China mengambil langkah mengejutkan dengan mengumumkan 10 paket insentif untuk Taiwan, tepat setelah Presiden Xi Jinping bertemu Cheng Li-wun, ketua partai oposisi terbesar Taiwan Kuomintang (KMT), dalam kunjungan bersejarah pertama dalam satu dekade terakhir, melansir Bloomberg dan CNBC.
Paket insentif yang dirilis melalui kantor berita resmi Xinhua mencakup pelonggaran pembatasan wisata, pembukaan kembali penerbangan langsung lintas selat, izin masuk konten televisi Taiwan ke China, hingga kemudahan ekspor produk pertanian dan perikanan Taiwan ke pasar daratan. Beijing menyebut seluruh langkah ini sebagai wujud “itikad baik” untuk mendorong hubungan damai lintas selat.
Yang menarik perhatian justru siapa yang tidak hadir dalam pembicaraan ini. Pemerintah resmi Taiwan di bawah Presiden William Lai dari Partai Demokratik Progresif (DPP) sama sekali tidak dilibatkan. Xi secara terbuka menyatakan bahwa hubungan lintas selat harus “berada di tangan rakyat China,” sebuah pernyataan yang dibaca banyak analis sebagai peringatan terselubung kepada AS agar tidak ikut campur dalam urusan Taiwan. Strategi ini dinilai sebagai upaya China membangun pengaruh langsung ke masyarakat Taiwan sambil mengisolasi kepemimpinan yang berkuasa.
Kunjungan ini terjadi tepat sebulan sebelum jadwal pertemuan puncak Trump dan Xi di Beijing, menjadikannya sinyal geopolitik yang sulit diabaikan. China tampaknya ingin menegaskan satu pesan lebih dahulu: urusan Taiwan adalah urusan China. Bagi pasar global, manuver geopolitik baru di selat Taiwan yang muncul bersamaan dengan konflik Iran yang kembali memanas menambah lapisan risiko yang berpotensi menekan sentimen investor, termasuk terhadap Bitcoin.