Iran Rancang Undang-Undang Pungut Biaya di Selat Hormuz, Harga Minyak Global Terancam Naik

Iran merancang undang-undang baru yang memungkinkan Teheran memungut biaya dari kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Langkah ini bertujuan menambah pemasukan negara sekaligus memperketat kendali atas lalu lintas maritim di salah satu jalur paling strategis di dunia. Selat Hormuz adalah titik chokepoint utama distribusi minyak global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur sempit ini setiap harinya, termasuk ekspor dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak. Jika Iran benar-benar menerapkan aturan ini, biaya pengiriman minyak global bisa naik dan berdampak langsung ke harga minyak Brent dan WTI di pasar internasional. Harga minyak yang naik berarti tekanan inflasi yang lebih tinggi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Rupiah akan menghadapi tekanan lebih besar sebagai mata uang negara importir energi, sementara Bank Indonesia berpotensi menahan atau bahkan menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas. Kondisi itu secara historis menekan harga aset berisiko. Kripto, saham domestik, dan obligasi pemerintah semuanya sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga global. Selama rancangan undang-undang ini belum ditarik atau dinegosiasikan, ketidakpastian di pasar energi dan aset berisiko berpotensi terus berlanjut.
IHSG Anjlok 13%, Perak Jatuh 20%, Bitcoin Justru Naik 8% Sejak Konflik Iran Pecah

Konflik Iran telah memukul hampir seluruh kelas aset dalam beberapa pekan terakhir, tapi dua aset justru bergerak berlawanan arah dari mayoritas pasar: Bitcoin naik 8,68 persen dan Ethereum naik 17,26 persen dalam periode yang sama, menurut data Google Finance. Di sisi yang melemah, perak mencatat performa terburuk dengan penurunan lebih dari 20 persen sejak konflik dimulai. IHSG menyusul dengan koreksi 13,41 persen, angka yang mencerminkan tekanan nyata ke pasar saham domestik akibat kombinasi sentimen global dan dampak konflik terhadap harga komoditas. Emas, yang secara historis dianggap sebagai aset pelindung di masa krisis, justru turun 12,22 persen. S&P 500 terkoreksi 5,61 persen. Pola ini menarik karena membalik narasi yang sudah berlaku puluhan tahun: bahwa investor lari ke emas saat konflik meningkat. Data kali ini menunjukkan sebagian pelaku pasar mulai memandang Bitcoin dan Ethereum sebagai alternatif penyimpan nilai di tengah ketidakpastian geopolitik, meski narasi ini masih diperdebatkan di kalangan analis. Bagi investor Indonesia, angka IHSG minus 13 persen bukan sekadar statistik. Ini berarti portofolio saham domestik mengalami tekanan signifikan dalam waktu singkat, sementara mereka yang memiliki alokasi di aset kripto justru mencatat keuntungan di periode yang sama. Apakah ini pergeseran struktural dalam perilaku investor global, atau hanya anomali satu siklus konflik, masih terlalu dini untuk disimpulkan.
Polisi Irlandia Bobol Dompet Bitcoin Rp590 Miliar Milik Pengedar Narkoba, 11 Dompet Senilai Rp5,7 Triliun Masih Terkunci

