Insiden penembakan di White House Correspondents’ Dinner pada Sabtu malam 25 April 2026 menjadi yang kelima dalam daftar percobaan pembunuhan dan ancaman serius terhadap Donald Trump dalam waktu kurang dari dua tahun, melansir Axios, AP, dan Wikipedia. Sekitar 2.600 tamu di ballroom Washington Hilton harus berlindung di bawah meja saat 5 hingga 8 tembakan terdengar. Trump, Melania, Wakil Presiden JD Vance, dan seluruh Cabinet selamat. Pelaku, pria 30 tahun asal California, sudah dalam tahanan. Tidak ada presiden AS modern yang menghadapi sebanyak ini ancaman dalam waktu sesingkat ini.
Insiden pertama dan paling dekat dengan kematian terjadi pada 13 Juli 2024 di rally kampanye Butler, Pennsylvania. Thomas Crooks (20 tahun) menembakkan delapan peluru dari senapan AR-15 dari atap gedung di dekat panggung. Salah satu peluru menggores telinga kanan Trump. Satu penonton, Corey Comperatore, tewas dan dua lainnya luka kritis. Crooks ditembak mati oleh Secret Service Counter Sniper. Direktur Secret Service Kimberly Cheatle mundur setelah insiden ini, dan publik mempertanyakan banyak kelalaian pengamanan yang seharusnya bisa dicegah.
Bulan yang sama dengan Butler, FBI mengungkap plot pembunuhan Trump yang didalangi Garda Revolusi Iran (IRGC). Asif Merchant, warga Pakistan, ditangkap di Houston dan akhirnya dihukum di pengadilan New York pada Maret 2026. Iran diketahui memang berencana balas dendam atas tewasnya Qasem Soleimani tahun 2020. Lalu pada September 2024, Ryan Routh (58 tahun) sembunyi 12 jam di semak-semak Trump International Golf Club di West Palm Beach dengan senapan SKS. Secret Service tembak duluan saat melihat moncong senapan, Routh kabur dan akhirnya ditangkap. Sekarang dia dipenjara seumur hidup.
Memasuki masa jabatan kedua, ancaman justru tidak berkurang. Februari 2026, Austin Tucker Martin (21 tahun) menerobos perimeter Mar-a-Lago jam 1:30 pagi dengan shotgun dan gas canister. Trump kebetulan sedang di Washington saat itu. Martin ditembak mati di gerbang utara. Lalu Sabtu malam 25 April 2026, penembakan terjadi di White House Correspondents’ Dinner, satu agen Secret Service terluka tertembak. Beberapa jam setelah evakuasi, Trump tegas menyatakan insiden ini tidak akan menghentikan dia memenangkan perang Iran, melansir Bloomberg.
Trump sendiri sempat berkomentar setelah insiden Mar-a-Lago Februari lalu: “Saya tidak tahu berapa lama saya akan ada. Banyak yang mengincar saya. Tapi mereka cuma mengincar presiden yang berdampak, tidak mengincar yang tidak berdampak.” Pola ancaman yang berulang ini menambah dimensi keamanan baru ke setiap kebijakan Trump. Buat investor, ini juga jadi faktor tambahan dalam menilai stabilitas politik AS yang langsung berpengaruh ke pergerakan dolar, harga minyak, dan aset berisiko termasuk Bitcoin dan Rupiah. Selama Trump terus mengambil sikap keras terhadap Iran dan kebijakan-kebijakan kontroversial lainnya, daftar ancaman ini kemungkinan besar akan bertambah panjang.