<
App splash

Kapal Tersanksi AS Tembus Blokade Hormuz: Uji Pertama Terhadap Trump

Sebuah kapal tanker terkait China yang masuk daftar sanksi Amerika Serikat sedang melintas di Selat Hormuz, hanya satu hari setelah blokade laut AS resmi diberlakukan. Melansir Bloomberg, kapal bernama Rich Starry, sebelumnya dikenal sebagai Full Star, dimasukkan ke daftar hitam Washington pada 2023 karena membantu Iran menghindari sanksi energi. Hingga laporan ini ditulis, belum ada konfirmasi dari pihak AS apakah kapal tersebut akan dicegat atau dibiarkan melintas. Transit ini adalah uji pertama yang paling berani terhadap blokade Trump. Sebelumnya, setidaknya dua kapal lain berbalik arah setelah blokade diumumkan pada Senin (13/4), termasuk satu kapal tanker China lain bernama Ostria. Fakta bahwa Rich Starry justru bergerak maju memberikan sinyal bahwa tidak semua pihak siap mematuhi blokade AS, terutama kapal-kapal yang beroperasi di jalur perdagangan minyak Iran dan tidak punya banyak yang bisa hilang dari sisi reputasi sanksi. Konteks geopolitiknya tidak bisa diabaikan. China sebelumnya telah memperingatkan AS untuk tidak mencegat kapal-kapalnya, dengan Menteri Pertahanan China Dong Jun menegaskan Beijing tidak akan mengizinkan interferensi terhadap perjanjian energi dan komersialnya. Jika AS membiarkan Rich Starry lewat tanpa tindakan, kredibilitas blokade akan dipertanyakan dan kapal-kapal lain berpotensi mengikuti langkah serupa. Jika AS mencegat, risiko konfrontasi langsung dengan China di perairan internasional menjadi nyata. Bagi pasar minyak, ketidakpastian di sekitar efektivitas blokade ini berdampak langsung ke harga energi global. Brent saat ini berada di kisaran US$112 per barel dan setiap perkembangan di Hormuz dalam 24 jam ke depan berpotensi menggerakkan harga secara signifikan ke kedua arah. Kepala Badan Energi Internasional (IEA) menyebut gangguan ini sebagai guncangan energi terburuk yang pernah terjadi, melampaui krisis minyak 1970-an dan dampak perang Ukraina sekaligus. Bagi investor crypto, ini adalah salah satu momen paling berisiko sejak konflik dimulai. Satu keputusan militer di Hormuz dalam beberapa jam ke depan berpotensi mengubah sentimen pasar global secara drastis, ke arah mana pun.

The Fed Minta Data Rahasia Bank: Ada Krisis Tersembunyi di Pasar Kredit US$1,8 Triliun?

The Federal Reserve mulai meminta data langsung dari bank-bank besar Amerika Serikat soal seberapa besar eksposur mereka ke pasar kredit swasta. Melansir Bloomberg, permintaan ini muncul setelah gelombang penarikan dana dari sejumlah manajer aset terbesar di industri, sebuah langkah yang secara historis hanya dilakukan ketika regulator tidak lagi merasa cukup dengan angka-angka yang dilaporkan secara publik. Pasar kredit swasta AS saat ini bernilai sekitar US$1,8 triliun. Tiga nama besar sudah membatasi penarikan investor dalam waktu berdekatan. Melansir Fortune dan CNBC, BlackRock membatasi penarikan dari dana pinjaman HPS senilai US$26 miliar, Cliffwater membatasi penarikan di angka 7 persen setelah investor meminta 14 persen dari dana senilai US$33 miliar, dan Blue Owl memberlakukan batas penarikan 5 persen di sejumlah dananya. Tiga pembatasan besar dalam satu periode pendek bukan kebetulan. Ini adalah sinyal bahwa investor berusaha keluar lebih cepat dari kemampuan dana mengembalikan uang. Masalah mendasarnya ada pada cara kredit swasta bekerja. Berbeda dari obligasi yang diperdagangkan di bursa publik, kredit swasta tidak memiliki harga pasar yang diperbarui setiap hari. Valuasinya bergantung pada penilaian internal masing-masing manajer dana. Selama kondisi baik, ini membuat volatilitas tampak rendah dan imbal hasil tampak stabil. Ketika investor meminta keluar massal, nilai aset yang selama ini hanya ada di atas kertas terpaksa direalisasikan, dan angka sebenarnya mulai terlihat. Dampaknya tidak akan berhenti di AS. Melansir Bloomberg, The Fed juga mengajukan pertanyaan serupa ke industri asuransi, mengindikasikan kekhawatiran regulasi yang lebih luas. Dana pensiun, perusahaan asuransi, dan lembaga keuangan dari Eropa, Jepang, dan kawasan Teluk semuanya memiliki alokasi ke pasar kredit swasta AS karena imbal hasilnya yang lebih tinggi dibanding obligasi publik. Jika valuasi harus direvisi turun secara besar-besaran, kerugian itu akan mengalir ke seluruh sistem keuangan global secara bersamaan. Bagi investor crypto, skenario tekanan sistemik dari pasar kredit swasta adalah risiko makro yang perlu dipantau. Ketidakpastian di sektor keuangan besar secara historis memicu dua reaksi berurutan: pelarian awal ke aset safe haven, diikuti tekanan jual luas ketika likuiditas mulai tertekan di seluruh sistem. The Fed meminta data ini bukan tanpa alasan. Dan seberapa dalam masalah yang akan ditemukan, itulah yang akan menentukan arah pasar global dalam beberapa bulan ke depan.