Europol dan Criminal Assets Bureau (CAB) Irlandia berhasil memindahkan 500 Bitcoin senilai sekitar US$35 juta dari dompet digital yang tidak aktif hampir satu dekade, menurut laporan BeInCrypto dan CCN pada 24 Maret 2026. Ini adalah terobosan besar dalam penanganan aset kripto hasil kejahatan, sekaligus pengingat keras soal risiko penyimpanan Bitcoin yang kerap diabaikan investor ritel. Dompet itu milik Clifton Collins, warga Dublin yang ditangkap polisi pada 2017 setelah ditemukan terlibat bisnis perkebunan ganja ilegal. Collins membeli 6.000 Bitcoin antara 2011 dan 2012 menggunakan uang hasil kejahatan tersebut, dan mencetak kunci akses ke seluruh 12 dompet digitalnya dalam satu lembar kertas yang ia simpan di dalam tempat pancing di rumah sewanya di Galway. Ketika Collins ditangkap, pemilik rumah membersihkan properti dan membuang seluruh isinya termasuk tempat pancing itu, sehingga satu-satunya salinan kunci akses kemungkinan besar ikut musnah. Hampir satu dekade lamanya, lebih dari Rp5,7 triliun nilai Bitcoin Collins duduk terkunci tanpa bisa disentuh siapa pun. Europol akhirnya berhasil membobol satu dari 12 dompet tersebut menggunakan metode teknis canggih yang belum dirinci secara publik. Pihak berwenang menyatakan optimis metode yang sama bisa diterapkan ke 11 dompet sisanya. Kasus Collins bukan anomali. Firma analitik Chainalysis memperkirakan sekitar 3,7 juta Bitcoin, atau hampir 20% dari total pasokan yang pernah ditambang, hilang selamanya karena kunci akses yang tidak bisa dipulihkan. Bagi investor yang menyimpan Bitcoin secara mandiri tanpa cadangan yang memadai, risiko ini nyata dan tidak bisa diabaikan.
BlackRock Peringatkan Minyak Bisa Tembus US$150 Per Barel, Resesi Global Mengancam

Larry Fink, CEO BlackRock selaku perusahaan pengelola investasi terbesar di dunia dengan aset lebih dari US$10 triliun, mengeluarkan peringatan keras soal dampak konflik Iran terhadap ekonomi global. Fink menyebut bahwa jika Iran terus menjadi ancaman terhadap pasokan minyak dunia, harga minyak bisa bertahan di kisaran US$100 hingga US$150 per barel selama bertahun-tahun. Jika skenario itu terwujud, resesi global hampir tidak bisa dihindari. Peringatan ini bukan sekadar spekulasi. BlackRock mengelola lebih dari US$10 triliun aset global, dan pandangan Fink secara historis menjadi salah satu referensi utama para manajer investasi besar dunia dalam mengambil keputusan alokasi portofolio. Ketika Fink berbicara soal risiko makro, pasar mendengarkan. Dampaknya ke Indonesia tidak kecil. Harga minyak di atas US$100 per barel berarti biaya impor energi melonjak dan tekanan terhadap Rupiah meningkat. Inflasi domestik akan lebih sulit dikendalikan, dan Bank Indonesia berpotensi menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Langkah itu pada akhirnya menekan pasar saham domestik dan aset berisiko termasuk kripto dalam jangka pendek.
Rusia Kirim Drone ke Iran di Tengah Negosiasi Iran-AS, Pasar Energi Kembali Terancam

Di tengah kabar Iran dan Amerika Serikat sedang menjajaki kesepakatan damai, Rusia justru mengirim drone ke Teheran. Financial Times melaporkan langkah ini terjadi tepat saat negosiasi kedua pihak masih berjalan, dan langsung memperumit dinamika geopolitik yang sudah memanas antara Barat dan blok Rusia-Iran. Pengiriman drone dari Moskow ke Teheran bukan yang pertama, melansir Financial Times. Kerja sama militer kedua negara meningkat signifikan sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, dengan Iran sebelumnya dilaporkan memasok drone ke Rusia untuk digunakan di medan perang Ukraina. Kini arah kerja sama itu tampak berbalik, dan skala pengiriman terbaru ini disebut lebih besar dari sebelumnya. Bagi pasar energi, langkah Rusia ini adalah sinyal bahwa ketegangan di kawasan Timur Tengah belum akan mereda dalam waktu dekat. Harga minyak Brent dan WTI berpotensi naik kembali jika eskalasi terjadi, yang pada gilirannya bisa menambah tekanan inflasi global dan menunda rencana pemangkasan suku bunga bank sentral utama termasuk The Fed. Dampaknya ke aset berisiko tidak bisa diabaikan. Kripto, Rupiah, dan pasar saham domestik semuanya sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga dan sentimen risiko global. Selama Rusia terus memasok Iran di tengah negosiasi yang belum selesai, ketidakpastian di pasar berpotensi bertahan lebih lama dari perkiraan.
US-Israel vs Iran: The Escalation Explained
Jane Street and the 10AM Bitcoin Drop
Monetary Debasement Trade
Japan Bond Yields Rising
Exploring Base Ecosystem