China Buang Dolar, Borong Emas 16 Bulan Berturut-turut: Apa Artinya untuk Kamu?

Selama 16 bulan tanpa jeda, Bank Sentral China menambah cadangan emasnya setiap bulan tanpa terkecuali. Per Februari 2026, total kepemilikan emas China menyentuh 2.309 ton senilai lebih dari $390 miliar, setara 10 persen dari seluruh cadangan devisa negara tersebut.Langkah ini bukan spekulasi jangka pendek. Setelah AS membekukan cadangan devisa Rusia senilai ratusan miliar dolar pada 2022, banyak bank sentral di dunia mulai mempertanyakan keamanan menyimpan kekayaan dalam bentuk obligasi dolar. China mengambil kesimpulan yang sama: emas tidak bisa dibekukan, tidak bisa disanksi, dan tidak bergantung pada sistem keuangan manapun.Dampaknya mulai terasa luas. Harga emas menembus $5.000 per troy ounce pada awal 2026, level tertinggi dalam beberapa dekade. Sementara itu, dolar AS melemah ke titik terendah dalam empat tahun terakhir di tengah ketidakpastian kebijakan ekonomi Amerika Serikat. ETF emas di China mencatat arus masuk dana terkuat dalam sejarah pada Januari 2026, mencapai $6,2 miliar hanya dalam satu bulan.Bagi pasar kripto, rotasi ini punya makna tersendiri. Analis JPMorgan mencatat bahwa tren de-dolarisasi China sejak 2017 kerap bersamaan dengan penguatan emas, dan semakin sering dikaitkan dengan Bitcoin. Ketika kepercayaan terhadap aset berbasis negara melemah, aset yang tidak dikendalikan pihak manapun mulai masuk dalam percakapan cadangan global. Bitcoin, dengan pasokan tetap 21 juta koin, semakin sering disebut dalam konteks ini.Pertanyaan yang relevan buat kamu sebagai investor: jika bank sentral terbesar di dunia saja aktif mendiversifikasi jauh dari dolar, aset apa yang kamu pegang sebagai lindung nilai hari ini?Sumber: World Gold Council, CNN, Yahoo Finance
Saudi Aramco Naikkan Harga Minyak ke Asia Tertinggi Sepanjang Sejarah, Indonesia Langsung Terdampak

Saudi Aramco baru saja menetapkan harga minyak ke Asia pada level yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah. Perusahaan minyak milik negara Arab Saudi itu menaikkan harga minyak mentah Arab Light untuk pengiriman Mei ke premi 19,50 dolar AS per barel di atas tolok ukur regional untuk pembeli Asia, berdasarkan data harga yang dilihat Bloomberg. Angka ini dua kali lipat lebih tinggi dari rekor sebelumnya sekitar 9,50 dolar AS yang tercatat saat krisis energi 2022, dan merupakan yang tertinggi yang pernah tercatat dalam sejarah penetapan harga minyak Saudi untuk kawasan Asia. Kenaikan ini bukan keputusan bisnis biasa. Ini adalah cerminan langsung dari krisis Selat Hormuz yang kini memasuki minggu kelima. Penutupan efektif selat tersebut oleh Iran memaksa Saudi Aramco mengalihkan seluruh ekspornya melalui jalur pipa menuju Laut Merah, yang kini sudah beroperasi di kapasitas penuh 7 juta barel per hari, mengekspor sekitar 5 juta barel per hari atau 70 persen dari total pengiriman sebelum perang. Dengan jalur alternatif yang sudah tidak bisa diperluas lagi dan permintaan Asia yang tidak surut, Aramco berada di posisi tawar yang belum pernah sekuat ini. Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab adalah satu-satunya produsen Teluk dengan jalur ekspor yang menghindari Hormuz, menjadikan keduanya pemegang kendali pasokan minyak Asia di tengah krisis ini. Bagi Indonesia, angka 19,50 dolar AS ini bukan sekadar statistik energi global. Indonesia mengimpor sebagian besar kebutuhan minyaknya, dan kenaikan premi ini berarti setiap barel yang masuk ke kilang Pertamina kini jauh lebih mahal dari sebelumnya. Tekanan ini datang di saat yang paling tidak menguntungkan: Rupiah sudah tertekan akibat penguatan dolar karena permintaan safe haven global, sementara pemerintah masih menanggung beban subsidi BBM yang membengkak sejak harga minyak global melonjak lebih dari 50 persen sejak perang Iran meletus 28 Februari lalu. Kombinasi keduanya adalah tekanan ganda terhadap anggaran negara yang sulit dihindari. Harga minyak Brent saat ini diperdagangkan di kisaran 109 dolar AS per barel, dengan WTI di 112 dolar AS. OPEC sudah memperingatkan bahwa kerusakan pada infrastruktur energi akibat perang ini akan berdampak berkepanjangan bahkan setelah konflik berakhir. Artinya, kenaikan harga ini bukan anomali sementara. Jika situasi Selat Hormuz tidak segera mereda, tekanan harga energi ke negara-negara importir seperti Indonesia akan terus bertambah berat, menekan anggaran negara, daya beli masyarakat, dan stabilitas nilai tukar secara bersamaan dalam beberapa bulan ke depan.
