Rupiah mencetak sejarah kelam pada perdagangan Kamis pagi (23/4/2026). Untuk pertama kalinya, mata uang Garuda menembus level Rp17.300 per dolar AS, mencatat posisi terlemah sepanjang masa. Berdasarkan data Refinitiv, Rupiah melemah 0,74% ke Rp17.310 pada pukul 09.35 WIB, jauh lebih dalam dari pembukaan di Rp17.210 hanya beberapa menit sebelumnya.
Dampaknya langsung terasa di pasar saham. IHSG anjlok 1,10% atau 82,97 poin ke level 7.458, dengan 405 saham melemah dan hanya 248 saham yang menguat. Kapitalisasi pasar turun ke Rp13.333 triliun. Saham-saham konglomerasi Prajogo Pangestu, termasuk BREN dan DSSA, menjadi beban utama setelah pengumuman MSCI yang membekukan rebalancing indeks saham Indonesia.
Tekanan ke Rupiah bersumber dari dua arah sekaligus. Dari dalam negeri, Bank Indonesia kembali menahan suku bunga acuan di 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur 21 hingga 22 April 2026. Keputusan ini membuat ruang pemangkasan suku bunga makin sempit, mendorong investor menarik dana dan memilih parkir di aset berbasis dolar AS. Dari luar, blokade Selat Hormuz oleh Iran mendorong harga minyak Brent melonjak 3,5% ke $101,91 per barel, memperkuat indeks dolar ke level tertinggi dalam 12 hari terakhir di 98,59.
Pelemahan Rupiah ke level bersejarah ini berdampak berlapis bagi masyarakat Indonesia. Pertama, semua barang impor dari bahan pangan hingga elektronik berpotensi makin mahal seiring daya beli Rupiah yang terus tergerus. Kedua, pemerintah Indonesia menghadapi tekanan fiskal yang tidak ringan. Indonesia harus membayar utang senilai Rp833,96 triliun yang jatuh tempo di 2026, tertinggi dalam satu dekade terakhir. Setiap pelemahan Rupiah langsung membengkakkan nilai pembayaran utang luar negeri yang seluruhnya dihitung dalam dolar AS.
Situasi ini belum menunjukkan tanda mereda. Konflik AS dan Iran di Selat Hormuz masih berlangsung di tengah gencatan senjata yang rapuh, sementara negosiasi damai belum menunjukkan kemajuan berarti. Selama tekanan eksternal belum mereda, Rupiah dan pasar keuangan Indonesia akan terus menghadapi ujian berat.