Pakistan bergerak cepat mendorong putaran kedua perundingan AS-Iran setelah Islamabad Talks berakhir tanpa kesepakatan pada Minggu (13/4). Melansir Al Jazeera dan CBS News, Islamabad kini dalam kontak aktif dengan Washington dan Tehran, mendesak keduanya kembali ke meja sebelum gencatan senjata habis masa berlakunya sekitar 22 April 2026, tersisa kurang dari delapan hari.
Perundingan pertama berlangsung selama 21 jam pada 11-12 April, dipimpin Wakil Presiden AS JD Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. Dua isu utama tetap buntu: status Selat Hormuz dan program nuklir Iran. Ghalibaf menyatakan delegasi Iran telah mengajukan sejumlah inisiatif, namun gagal membangun kepercayaan. Ia menyebut minimnya kepercayaan sebagai hambatan utama, mengacu pada pengalaman konflik sebelumnya dengan pihak AS dan Israel.
Meski tidak ada kesepakatan, kedua pihak mengakui pembicaraan sempat mendekati penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU), sebuah kerangka perjanjian awal. Ini adalah sinyal terkuat sejauh ini bahwa ruang kompromi yang nyata memang ada. Pakistan kini secara resmi menyebut proses ini sebagai “Islamabad Process”, bukan sekadar pertemuan satu kali, sebagai upaya mempertahankan momentum diplomatik dan relevansi peran mediasi Islamabad.
Bagi pasar energi dan aset keuangan global, tenggat 22 April adalah titik kritis yang tidak bisa diabaikan. Harga minyak mentah Brent saat ini sudah berada di kisaran US$112 per barel, naik lebih dari 55 persen sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026. Jika putaran kedua gagal terwujud atau kembali berakhir tanpa hasil, pasar berpotensi mengantisipasi kembalinya eskalasi militer penuh, yang secara historis langsung mendorong lonjakan harga energi dan pelarian modal dari aset berisiko.
Bagi investor crypto, skenario gagalnya perundingan putaran kedua adalah risiko makro yang nyata. Bitcoin dalam beberapa pekan terakhir bergerak sangat sensitif terhadap perkembangan konflik Teluk. Setiap sinyal de-eskalasi mendorong pemulihan harga, sementara setiap eskalasi baru menekan sentimen pasar secara luas. Dengan window delapan hari yang tersisa, setiap pernyataan dari Islamabad, Washington, maupun Tehran patut dipantau ketat.