<
App splash

Hakim Federal Blokir Larangan Trump terhadap Anthropic, Sebut Langkah Pemerintah “Sewenang-wenang”

Hakim Distrik AS Rita Lin pada Kamis (26/3) menerbitkan perintah sementara yang memblokir upaya pemerintahan Trump untuk melabeli Anthropic, perusahaan AI asal San Francisco, sebagai “ancaman rantai pasok” terhadap keamanan nasional. Dalam putusan setebal 43 halaman, Lin menyebut langkah pemerintah kemungkinan besar melanggar hukum dan bersifat sewenang-wenang. Label ancaman rantai pasok biasanya hanya diberikan kepada badan intelijen asing dan organisasi teroris, bukan perusahaan Amerika. Konflik bermula dari negosiasi kontrak senilai US$200 juta antara Anthropic dan Pentagon yang ditandatangani Juli lalu. Anthropic menarik garis tegas: menolak memberikan akses tanpa batas terhadap teknologi AI-nya untuk senjata otonom dan pengawasan massal terhadap warga AS. Setelah negosiasi gagal, Menteri Pertahanan Pete Hegseth melabeli Anthropic sebagai ancaman rantai pasok pada Februari 2026, sementara Trump memerintahkan seluruh lembaga federal berhenti menggunakan teknologi Anthropic. Dampak label tersebut meluas ke sektor bisnis. Seluruh kontraktor pertahanan, termasuk Amazon, Microsoft, dan Palantir, diwajibkan memutus hubungan komersial dengan Anthropic. Beberapa lembaga federal di luar Pentagon langsung menghentikan penggunaan Claude, model AI andalan perusahaan. Dalam dokumen pengadilan, Anthropic menyatakan bahwa ratusan juta dolar kontrak terancam, dan salah satu pihak pendukung dalam persidangan menyebut langkah pemerintah ini sebagai upaya “pembunuhan korporat.” Lin menulis bahwa tidak ada dasar hukum yang mendukung gagasan bahwa perusahaan Amerika dapat dicap sebagai musuh dan penyabot hanya karena menyatakan ketidaksetujuan terhadap pemerintah. Hakim juga menyoroti bahwa Pentagon sebelumnya memuji Anthropic sebagai mitra dan meloloskan perusahaan tersebut dalam pemeriksaan keamanan nasional yang ketat. Baru setelah Anthropic mengangkat keberatan ke publik, Pentagon mengambil langkah untuk memblokir seluruh akses bisnis perusahaan. Putusan ini ditunda tujuh hari untuk memberi kesempatan pemerintah mengajukan banding. Kasus paralel juga masih berjalan di pengadilan federal Washington, D.C. Bagi industri teknologi secara luas, kasus ini menetapkan preseden penting: sejauh mana pemerintah bisa menggunakan otoritas keamanan nasional untuk menghukum perusahaan yang menolak permintaannya, dan di mana batas antara kepentingan pertahanan dengan hak konstitusional korporasi.

Tanda Tangan Trump Akan Tercetak di Uang Dolar AS, Pertama dalam Sejarah untuk Presiden Aktif