AS Pakai Data Salah untuk Ancam Tarif, Indonesia Masuk Daftar

Amerika Serikat menghapus data perdagangan yang keliru soal Singapura, setelah terbukti angka yang dipakai sebagai dasar investigasi tarif tidak akurat. Sebelumnya, kantor Perwakilan Dagang AS menyebut Singapura punya surplus perdagangan sebesar 27 miliar dolar AS dengan Amerika di tahun 2024. Singapura langsung membantah dengan mengacu pada data Biro Analisis Ekonomi AS sendiri, yang justru menunjukkan Singapura mencatat defisit sekitar 27 miliar dolar AS di periode yang sama. AS akhirnya menghapus angka tersebut setelah bantahan resmi Singapura. Yang perlu dicermati: data yang sama ini dipakai AS untuk melancarkan investigasi tarif ke 16 negara sekaligus, termasuk Indonesia. Investigasi ini bisa berujung pada pengenaan tarif baru yang berdampak langsung ke ekspor dan nilai tukar Rupiah. Jika data yang jadi dasar investigasi terbukti keliru, legitimasi seluruh program tarif ini bisa dipertanyakan. Dan itu berpotensi menggoyang sentimen pasar global, termasuk kripto.
Negosiator Pesimis, AS Siap Serang: Dunia Menunggu Malam Paling Kritis Perang Iran

Wall Street Journal melaporkan para negosiator yang terlibat langsung dalam pembicaraan damai AS-Iran menyatakan pesimis Teheran akan memenuhi tuntutan Presiden Trump untuk membuka kembali Selat Hormuz sebelum tenggat malam ini. Kondisi ini, menurut WSJ, sedang “membuka jalan” bagi Amerika Serikat untuk melancarkan serangan ke pembangkit listrik dan jembatan Iran dalam eskalasi terbesar sejak perang meletus 28 Februari lalu. Waktu yang tersisa kurang dari 21 jam. Iran sejauh ini menolak dua proposal perdamaian sekaligus: kerangka gencatan senjata 45 hari yang dimediasi Pakistan dan proposal 15 poin AS. Sebagai gantinya, Teheran mengajukan 10 tuntutan sendiri yang mencakup jaminan penghentian perang permanen di seluruh kawasan, protokol pembukaan Selat Hormuz, komitmen rekonstruksi, serta pencabutan sanksi. Sumber yang mengetahui detail negosiasi menyebut kesenjangan posisi kedua pihak “masih sangat signifikan.” Trump menyebut tawaran balik Iran “signifikan tapi belum cukup,” dan Gedung Putih menegaskan tenggat waktu bersifat final dengan rencana serangan yang sudah siap dieksekusi. Di luar meja perundingan, situasi di lapangan terus memburuk. Iran menyerang fasilitas energi dan desalinasi air di Kuwait dan Bahrain akhir pekan lalu, sementara penasihat pemimpin tertinggi Iran baru memperingatkan kemungkinan penutupan Selat Bab al-Mandab di Laut Merah sebagai langkah eskalasi berikutnya. Badan energi atom internasional IAEA menambah tekanan dengan memperingatkan bahwa aktivitas militer di sekitar pembangkit nuklir Bushehr berpotensi memicu kecelakaan radiologis parah yang dampaknya bisa melampaui batas wilayah Iran. Harga minyak mencerminkan ketegangan ini. Brent diperdagangkan di kisaran 109,87 dolar AS per barel dan WTI di 112,54 dolar AS per barel hari ini, atau naik hampir 57 persen sejak perang meletus. