Bank Indonesia melaporkan posisi uang primer atau M0 pada April 2026 mencapai Rp2.232,2 triliun, dengan pertumbuhan tahunan melambat menjadi 14,3% dari sebelumnya 16,8% di Maret 2026. Data ini, yang dirilis pada Jumat (8/5/2026), jadi sinyal kuat bahwa likuiditas di sistem keuangan Indonesia mulai mengetat setelah lonjakan besar di bulan sebelumnya saat masa Ramadan dan Idulfitri.
Untuk audiens awam, uang primer atau M0 adalah uang yang langsung beredar di perekonomian, mencakup uang kartal di tangan masyarakat dan saldo giro perbankan di Bank Indonesia. Ini adalah tipe uang yang paling cepat berpengaruh ke aktivitas ekonomi sehari-hari, karena bisa langsung dipakai untuk transaksi atau dipinjamkan ke nasabah. Kalau pertumbuhan M0 melambat, artinya uang yang berputar di ekonomi makin sedikit, yang bisa berdampak ke konsumsi, investasi, dan harga aset.
Melansir Bloomberg Technoz, perlambatan ini disebabkan oleh kombinasi tiga faktor. Pertama, normalisasi musiman pasca-Lebaran. Selama bulan Ramadan dan Idulfitri, BI biasanya melepas banyak uang tunai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang meningkat. Bukti paling jelas terlihat di posisi uang kartal yang turun Rp45,6 triliun atau 3,39%, dari Rp1.346,7 triliun di Maret menjadi Rp1.301,1 triliun di April. Kedua, operasi moneter BI yang aktif menyerap likuiditas dari pasar. Tujuannya jaga rupiah yang sedang tertekan di kisaran Rp17.000 per dolar AS. Ketiga, penurunan posisi giro perbankan di BI yang ikut mengurangi total uang primer.
Konteks lebih luas membuat data ini lebih krusial untuk dipantau. Cadangan devisa Indonesia per April 2026 turun ke US$146,2 miliar, rupiah sudah melemah enam minggu beruntun, dan IHSG baru saja turun 2,86% akibat kenaikan tarif royalti tambang. Kombinasi pengetatan likuiditas, mata uang yang lemah, dan sentimen pasar yang negatif menunjukkan ekonomi Indonesia sedang menghadapi tekanan struktural multi-front. Kelas menengah pun mulai kesulitan beli properti, sinyal bahwa daya beli rumah tangga ikut terdampak.
Buat investor dan masyarakat umum, ada beberapa dampak yang patut dicermati. Dari sisi perbankan, bunga deposito berpotensi naik karena bank butuh dana untuk memenuhi rasio likuiditas, sementara bunga kredit juga akan ikut terkerek. Dari sisi pasar modal, pasar saham dan crypto cenderung lebih volatil karena uang yang masuk ke aset berisiko berkurang ketika likuiditas mengetat. Buat investor, momen ini saatnya pantau dengan ketat keputusan Rapat Dewan Gubernur BI bulan depan dan arah suku bunga acuan. Diversifikasi ke aset yang tahan terhadap pengetatan likuiditas seperti emas, dolar AS, atau obligasi pemerintah jangka pendek bisa jadi pertimbangan untuk lindungi portofolio dari risiko pelemahan rupiah lebih lanjut.