Departemen Keuangan AS pada Kamis (26/3) mengumumkan bahwa tanda tangan Presiden Donald Trump akan muncul di seluruh uang kertas dolar AS, menjadikannya presiden aktif pertama dalam sejarah yang namanya tercetak di mata uang Amerika. Langkah ini memutus tradisi 165 tahun di mana uang kertas AS selalu memuat tanda tangan Bendahara AS dan Menteri Keuangan sejak pertama kali dicetak pada 1861. Tanda tangan Trump akan menggantikan posisi Bendahara AS dan tampil berdampingan dengan tanda tangan Menteri Keuangan Scott Bessent. Uang kertas pecahan US$100 dengan desain baru ini mulai diproduksi pada Juni 2026, diikuti pecahan lain di bulan-bulan berikutnya. Bessent menyebut langkah ini untuk menandai peringatan 250 tahun kemerdekaan AS pada 4 Juli 2026. Sementara itu, Biro Cetak dan Ukir AS masih memproduksi uang kertas bertanda tangan pejabat era Joe Biden, yaitu Janet Yellen dan Lynn Malerba. Ini bukan satu-satunya upaya pemerintahan Trump menempatkan namanya di simbol negara. Komisi seni federal juga telah menyetujui desain koin emas 24 karat bergambar Trump untuk peringatan yang sama. Sebelumnya, nama Trump sudah terpasang di Kennedy Center, Institut Perdamaian AS, dan kelas kapal perang baru Angkatan Laut. Upaya memasang wajah Trump di koin reguler US$1 sempat terhambat karena hukum federal melarang gambar orang yang masih hidup muncul di koin AS. Langkah ini menuai kritik dari Partai Demokrat di Kongres, yang telah mengajukan rancangan undang-undang untuk melarang presiden aktif atau mantan presiden yang masih hidup ditampilkan di mata uang AS dalam bentuk apapun. Michael Bordo, Direktur Pusat Sejarah Moneter dan Keuangan di Rutgers, menilai langkah ini pasti memicu reaksi politik, tetapi secara hukum Menteri Keuangan kemungkinan memiliki wewenang untuk menentukan siapa yang menandatangani mata uang.

Dolar AS Cetak Bulan Terkuat Sejak Juli, Rupiah Tertekan dan Proyeksi Wall Street Buyar

Dolar Amerika Serikat mencatat kinerja bulanan terkuat sejak Juli 2025, menurut laporan Bloomberg pada 26 Maret 2026. Penguatan ini bukan didorong oleh data ekonomi AS yang membaik, melainkan oleh gelombang pelarian investor global ke aset aman di tengah konflik AS-Israel-Iran yang terus memanas sejak akhir Februari. Dampaknya langsung mengacak proyeksi nilai tukar yang sebelumnya disusun analis-analis Wall Street. Sebelum konflik pecah, ekspektasi pasar adalah The Fed akan memangkas suku bunga tiga kali sepanjang 2026, sebuah skenario yang semestinya menekan dolar secara bertahap. Kini skenario itu menyusut drastis karena harga energi yang melambung akibat ketidakpastian Selat Hormuz mengancam laju penurunan inflasi, dan mempersempit ruang gerak The Fed untuk bertindak. Bagi Indonesia, penguatan dolar ini memiliki rantai dampak yang langsung terasa. Rupiah, seperti mayoritas mata uang negara berkembang, cenderung tertekan setiap kali dolar menguat tajam dalam periode singkat. Tekanan pada nilai tukar Rupiah berarti harga barang impor naik, yang pada gilirannya mendorong inflasi domestik dan mengikis daya beli masyarakat di dalam negeri. Dari sisi pasar aset berisiko, kombinasi dolar kuat dan ekspektasi suku bunga yang tertahan adalah kondisi yang secara historis tidak menguntungkan bagi Bitcoin maupun aset kripto lainnya. Ketika dolar menguat, investor global cenderung mempertahankan posisi di instrumen berbasis dolar dibanding mengalokasikan ke aset spekulatif. Pola ini terlihat konsisten dalam beberapa siklus penguatan dolar sebelumnya. Yang perlu dipantau ke depan adalah seberapa lama konflik ini bertahan dan apakah ada sinyal de-eskalasi yang cukup kuat untuk membalik arah dolar. Selama ketidakpastian geopolitik di kawasan Teluk belum mereda, tekanan terhadap Rupiah dan aset berisiko kemungkinan masih akan berlanjut, dan proyeksi nilai tukar yang sudah direvisi Wall Street pun belum tentu menjadi angka final.