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur pengiriman sekitar 20 persen minyak dunia, masih 95 persen di bawah level sebelum konflik. Analis memperingatkan bahwa serangan ke infrastruktur Iran malam ini berpotensi mendorong harga energi ke level yang belum pernah terjadi dalam beberapa dekade, dengan dampak langsung ke biaya BBM, inflasi, dan tekanan terhadap mata uang negara-negara importir energi termasuk Indonesia. Dalam hitungan jam, pasar global akan mengetahui apakah ini menjadi malam eskalasi terbesar dalam krisis energi yang sudah mengguncang dunia selama lebih dari sebulan, atau perpanjangan deadline kelima yang kembali menunda konfrontasi langsung antara dua kekuatan militer terbesar di kawasan. Sumber: Wall Street Journal, CBS News, CNN, IAEA
Meta dan Google Kalah di Pengadilan: Era Kebal Hukum Raksasa Teknologi Mulai Runtuh

Juri di Los Angeles memutuskan Meta dan YouTube (milik Google) bersalah atas desain platform yang bersifat adiktif dan berkontribusi pada gangguan kesehatan mental seorang perempuan muda, dengan total ganti rugi US$6 juta. Beberapa hari sebelumnya, juri di New Mexico memerintahkan Meta membayar US$375 juta karena gagal melindungi pengguna muda dari predator anak. Ini pertama kalinya dalam sejarah perlindungan hukum selama 30 tahun berhasil ditembus di pengadilan. Kedua putusan ini menghindari Section 230, undang-undang tahun 1996 yang selama tiga dekade membebaskan platform teknologi dari tanggung jawab hukum atas konten pengguna. Strategi pengacara penggugat bukan menyerang kontennya, melainkan cara platform itu dirancang. Fitur seperti infinite scroll, notifikasi tanpa henti, autoplay video, dan filter kecantikan disebut setara dengan “kasino digital” yang terlalu sulit ditolak pengguna muda. Melansir CNBC, profesor hukum Eric Goldman dari Santa Clara University menyebut para pengacara penggugat sedang memenangkan perang terhadap Section 230 melalui litigasi yang sistematis dan tanpa henti. Skala ancamannya jauh lebih besar dari dua kasus ini. Melansir NPR, lembaga pemeringkat Moody’s mencatat lebih dari 4.000 kasus serupa yang menunggu giliran di pengadilan, menargetkan 166 perusahaan dengan tuduhan desain perangkat lunak yang bersifat adiktif. Sekitar 2.400 kasus telah disentralisasi di satu pengadilan federal di California. Meta dan Google akan mengajukan banding, dan hampir pasti banding tersebut akan berpusat pada Section 230. Sejumlah ahli hukum memperkirakan Mahkamah Agung AS pada akhirnya akan mengambil keputusan soal batas perlindungan ini. Bagi investor, ini bukan sekadar kasus hukum. Meta dan Alphabet (induk Google) menyumbang lebih dari US$3 triliun kapitalisasi pasar di S&P 500. Jika gelombang tuntutan ini berhasil memaksa perubahan model bisnis, mulai dari moderasi konten yang jauh lebih ketat hingga pembatasan fitur algoritmik, pendapatan iklan kedua perusahaan akan tertekan langsung. Koreksi saham teknologi besar selalu berdampak ke sentimen risiko global, termasuk pasar kripto. Dengan Bitcoin di kisaran US$66.500 hingga US$67.800 dan arus dana institusional yang sudah melemah tajam, tekanan tambahan dari sektor teknologi bisa memperburuk kondisi pasar. Selama 30 tahun, Section 230 menjadi fondasi yang membesarkan industri media sosial. Kini dua putusan juri menunjukkan fondasi itu bisa runtuh, dan lebih dari 4.000 kasus lain sudah menunggu giliran.
