta koordinasi antar instansi yang belum optimal. Dalam kurun waktu dua tahun, pembebasan lahan baru mencapai sekitar 4 kilometer. Selain itu, mitra China sempat mengalami kesulitan dalam menentukan pihak yang memiliki kewenangan utama dalam pengelolaan proyek. Pemerintah menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tidak akan digunakan untuk membayar utang proyek ini. Tanggung jawab pembiayaan dialihkan kepada Danantara sebagai pihak pengelola. Kebijakan ini diambil untuk menjaga agar beban fiskal negara tidak bertambah secara langsung. Ke depan, pengumuman resmi terkait skema restrukturisasi akan segera disampaikan. Sementara itu, operasional Whoosh tetap berjalan di bawah PT KAI dan tidak mengalami gangguan terhadap layanan publik. Dengan selesainya proses restrukturisasi, perhatian selanjutnya tertuju pada efektivitas pengelolaan serta keberlanjutan proyek dalam jangka panjang.