Nvidia Digugat atas Tuduhan Sembunyikan Lebih dari US$1 Miliar Pendapatan GPU Crypto sebagai Penjualan Gaming

Nvidia menghadapi gugatan kelas setelah perusahaan dituduh sengaja menyembunyikan lebih dari US$1 miliar pendapatan dari penjualan GPU untuk keperluan crypto mining, dengan melaporkannya sebagai pendapatan segmen gaming. Gugatan ini menilai laporan keuangan Nvidia menyesatkan investor selama periode booming kripto berlangsung. Para penggugat menyebut Nvidia secara sadar mengklasifikasikan penjualan kartu grafis ke para penambang kripto sebagai penjualan ke para gamer. Praktik ini diduga berlangsung saat permintaan GPU dari para penambang melonjak tajam, membuat angka pendapatan segmen gaming tampak jauh lebih besar dan stabil dari kondisi sebenarnya. Bagi investor saham Nvidia, ini adalah risiko finansial nyata. Jika gugatan berhasil, perusahaan berpotensi menghadapi kewajiban ganti rugi besar yang bisa menekan harga saham dan sentimen pasar teknologi secara keseluruhan, termasuk saham produsen semikonduktor lain yang selama ini ikut terangkat oleh narasi AI dan kripto. Bagi ekosistem kripto, kasus ini membuka kembali diskusi soal ketergantungan industri mining terhadap pasokan hardware dari segelintir produsen besar. Gangguan terhadap Nvidia, baik dari tekanan hukum maupun penurunan kepercayaan investor, bisa berdampak ke ketersediaan dan harga GPU yang menjadi tulang punggung operasional jaringan proof-of-work global.

Iran Beri Spanyol Akses Bebas Selat Hormuz, Teheran Kini Jadi Penjaga Gerbang Energi Global

Iran resmi memberikan akses bebas kepada kapal-kapal Spanyol untuk melintas di Selat Hormuz, menyusul keputusan Madrid yang menolak mengizinkan Amerika Serikat menggunakan pangkalan militer Spanyol untuk operasi melawan Iran. Langkah ini dikonfirmasi pada 24 Maret 2026, menjadikan Spanyol bagian dari kelompok negara yang Teheran anggap tidak bermusuhan. Menurut Reuters dan Financial Times, Iran telah resmi menginformasikan kepada Dewan Keamanan PBB dan Organisasi Maritim Internasional bahwa kapal dari negara yang tidak mendukung operasi militer AS dan Israel diizinkan melintas, selama mematuhi aturan keamanan yang ditetapkan Teheran. Turki, India, Pakistan, Rusia, dan China sudah lebih dulu masuk daftar negara yang mendapat izin serupa. Selat Hormuz adalah jalur tempat sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintas setiap harinya. Sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026, lalu lintas kapal tanker di selat ini anjlok drastis dan mendorong harga minyak Brent melonjak ke atas US$100 per barel. Sistem izin lintas yang kini dibangun Iran secara efektif menempatkan Teheran sebagai penjaga gerbang energi global, dengan kekuatan menentukan negara mana yang bisa mengakses pasokan minyak kawasan dan mana yang tidak. Bagi Indonesia sebagai negara importir energi, dinamika ini berdampak langsung ke biaya impor minyak, tekanan terhadap Rupiah, dan prospek inflasi domestik. Selama Iran mempertahankan kendali selat dan kapal AS serta Israel tetap diblokir, ketidakpastian di pasar energi global belum akan mereda dalam waktu dekat.