Tinggal 8 Hari, AS-Iran Harus Damai atau Perang Kembali Pecah

Pakistan bergerak cepat mendorong putaran kedua perundingan AS-Iran setelah Islamabad Talks berakhir tanpa kesepakatan pada Minggu (13/4). Melansir Al Jazeera dan CBS News, Islamabad kini dalam kontak aktif dengan Washington dan Tehran, mendesak keduanya kembali ke meja sebelum gencatan senjata habis masa berlakunya sekitar 22 April 2026, tersisa kurang dari delapan hari. Perundingan pertama berlangsung selama 21 jam pada 11-12 April, dipimpin Wakil Presiden AS JD Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. Dua isu utama tetap buntu: status Selat Hormuz dan program nuklir Iran. Ghalibaf menyatakan delegasi Iran telah mengajukan sejumlah inisiatif, namun gagal membangun kepercayaan. Ia menyebut minimnya kepercayaan sebagai hambatan utama, mengacu pada pengalaman konflik sebelumnya dengan pihak AS dan Israel. Meski tidak ada kesepakatan, kedua pihak mengakui pembicaraan sempat mendekati penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU), sebuah kerangka perjanjian awal. Ini adalah sinyal terkuat sejauh ini bahwa ruang kompromi yang nyata memang ada. Pakistan kini secara resmi menyebut proses ini sebagai “Islamabad Process”, bukan sekadar pertemuan satu kali, sebagai upaya mempertahankan momentum diplomatik dan relevansi peran mediasi Islamabad. Bagi pasar energi dan aset keuangan global, tenggat 22 April adalah titik kritis yang tidak bisa diabaikan. Harga minyak mentah Brent saat ini sudah berada di kisaran US$112 per barel, naik lebih dari 55 persen sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026. Jika putaran kedua gagal terwujud atau kembali berakhir tanpa hasil, pasar berpotensi mengantisipasi kembalinya eskalasi militer penuh, yang secara historis langsung mendorong lonjakan harga energi dan pelarian modal dari aset berisiko. Bagi investor crypto, skenario gagalnya perundingan putaran kedua adalah risiko makro yang nyata. Bitcoin dalam beberapa pekan terakhir bergerak sangat sensitif terhadap perkembangan konflik Teluk. Setiap sinyal de-eskalasi mendorong pemulihan harga, sementara setiap eskalasi baru menekan sentimen pasar secara luas. Dengan window delapan hari yang tersisa, setiap pernyataan dari Islamabad, Washington, maupun Tehran patut dipantau ketat.