JPMorgan: Dana Masuk Kripto Q1 2026 Anjlok ke $11 Miliar, Sepertiga dari Tahun Lalu

Di awal tahun, JPMorgan memperkirakan arus dana ke pasar aset digital akan melampaui rekor US$130 miliar yang tercatat sepanjang 2025. Kenyataannya jauh dari ekspektasi. Laporan terbaru tim analis JPMorgan yang dipimpin Nikolaos Panigirtzoglou mencatat total arus dana ke aset digital hanya sekitar US$11 miliar pada kuartal pertama 2026, atau sepertiga dari periode yang sama tahun lalu. Jika laju ini berlanjut, total tahunan hanya akan mencapai sekitar US$44 miliar. Yang lebih mengkhawatirkan, sebagian besar dari angka US$11 miliar itu bukan datang dari investor baru. Arus dana investor, baik ritel maupun institusional, tercatat kecil atau bahkan negatif sejak awal tahun. Mayoritas dana yang masuk berasal dari pembelian Bitcoin oleh Strategy (sebelumnya MicroStrategy) dan pendanaan modal ventura crypto yang terkonsentrasi di segelintir proyek. Artinya, tanpa pembelian agresif satu perusahaan, gambaran arus dana Q1 akan jauh lebih suram. Dari sisi futures, positioning di CME melemah signifikan dibanding 2024 dan 2025, mengindikasikan permintaan institusional melalui kontrak berjangka sudah berbalik negatif. ETF Bitcoin dan Ethereum juga mencatat arus keluar di Januari, meskipun ETF Bitcoin mulai pulih dengan arus masuk di Maret. Sementara itu, perusahaan mining Bitcoin yang tercatat di bursa justru menjadi penjual bersih, dengan sebagian mengalihkan daya komputasi mereka ke bisnis kecerdasan buatan. Konteks makro memperburuk situasi. Perang Iran yang berlangsung sejak akhir Februari menekan selera risiko global, sementara ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed terus mundur. Kombinasi ini membuat investor institusional yang sebelumnya diharapkan memimpin arus dana 2026 justru menahan diri. Bitcoin saat ini bergerak di kisaran US$66.500 hingga US$67.800, sementara harga minyak Brent bertahan di atas US$112 per barel. Bagi investor crypto, data ini menjadi pengingat bahwa momentum pasar tidak bisa bergantung pada satu pembeli besar. Jika arus dana institusional tidak pulih dalam beberapa bulan ke depan, tekanan terhadap harga aset digital kemungkinan akan berlanjut. JPMorgan sendiri menyebut hanya pemulihan kondisi makroekonomi atau pergeseran selera risiko global yang bisa membalikkan tren ini.
Iran Klaim Serang Kapal Terkait Israel di Selat Hormuz, Jalur 20% Minyak Dunia Makin Berbahaya

Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang dan menghentikan paksa sebuah kapal yang disebut terkait Israel di Selat Hormuz menggunakan drone. Kapal tersebut dilaporkan terbakar setelah serangan. Klaim ini belum dikonfirmasi oleh sumber independen atau pihak Israel, namun jika terbukti benar, ini menambah daftar serangan yang semakin panjang di jalur laut paling vital untuk perdagangan energi global.Sejak perang dimulai 28 Februari lalu, Iran telah melancarkan lebih dari 21 serangan terkonfirmasi terhadap kapal dagang di Selat Hormuz. IRGC secara resmi melarang seluruh kapal yang menuju atau dari pelabuhan AS, Israel, dan sekutu mereka melewati selat ini. Pejabat senior IRGC bahkan mengancam akan membakar kapal manapun yang mencoba melintas tanpa izin Iran. Hanya kapal berbendera China, India, Turki, dan sejumlah negara yang dianggap “bersahabat” yang diizinkan melewati selat dengan koordinasi khusus.Dampaknya terhadap pasokan energi global sudah sangat nyata. Lalu lintas tanker di Selat Hormuz anjlok dari rata-rata 120 kapal per hari sebelum perang menjadi kurang dari 10. Sekitar 20% konsumsi minyak dunia biasanya melewati selat ini setiap hari. Penutupan efektif ini telah disebut sebagai gangguan terbesar terhadap pasokan energi global sejak krisis minyak tahun 1970-an. Badan Energi Internasional (IEA) bahkan telah melepas cadangan darurat sebesar 400 juta barel minyak mentah untuk menstabilkan pasokan, langkah terbesar dalam sejarah lembaga tersebut.Harga minyak Brent melonjak dari sekitar US70 per barel sebelum perang ke atas US110 saat ini, kenaikan lebih dari 55% hanya dalam lima minggu. Setiap serangan baru terhadap kapal di selat ini memperkecil peluang normalisasi jalur perdagangan dan memperbesar tekanan inflasi global. Presiden The Fed Chicago, Austan Goolsbee, menyatakan perang Iran berisiko memicu inflasi yang akan mempersulit bank sentral AS untuk memangkas suku bunga di 2026.Bagi pasar kripto, rantai dampaknya langsung. Harga energi yang terus naik mendorong inflasi, menjauhkan pemangkasan suku bunga, dan menekan aset berisiko. Bitcoin masih bergerak di kisaran US66.500 hingga US67.800, sementara arus dana institusional ke kripto sudah anjlok ke US$11 miliar di Q1 2026 menurut data JPMorgan. Selama Selat Hormuz tetap menjadi zona perang, tekanan terhadap pasar global kemungkinan akan terus berlanjut.