Trump: Iran Mau Buat Kesepakatan Tapi Takut Dihabisi Rakyatnya Sendiri

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Iran sebenarnya ingin membuka negosiasi dengan Washington, namun enggan mengakuinya secara terbuka karena khawatir menghadapi reaksi keras dari dalam negeri. “Mereka sangat ingin membuat kesepakatan, tapi takut mengatakannya. Karena mereka pikir mereka akan dihabisi oleh rakyatnya sendiri,” ujar Trump dalam pernyataan resminya, dikutip Reuters. Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi tekanan diplomatik AS terhadap Iran terkait program nuklir Teheran, yang dalam beberapa pekan terakhir turut mendorong volatilitas harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent saat ini bertahan di kisaran US$74 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$70 per barel, keduanya sensitif terhadap setiap perubahan dinamika di kawasan Teluk. Jika sinyal negosiasi ini berkembang menjadi kesepakatan konkret, tekanan geopolitik yang selama ini menopang harga minyak berpotensi mereda. Penurunan harga minyak secara berkelanjutan bisa menekan angka inflasi global, yang pada gilirannya memberi ruang bagi bank sentral, termasuk The Fed, untuk lebih cepat memangkas suku bunga. Kondisi suku bunga yang lebih rendah secara historis menjadi angin segar bagi aset berisiko, termasuk Bitcoin dan pasar kripto secara luas. Namun pasar belum bereaksi signifikan terhadap pernyataan Trump ini. Para analis mengingatkan bahwa klaim sepihak dari Washington tanpa konfirmasi dari pihak Iran belum cukup untuk mengubah arah kebijakan. Ketegangan Iran-AS tetap menjadi salah satu variabel utama yang perlu dicermati investor dalam memantau pergerakan harga komoditas dan aset berisiko ke depan.

Rp1 Juta Bitcoin di 2010 Kini Senilai Hampir Rp900 Miliar, Tapi Ada Satu Tahun yang Justru Bikin Rugi

Investasi senilai Rp1 juta pada Bitcoin di tahun 2010, saat harganya masih berada di kisaran US$0,08 per koin, kini bernilai hampir Rp900 miliar. Dengan jumlah tersebut, seorang investor bisa memperoleh sekitar 738 Bitcoin, yang pada harga saat ini di kisaran US$71.700 atau sekitar Rp1,2 miliar per koin, berubah menjadi salah satu keputusan finansial paling menguntungkan dalam sejarah aset digital. Namun tidak semua periode masuk memberikan hasil yang sama. Mereka yang menempatkan Rp1 juta pada Bitcoin di tahun 2015, saat pasar kripto hampir tidak dilirik siapa pun, kini memegang nilai aset sekitar Rp238 juta, masih jauh di atas modal awal meski tidak sebanding dengan generasi pertama pemegang Bitcoin. Data ini menunjukkan bahwa waktu masuk ke pasar memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dibanding jumlah modal yang ditempatkan. Satu periode menjadi pengecualian yang perlu dicermati: mereka yang membeli Bitcoin di awal 2025 ketika harganya menyentuh US$93.000 justru berada dalam posisi rugi hari ini. Rp1 juta yang diinvestasikan kala itu kini bernilai sekitar Rp820 ribu, turun sekitar 18 persen dari modal awal. Ini bukan anomali; koreksi tajam setelah fase kenaikan besar adalah pola yang berulang dalam sejarah Bitcoin sejak 2009. Pola yang sama terus terlihat dalam 16 tahun perjalanan aset ini: investor yang masuk di fase sepi, saat tidak ada liputan media besar dan tidak ada euforia publik, secara konsisten mencatat imbal hasil lebih tinggi dibanding mereka yang masuk saat harga sudah di puncak perhatian. Bagi investor ritel Indonesia yang kini mempertimbangkan posisi di aset kripto, data historis ini bukan jaminan, tetapi bisa menjadi cermin untuk mengevaluasi waktu dan harga masuk yang dipilih.

Komandan Angkatan Laut IRGC Alireza Tangsiri Dilaporkan Tewas dalam Serangan di Bandar Abbas

Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Alireza Tangsiri, dilaporkan tewas dalam sebuah serangan di Bandar Abbas, kota pelabuhan strategis yang berbatasan langsung dengan Selat Hormuz. Informasi ini disampaikan pejabat Israel kepada Jerusalem Post pada 26 Maret 2026. Iran hingga saat ini belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait laporan tersebut. Tangsiri adalah sosok kunci di balik penutupan Selat Hormuz sejak konflik AS-Iran pecah pada 28 Februari 2026. Di bawah komandonya, Angkatan Laut IRGC memblokir jalur yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia setiap harinya, mendorong harga minyak Brent melonjak ke atas US$100 per barel dan memicu krisis energi global terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Jika laporan ini terkonfirmasi, ini menjadi salah satu eliminasi militer paling berdampak dalam konflik ini. Kekosongan komando di posisi yang mengendalikan strategi Selat Hormuz berpotensi mengubah dinamika negosiasi antara Iran dan AS yang saat ini masih berjalan tanpa titik temu. Namun dampak ke pasar energi, Rupiah, dan kripto baru akan terlihat jelas setelah ada konfirmasi resmi dari pihak Iran. Selama status laporan ini masih belum terverifikasi, pasar kemungkinan akan bergerak volatil di tengah ketidakpastian informasi.