13 Juta Orang Merugi: Data Terbaru Bitcoin Ungkap Seberapa Dalam Koreksi Ini

Tekanan di pasar Bitcoin kini bisa dilihat langsung dari data. Lebih dari 13 juta alamat Bitcoin tercatat dalam posisi merugi, artinya harga rata-rata pembelian mereka berada di atas harga pasar saat ini, menurut data on-chain terbaru dari Glassnode. Angka ini menjadi salah satu sinyal terkuat bahwa koreksi yang sedang berlangsung bukan sekadar fluktuasi biasa. Jumlah alamat dalam kerugian sebesar ini mencerminkan tekanan yang meluas ke seluruh lapisan pemegang Bitcoin, bukan hanya pembeli baru yang masuk di harga tinggi, tapi juga sebagian pemegang jangka menengah yang kini terjebak di atas harga pasar. Semakin banyak alamat yang merugi, semakin besar potensi tekanan jual ketika harga mulai pulih, karena banyak pemegang akan memanfaatkan momen tersebut untuk keluar di titik impas. Kondisi ini secara historis sering mendahului fase konsolidasi panjang sebelum pasar menemukan arah baru. Konteks makro tidak membantu pemulihan. Konflik Iran-AS kembali memanas setelah gencatan senjata dua minggu kolaps tanpa kesepakatan permanen. Blokade penuh pelabuhan Iran yang mulai diberlakukan hari ini menambah lapisan ketidakpastian baru bagi pasar energi dan pasar keuangan global. Bitcoin, sebagai aset berisiko paling likuid, menjadi salah satu yang pertama merasakan tekanan setiap kali sentimen global memburuk. Selama tekanan geopolitik eksternal belum mereda dan negosiasi damai belum menunjukkan kemajuan konkret, data seperti 13 juta alamat merugi ini menjadi pengingat bahwa pasar Bitcoin masih belum menemukan titik stabilnya. Yang menjadi penentu arah berikutnya bukan hanya pergerakan harga, tapi seberapa banyak pemegang yang memilih bertahan versus menyerah di tengah ketidakpastian ini.

Rupiah Tembus Rp17.105, Bank Indonesia Kerahkan Semua Senjata

Bank Indonesia angkat bicara soal pelemahan Rupiah yang kian dalam. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menegaskan bahwa bank sentral mengoptimalkan seluruh instrumen moneter yang tersedia untuk menjaga stabilitas nilai tukar, melansir Tempo. Rupiah ditutup di level Rp17.105 per dolar AS pada 7 April 2026, melanjutkan tren pelemahan yang telah berlangsung sejak konflik Iran-AS memanas. BI menyatakan intervensi dilakukan secara konsisten dan terukur di tiga jalur sekaligus: pasar spot, pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar NDF luar negeri. Langkah ini mencerminkan tekanan yang dihadapi Rupiah tidak hanya dari satu arah, tapi dari berbagai segmen pasar valuta asing secara bersamaan. Skala intervensi tiga jalur ini menunjukkan bahwa tekanan yang dihadapi Rupiah saat ini bukan fluktuasi biasa. Damayanti juga menyoroti sisi lain dari konflik Timur Tengah yang sering luput dari perhatian. Kenaikan harga komoditas global akibat perang justru memperkuat posisi Indonesia sebagai negara eksportir batu bara, minyak sawit, dan nikel, yang berpotensi menopang cadangan devisa dan mengimbangi sebagian tekanan terhadap Rupiah. Ini adalah pola yang sudah terlihat di beberapa konflik global sebelumnya: Indonesia kerap menjadi penerima manfaat tidak langsung dari kenaikan harga komoditas di tengah krisis. Bagi pemegang aset kripto di Indonesia, pelemahan Rupiah ini memiliki dampak ganda yang perlu dipahami. Nilai portofolio dalam Rupiah naik jika harga Bitcoin dalam dolar bertahan, tapi daya beli untuk kebutuhan sehari-hari ikut tergerus.