BITCOIN AKAN TURUN KE $50.000? POLA 10 TAHUN INI JAWABNYA

Selama satu dekade, Bitcoin tidak pernah keluar dari satu pola yang sama. Setiap empat tahun, siklus yang identik berulang: akumulasi di harga rendah, kenaikan tajam yang menarik perhatian dunia, distribusi di puncak, lalu koreksi panjang selama kurang lebih satu tahun. Joao Wedson, pendiri dan CEO platform analitik Alphractal, memetakan pola ini dalam chart yang kini viral di kalangan trader global dan memunculkan satu pertanyaan besar: apakah Bitcoin sedang menuju dasar siklus berikutnya?Berdasarkan analisis fraktal tersebut, Wedson memproyeksikan Bitcoin akan menyentuh titik bottom berikutnya di awal Oktober 2026, dengan target harga di kisaran $41.500 hingga $45.000. Jika proyeksi ini akurat, itu berarti koreksi lebih dari 50 persen dari level harga saat ini. Angka yang berat, tapi konsisten dengan apa yang terjadi di dua siklus bear market sebelumnya: penurunan 84 persen di 2018 dan 77 persen di 2022.Yang membuat analisis ini mendapat perhatian luas adalah rekam jejaknya. Pola yang sama berhasil memetakan puncak dan dasar siklus sebelumnya dengan presisi yang tidak biasa. Wedson sendiri memberi catatan penting: pasar tidak berulang persis sama, tapi berirama dengan frekuensi yang tidak nyaman. Chart ini bukan prediksi, melainkan cermin dari bagaimana perilaku investor, rasa takut, dan keserakahan berulang dalam ritme yang hampir tidak berubah sejak Bitcoin pertama kali diperdagangkan.Tentu, sejumlah analis berbeda pendapat. Arus masuk ETF Bitcoin spot yang kini dipegang institusi keuangan terbesar dunia, akumulasi korporasi seperti Strategy milik Michael Saylor yang telah mengumpulkan lebih dari 761.000 Bitcoin, serta likuiditas global yang belum sepenuhnya surut dianggap sebagai faktor yang bisa mengubah dinamika pasar secara struktural. Pasar Bitcoin hari ini memang berbeda dari 2018 atau 2022, dan sebagian analis meyakini faktor-faktor baru ini bisa menopang harga serta memutus pola lama.Yang jelas, chart ini bukan sekadar teori akademis. Ia adalah rekaman nyata dari bagaimana siklus pasar bekerja selama satu dekade terakhir. Apakah Oktober 2026 akan menjadi titik akumulasi terbaik berikutnya, atau faktor-faktor baru akan mengubah segalanya, itulah pertanyaan yang kini sedang dijawab oleh pasar secara langsung.
Saylor Sebut Siklus 4 Tahun Bitcoin “Sudah Mati,” Era Baru Dimulai

Michael Saylor, Chairman Strategy dan pemegang Bitcoin korporasi terbesar dunia, menyatakan siklus empat tahun Bitcoin “sudah mati.” Dalam posting di X pada Sabtu (4 April 2026), Saylor menulis: Bitcoin sudah menang, konsensus global mengakuinya sebagai modal digital, dan harga kini digerakkan oleh arus modal, bukan halving. Pernyataan ini menandai pergeseran narasi yang fundamental. Selama lebih dari satu dekade, trader dan investor crypto mengandalkan pola empat tahunan: halving mengurangi pasokan baru Bitcoin, harga rally 12-18 bulan kemudian, lalu koreksi tajam sebelum siklus berikutnya dimulai. Pola ini bekerja pada 2012, 2016, dan 2020. Namun siklus pasca-halving 2024 tidak mengikuti skrip yang sama. Bitcoin yang seharusnya dalam fase rally justru tertekan di US$67.274, dihantam oleh perang Iran, pengetatan likuiditas global, dan ketidakpastian geopolitik. Saylor berargumen bahwa faktor penggerak harga telah bergeser secara permanen. Bank dan kredit digital, bukan kelangkaan dari halving, yang akan menentukan lintasan pertumbuhan Bitcoin ke depan. Beberapa data mendukung tesisnya. JPMorgan kini menerima Bitcoin sebagai jaminan pinjaman setara emas dan obligasi. Fannie Mae menerima Bitcoin sebagai jaminan KPR pertama kali dalam sejarah AS. ETF Bitcoin spot menarik miliaran dolar arus dana institusional. Dan