Trump Peringatkan Iran Harus Serius Bernegosiasi, AS Kirim Rencana Perdamaian 15 Poin Lewat Pakistan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan peringatan keras kepada Iran, menyebut Teheran harus segera bersikap serius dalam negosiasi atau menghadapi konsekuensi. Trump mengklaim negosiator Iran secara diam-diam mencari kesepakatan, meski Iran secara terbuka terus menolak adanya pembicaraan langsung dengan Washington. Ketegangan ini terjadi di tengah dinamika yang semakin kompleks. Melansir Bloomberg dan CNBC, AS telah mengirimkan rencana perdamaian 15 poin kepada Iran melalui perantara Pakistan. Iran menerima dokumen tersebut, namun juru bicara militer Iran tetap menegaskan tidak ada negosiasi yang berlangsung. Trump sebelumnya menunda ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari dengan alasan pembicaraan yang disebutnya “produktif.” Bagi pasar global, setiap sinyal dari negosiasi ini berdampak langsung ke harga energi dan aset berisiko. Ketika Trump mengumumkan penundaan serangan pekan lalu, harga minyak Brent langsung turun lebih dari 9 persen dalam satu sesi perdagangan, menurut data Bloomberg. Sensitivitas pasar terhadap perkembangan negosiasi ini mencerminkan betapa besar ketergantungan harga energi global pada hasil akhir konflik Iran-AS. Jika negosiasi gagal dan eskalasi kembali terjadi, pasar bersiap menghadapi guncangan energi berikutnya. Harga minyak Brent yang kembali menembus US$100 per barel akan menambah tekanan inflasi global, mempersulit pemangkasan suku bunga bank sentral, dan menekan aset berisiko termasuk Bitcoin dan Rupiah dalam waktu bersamaan.

Transaksi Besar Bitcoin Anjlok ke Level Terendah Sejak September 2023, Pelaku Pasar Besar Kurangi Aktivitas

Data on-chain Bitcoin menunjukkan sinyal yang patut dicermati. Jumlah transaksi harian Bitcoin senilai di atas US$100 ribu kini berada di titik terendah sejak September 2023, menurut data Glassnode. Transaksi besar di jaringan Bitcoin umumnya berasal dari institusi, dana investasi besar, atau investor kakap yang memindahkan aset dalam jumlah signifikan. Ketika volume transaksi ini turun drastis, artinya pelaku besar sedang mengurangi aktivitas, baik karena menunggu kepastian arah pasar maupun karena mulai keluar dari posisi yang sudah dibangun sebelumnya. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan volatilitas pasar saham AS yang berada di level tertinggi dalam satu dekade. Kombinasi keduanya menggambarkan satu kondisi yang sama: pelaku pasar besar sedang dalam mode tunggu dan lihat, bukan mode akumulasi. Secara historis, penurunan aktivitas transaksi besar sering mendahului periode konsolidasi harga yang lebih panjang. Bagi investor ritel yang saat ini memegang Bitcoin, data ini menjadi pengingat bahwa pergerakan harga dalam waktu dekat kemungkinan besar masih akan ditentukan oleh keputusan segelintir pelaku besar, bukan oleh sentimen pasar secara umum.

Akses Berhasil!

Silahkan Download PDF melalui tombol dibawah ini. Kamu juga dapat gabung ke grup discord gratis untuk dapatkan info crypto menarik lainnya!

Pendaftaran Berhasil

Terima kasih telah mendaftar. Link Zoom akan dikirim melalui WhatsApp kamu. Punya pertanyaan? Silahkan chat minsul melalui tombol dibawah ini.