Trump: Hormuz Akan Dibuka, Dengan atau Tanpa Iran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan Selat Hormuz akan dibuka kembali, dengan atau tanpa persetujuan Iran. Pernyataan keras ini disampaikan Jumat, 11 April 2026, tepat di saat delegasi AS dan Iran duduk berunding di Islamabad, Pakistan, dalam upaya mencapai kesepakatan damai permanen. Harga minyak mentah Brent bertahan di kisaran USD112 per barel, naik lebih dari 55% sejak perang pecah pada 28 Februari 2026. Gencatan senjata dua pekan yang disepakati 7 April mulai menunjukkan retakan serius. Iran menutup kembali selat pada Rabu setelah Israel melancarkan serangan besar ke Beirut, dengan alasan serangan itu melanggar syarat gencatan senjata. Trump merespons via Truth Social dengan menyebut Iran “melakukan pekerjaan yang sangat buruk, bahkan tidak terhormat” dalam memenuhi kesepakatan, melansir NPR. Ia juga memperingatkan Tehran agar berhenti memungut biaya dari kapal tanker yang melintas di selat, dengan nada yang semakin keras dari hari ke hari. Yang memperumit situasi adalah masalah teknis yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan kesepakatan politik. Melansir New York Times mengutip pejabat AS, Iran tidak dapat menemukan semua ranjau laut yang ditanamnya sendiri di selat karena pemasangan yang dilakukan secara sembarangan menggunakan ratusan kapal kecil. Sebagian ranjau tidak dicatat posisinya, dan sebagian lagi telah hanyut dari lokasi awal akibat arus laut. Baik Iran maupun AS tidak memiliki kapasitas pembersihan ranjau yang memadai untuk menyelesaikan masalah ini dalam waktu singkat. Dampaknya terhadap pasar energi dan rantai pasok global sangat nyata. Data Lloyd’s List menunjukkan trafik kapal di selat saat ini hanya 7 hingga 18 kapal per hari, anjlok dari baseline pra-perang sebesar 140 kapal per hari. Lebih dari 1.000 kapal antre di luar selat, termasuk 187 tanker yang membawa sekitar 172 juta barel minyak mentah tertahan. Selat Hormuz adalah jalur lalu lintas sekitar 20% pasokan minyak dunia setiap harinya, menjadikannya salah satu titik paling kritis dalam sistem energi global. Bagi pasar keuangan dan investor crypto Indonesia, krisis Hormuz yang berkepanjangan memiliki implikasi langsung. Harga energi yang tetap tinggi menjaga tekanan inflasi global, yang pada gilirannya mempersempit ruang The Fed untuk memangkas suku bunga. Suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama berarti likuiditas global tetap ketat, dan aset berisiko termasuk Bitcoin akan lebih sulit naik secara signifikan. Bitcoin saat ini diperdagangkan di kisaran USD66.500 hingga USD67.800, dan setiap eskalasi baru di selat berpotensi memperpanjang fase tekanan ini.

$20 Miliar Ditarik dari Pasar Kredit Global: Ini Dampaknya ke Bitcoin dan Portofoliomu

Sektor kredit swasta senilai $3 triliun yang selama bertahun-tahun dianggap mesin keuntungan stabil kini menghadapi ujian likuiditas terbesar dalam sejarahnya. Investor menarik lebih dari $20,8 miliar dari dana kredit swasta di kuartal pertama 2026, sinyal meningkatnya kekhawatiran setelah bertahun-tahun ekspansi besar-besaran di kelas aset ini. Untuk pertama kalinya, sebagian permintaan penarikan tidak bisa dipenuhi sama sekali. Tekanan tidak merata, tapi merata di puncak. Permintaan penarikan di kuartal pertama 2026 menembus 8 persen di Blackstone, 11,2 persen di Apollo, 11,6 persen di Ares, dan mencapai 21,9 persen di Blue Owl, memaksa seluruh manajer aset besar ini membatasi penarikan dan tidak bisa memenuhi seluruh permintaan investor. Artinya ada investor yang ingin keluar tapi tidak bisa. Ini menjadi pertama kalinya dana kredit swasta harus melakukan prorasi penarikan, di mana investor yang ingin keluar hanya mendapat sebagian dari yang mereka minta. Pemicunya berlapis. Morgan Stanley memperingatkan tingkat gagal bayar di kredit swasta bisa melonjak ke 8 persen, jauh di atas rata-rata historis 2 hingga 2,5 persen, dengan tekanan terkonsentrasi di sektor yang rentan terhadap disrupsi kecerdasan buatan terutama perusahaan perangkat lunak. Di saat yang sama, suku bunga yang mulai turun menggerus daya tarik imbal hasil yang selama ini menjadi alasan utama investor masuk ke kelas aset ini. Dampak langsungnya ke pasar global bersifat berantai. Dana yang terjebak di private credit tidak bisa dialihkan ke kelas aset lain, termasuk Bitcoin, saham, atau obligasi. Tekanan likuiditas di satu sudut pasar secara historis merambat ke seluruh kelas aset melalui apa yang disebut forced selling, di mana manajer aset terpaksa menjual aset lain yang lebih likuid untuk memenuhi permintaan penarikan. Jika tekanan ini melebar, sentimen risk-off yang mengikutinya bisa menekan pasar lebih jauh sebelum akhirnya membalik. Namun ada sisi lain yang perlu dipahami investor. Analis Morgan Stanley menyebut lonjakan gagal bayar ke level 8 persen akan “signifikan tapi tidak sistemik,” mengacu pada struktur leverage dana kredit swasta yang lebih rendah dibanding kondisi menjelang krisis 2008. Ini bukan Lehman Brothers. Tapi ini adalah pengingat bahwa tidak ada kelas aset yang kebal dari siklus, dan bahwa aset dengan likuiditas penuh seperti Bitcoin justru memiliki satu keunggulan yang sering diabaikan: tidak ada manajer aset yang bisa membatasi kamu menarik milikmu sendiri.