Kongres AS sedang meloloskan larangan CBDC yang secara eksplisit mengecualikan stablecoin swasta, memperkuat posisi crypto dalam sistem keuangan. Saylor sendiri berbicara dari posisi yang tidak bisa diabaikan. Strategy membeli 89.599 BTC sepanjang kuartal pertama 2026, membawa total kepemilikan perusahaan mendekati 761.000 BTC, sekitar 76% dari seluruh Bitcoin yang dipegang korporasi di dunia. Ia bukan sekadar berkomentar tentang pasar, ia adalah pasar itu sendiri. Namun Saylor juga memperingatkan bahwa risiko terbesar Bitcoin bukan dari regulasi atau kompetisi eksternal, melainkan dari “ide buruk yang mendorong perubahan protokol yang merusak dari dalam.” Bagi investor, implikasi dari tesis Saylor cukup besar. Jika siklus empat tahun memang sudah mati, maka strategi “beli setelah halving, jual di puncak siklus” yang selama ini menjadi pedoman tidak lagi relevan. Sebagai gantinya, investor perlu memantau arus dana ETF, kebijakan bank sentral, integrasi perbankan, dan kondisi likuiditas global sebagai indikator utama. Apakah tesis ini benar atau tidak, satu hal yang pasti: Bitcoin pada 2026 adalah aset yang sangat berbeda dari Bitcoin pada 2020.
Perang Darat Dimulai: Jet F-15 AS Ditembak Jatuh, Pasukan Khusus Bertempur di Dalam Iran

Perang Iran memasuki fase paling berbahaya sejak dimulai. Sebuah jet tempur F-15E Strike Eagle AS ditembak jatuh di atas Iran barat daya pada Jumat (3 April 2026), memicu operasi penyelamatan besar-besaran yang untuk pertama kalinya membawa pasukan khusus AS ke darat Iran. Ini adalah pesawat tempur AS pertama yang ditembak jatuh oleh tembakan musuh sejak invasi Irak pada 2003, melansir Axios, Washington Post, dan Breaking Defense. Dua awak F-15 berhasil melontarkan diri sebelum pesawat jatuh. Satu awak (pilot) ditemukan dan diselamatkan oleh pasukan khusus AS yang mendarat di wilayah Iran dengan helikopter. Namun awak kedua, seorang petugas sistem senjata, masih dicari. Iran juga memburu mereka, menawarkan hadiah kepada warga sipil yang berhasil menemukan tentara AS tersebut, melansir Axios. Dalam insiden terpisah di hari yang sama, pesawat A-10 Warthog juga ditembak jatuh di dekat Selat Hormuz. Pilotnya berhasil mengarahkan pesawat keluar dari wilayah Iran sebelum melontarkan diri dan diselamatkan, melansir Washington Post. Dua helikopter penyelamat yang terlibat dalam operasi juga ditembaki, melukai beberapa awak di dalamnya sebelum berhasil mendarat dengan selamat. Situasi di lapangan menunjukkan intensitas yang belum pernah terjadi sejak perang dimulai. Video yang beredar menunjukkan helikopter Black Hawk AS terbang rendah di atas kota Charam, Iran barat daya, sementara polisi Iran menembaki mereka dari darat, melansir CNN. Laporan menyebut pertempuran hebat terjadi antara pasukan khusus AS dan pasukan darat IRGC di daerah pegunungan, dengan korban signifikan di pihak IRGC. Warga lokal melaporkan pengangkutan massal tentara terluka ke rumah sakit Dehdasht. Sejak Operation Epic Fury dimulai pada 28 Februari 2026, Pentagon mencatat 13 tentara AS tewas dan 365 luka-luka. Empat F-15E telah hilang, satu F-35 terkena tembakan, dan satu A-10 ditembak jatuh. Dengan pasukan AS kini terlibat dalam pertempuran darat di wilayah musuh, perang yang dijanjikan Trump akan selesai dalam 2-3 minggu justru menunjukkan tanda-tanda eskalasi. Bagi pasar global, ini berarti premi risiko geopolitik akan terus meningkat, dengan minyak Brent di atas US$103 per barel dan volatilitas yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Catatan: Status awak F-15 kedua belum dikonfirmasi secara resmi oleh Pentagon pada saat berita ini ditulis. Beberapa sumber melaporkan awak tersebut sudah diselamatkan, namun konfirmasi resmi masih ditunggu.