Uang Kamu Menyusut 20 Persen dalam 5 Tahun: Ini Bukan Kebetulan

Seratus dolar yang kamu simpan di 2020 kini hanya mampu membeli barang senilai 80 dolar. Itulah gambaran nyata dari penurunan daya beli dolar Amerika Serikat sebesar sekitar 20 persen dalam lima tahun terakhir, salah satu erosi nilai mata uang terbesar yang tercatat dalam beberapa generasi, menurut data resmi Biro Statistik Tenaga Kerja AS yang dirujuk Federal Reserve. Penurunan paling tajam terjadi antara 2021 dan 2022, ketika daya beli dolar turun 7,4 persen hanya dalam 12 bulan, level penurunan tahunan tercepat sejak awal dekade 1980-an. Pemicunya adalah kombinasi stimulus fiskal besar-besaran pasca pandemi, gangguan rantai pasok global, dan lonjakan harga energi yang mendorong inflasi AS menembus 9 persen pada pertengahan 2022. Yang perlu dipahami adalah ini bukan sekadar soal harga bahan makanan atau bensin yang naik. Ini adalah perubahan struktural dalam nilai uang itu sendiri. Ketika bank sentral mencetak uang dalam jumlah besar untuk membiayai stimulus, setiap lembar uang yang beredar secara otomatis berkurang nilainya karena jumlah barang dan jasa yang tersedia tidak bertambah secepat pasokan uang. Bagi investor, fenomena ini memiliki implikasi langsung. Aset dengan pasokan terbatas seperti Bitcoin secara historis menjadi salah satu instrumen yang dicari ketika mata uang fiat melemah secara sistematis. Data menunjukkan institusi besar mulai mengalihkan sebagian cadangan mereka ke Bitcoin sejak siklus inflasi ini dimulai di 2021, sebuah tren yang belum menunjukkan tanda-tanda berbalik arah. Pertanyaannya bukan lagi apakah daya beli uang fiat akan terus tergerus, melainkan seberapa cepat, dan di mana kamu menyimpan nilaimu.

Sejak 2009, $125 Triliun Berpindah Lewat Bitcoin Tanpa Satu Bank Pun

Sejak Satoshi Nakamoto menambang blok pertama Bitcoin pada 3 Januari 2009, jaringan ini telah memproses lebih dari $125 triliun dalam total transaksi on-chain, tanpa satu bank pun yang terlibat, tanpa formulir, tanpa antrian, dan tanpa jam tutup. Data Glassnode yang dikutip CryptoSlate menunjukkan angka kumulatif ini menembus $125 triliun pada Agustus 2024, naik dari $114 triliun di awal tahun yang sama. Sebagai perbandingan, Dana Moneter Internasional mencatat produk domestik bruto seluruh dunia pada 2024 sekitar $110 triliun. Artinya total nilai yang pernah berpindah lewat jaringan Bitcoin sudah melampaui output ekonomi seluruh planet bumi dalam satu tahun penuh. Semua itu diproses oleh kode komputer yang berjalan di ribuan node tersebar di seluruh dunia, bukan oleh institusi keuangan manapun. Pada Mei 2024, jaringan Bitcoin mencapai tonggak sejarah lain: total satu miliar transaksi berhasil diproses sejak pertama kali berdiri, dengan rata-rata 178.475 transaksi per hari sepanjang hidupnya, menurut data yang dikutip Nasdaq. Tidak ada downtime, tidak ada bailout, dan tidak ada kebijakan yang berubah di tengah jalan karena tekanan politik atau krisis keuangan. Yang membuat angka ini lebih bermakna adalah konteksnya. Setiap transaksi terjadi langsung antara pengirim dan penerima, melewati batas negara, zona waktu, dan regulasi perbankan konvensional. Tidak ada pihak ketiga yang bisa membekukan dana, menolak transfer, atau meminta dokumen tambahan. Bagi investor, ini bukan sekadar statistik teknis, ini adalah bukti nyata bahwa infrastruktur keuangan alternatif sudah bekerja dalam skala global selama lebih dari satu dekade.

Bitcoin Kini Bisa Tahan Serangan Quantum Tanpa Ubah Satu Baris Protokol Pun

Salah satu ketakutan terbesar komunitas Bitcoin selama bertahun-tahun adalah komputer quantum yang suatu hari bisa membobol enkripsi jaringan dan mencuri dana dari dompet siapapun. Kini, dua perkembangan dalam dua hari berturut-turut mulai memberikan jawaban konkret terhadap ancaman itu, dan keduanya tidak memerlukan perubahan pada protokol Bitcoin sama sekali. Pada 9 April 2026, peneliti StarkWare Avihu Levy mempublikasikan metode yang disebutnya Quantum Safe Bitcoin atau QSB, sebuah skema berbasis fungsi hash yang bisa membuat transaksi Bitcoin tahan terhadap serangan quantum hari ini, tanpa mengubah protokol Bitcoin sama sekali. Cara kerjanya menggantikan sistem tanda tangan digital yang rentan dengan pendekatan kriptografi berbasis hash yang jauh lebih sulit ditembus komputer quantum. Sistem ini bekerja dalam aturan konsensus Bitcoin yang sudah ada, tanpa membutuhkan persetujuan komunitas atau pemungutan suara protokol apapun. Ada satu kendala besar yang perlu dipahami. Metode ini membutuhkan komputasi GPU berat di luar jaringan untuk setiap transaksi, mendorong estimasi biaya ke antara $75 hingga $200 per transaksi, dibandingkan biaya transaksi Bitcoin normal yang saat ini hanya sekitar 33 sen. Ini bukan solusi untuk penggunaan sehari-hari. Dirancang sebagai alat darurat jika ancaman quantum benar-benar datang dan jaringan butuh perlindungan segera sebelum solusi permanen siap diaktifkan. Sehari sebelumnya, perkembangan berbeda datang dari sisi yang lebih praktis. CTO Lightning Labs Olaoluwa Osuntokun merilis prototipe wallet rescue tool yang sudah berfungsi, dirancang untuk menyelamatkan dompet Bitcoin biasa jika jaringan terpaksa mengaktifkan pertahanan darurat terhadap quantum. Prototipe ini sudah berjalan di MacBook biasa, menghasilkan bukti kriptografi dalam 55 detik dan verifikasi dalam kurang dari 2 detik. Sistem ini memungkinkan pengguna membuktikan kepemilikan dompet menggunakan seed rahasia tanpa mengungkapkan seed itu sendiri, sebuah mekanisme penyelamatan yang selama ini hanya dibicarakan di atas kertas tapi belum pernah benar-benar dibangun. Dua perkembangan ini bukan berarti ancaman quantum sudah teratasi sepenuhnya. Solusi permanen seperti BIP-360 masih berstatus draft, dan developer masih terbagi pendapat s Tapi untuk pertama kalinya, komunitas Bitcoin punya bukti nyata bahwa jaringan bisa bertahan dari serangan quantum bahkan sebelum protokol diubah. Bagi investor jangka panjang, ini adalah sinyal bahwa jaringan senilai lebih dari $1,3 triliun ini sedang secara aktif membentengi dirinya untuk dekade yang akan datang.

Akses Berhasil!

Silahkan Download PDF melalui tombol dibawah ini. Kamu juga dapat gabung ke grup discord gratis untuk dapatkan info crypto menarik lainnya!

Pendaftaran Berhasil

Terima kasih telah mendaftar. Link Zoom akan dikirim melalui WhatsApp kamu. Punya pertanyaan? Silahkan chat minsul melalui tombol dibawah ini.