WLFI Pinjam Rp1,2 Triliun Pakai Token Sendiri, Depositor Terjebak dan Justin Sun Angkat Bicara

Justin Sun, investor terbesar proyek World Liberty Financial (WLFI) yang terhubung langsung ke keluarga Presiden AS Donald Trump, secara terbuka menuduh proyek tersebut menyembunyikan fungsi backdoor dalam kontrak token yang memungkinkan tim membekukan dompet siapapun tanpa pemberitahuan. Tuduhan ini bukan datang dari pihak luar, melansir CoinDesk, Sun mengklaim dirinya adalah korban pertama dan terbesar dari mekanisme tersebut, dengan aset senilai sekitar US$43 juta yang kini diblokir tim WLFI. Sun bukan nama kecil di industri ini. Pendiri jaringan blockchain Tron tersebut telah mengucurkan total US$175 juta ke proyek-proyek terkait Trump, termasuk US$75 juta langsung ke WLFI dan US$100 juta ke TRUMP memecoin. Ia sempat menjabat sebagai advisor resmi WLFI sebelum hubungan keduanya pecah dan berujung ke saling ancam tuntutan hukum. Yang membuat kasus ini lebih kompleks adalah data on-chain yang bisa diverifikasi publik. WLFI meminjam US$75 juta stablecoin dengan menjaminkan 5 miliar token milik sendiri di platform DeFi Dolomite, sebuah platform yang didirikan bersama oleh advisor WLFI sendiri. Lebih dari US$40 juta dari pinjaman tersebut dikirim ke Coinbase Prime tanpa penjelasan publik yang jelas. Sementara itu, depositor biasa yang menyimpan dana di pool yang sama tidak bisa menarik uang mereka karena pool sudah terisi penuh 100%. Pola ini langsung memicu perbandingan ke kolaps FTX pada 2022, di mana token milik sendiri dijadikan jaminan untuk meminjam uang nyata, skema yang terbukti berakhir dengan kerugian miliaran dolar bagi deposan. WLFI kini diperdagangkan di US$0,079, turun 76% dari harga tertingginya. Seluruh transaksi tercatat di blockchain dan bisa diverifikasi siapapun, menjadikan kasus ini salah satu kontroversi crypto paling transparan sekaligus paling meresahkan di tahun 2026.
Stok Bitcoin di Exchange Nyaris Habis, Data On-Chain Tunjukkan Whale Berhenti Jual

Data on-chain terbaru dari CryptoQuant mencatat penurunan tajam inflow whale ke Binance sejak akhir Maret 2026. Dalam 30 hari terakhir, volume Bitcoin yang dikirim para pemegang besar ke exchange menyentuh level terendah dalam beberapa bulan, turun dari kisaran 6 hingga 8 miliar ke bawah 2 miliar secara kumulatif. Penurunan ini menjadi sinyal bahwa tekanan jual dari pemain institusional mulai mereda secara signifikan. Ketika whale tidak lagi memindahkan Bitcoin ke exchange, pasokan yang siap dijual di pasar ikut menyusut. Dinamika ini dikenal sebagai supply shock, kondisi di mana jumlah aset yang tersedia untuk dibeli di pasar terbuka mengering sementara permintaan tetap stabil atau bahkan meningkat. Melansir CryptoQuant, kondisi serupa secara historis mendahului pergerakan harga yang lebih kuat dalam siklus Bitcoin sebelumnya. Bitcoin saat ini berada di kisaran 72.000 dolar AS, naik dari titik terendah sekitar 60.000 dolar di pertengahan Maret 2026. Kenaikan ini terjadi bersamaan dengan penurunan inflow whale, memperkuat narasi bahwa berkurangnya tekanan jual turut menjadi salah satu faktor pendorong pemulihan harga dalam beberapa pekan terakhir. Bagi investor ritel Indonesia, sinyal ini relevan karena menyentuh dinamika dasar pasar: semakin sedikit Bitcoin yang tersedia di exchange, semakin mahal harga yang harus dibayar pembeli berikutnya jika permintaan tidak ikut turun. Ini bukan jaminan kenaikan harga, tapi perubahan struktur pasar yang layak dicermati sebelum mengambil keputusan portofolio.
IRAN TAGIH $270 MILIAR GANTI RUGI PERANG KE AS: Tuntutan Ini Bisa Bikin Negosiasi Damai Molor Berbulan-bulan

Iran secara resmi menaksir kerugian akibat serangan AS dan Israel di angka US$270 miliar, dan menjadikan tuntutan reparasi perang sebagai salah satu syarat utama dalam negosiasi damai. Juru bicara pemerintah Iran Fatemeh Mohajerani menyampaikan estimasi tersebut kepada kantor berita Rusia RIA Novosti, seraya menegaskan angka ini masih bersifat sementara dan berpotensi lebih besar setelah penghitungan berlapis selesai dilakukan. Tuntutan ini menjadi batu sandungan baru dalam perundingan yang sudah berjalan berat. Melansir Al Jazeera, pembicaraan di Islamabad pada 12 April gagal mencapai kesepakatan setelah lebih dari 20 jam negosiasi, dengan AS dan Iran masih terpaut jauh soal syarat-syarat mendasar. Trump kemudian mengumumkan blokade laut terhadap Iran mulai 13 April, eskalasi terbaru yang makin mempersulit jalan menuju deal. Angka US$270 miliar bukan harga mati. Beberapa pejabat Iran sebelumnya menyebut kerugian total bisa menembus US$1 triliun jika dihitung dari kehilangan pendapatan minyak, stagnasi industri, dan krisis sosial akibat sanksi dan perang yang berlangsung sejak 28 Februari 2026. Semakin besar angka yang dituntut, semakin jauh garis finish negosiasi dari jangkauan kedua pihak. Bagi pasar global, kebuntuan ini berarti Selat Hormuz berpotensi tetap tertutup lebih lama. Harga minyak Brent yang sudah berada di kisaran US$112 per barel berpotensi naik lebih jauh jika tidak ada tanda-tanda kesepakatan dalam waktu dekat. Bagi Indonesia, tekanan pada subsidi BBM, Pertamina, dan cadangan devisa terus bertambah setiap hari ketidakpastian ini berlanjut.
Trump Sebut Perang Iran “Hampir Selesai,” Pasar Tunggu Kepastian Sebelum Bergerak

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan perang dengan Iran “hampir selesai” dan Iran sangat ingin mencapai kesepakatan damai, pernyataan yang muncul tepat sehari setelah AS memberlakukan blokade angkatan laut di Selat Hormuz. Pernyataan ini disampaikan Trump di tengah tekanan pasar energi global yang masih tinggi, dengan harga minyak Brent bertahan di kisaran 112 dolar AS per barel sejak konflik pecah pada akhir Februari lalu. Namun kondisi di lapangan jauh lebih rumit dari gambaran yang disajikan Trump. Melansir CNN dan CNBC, perundingan di Islamabad akhir pekan lalu gagal mencapai kesepakatan setelah lebih dari 21 jam negosiasi. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut delegasi AS datang dengan tuntutan yang terus berubah dan tidak beriktikad baik. Wakil Presiden JD Vance yang memimpin delegasi AS menyatakan pihaknya telah meletakkan tawaran terbaik di atas meja dan kini giliran Iran untuk merespons. Gencatan senjata yang berlaku saat ini berakhir pada 21 April. Melansir Al Jazeera, negosiasi putaran kedua masih dalam pembahasan namun belum ada jadwal yang ditetapkan. Blokade angkatan laut AS di Selat Hormuz yang baru diberlakukan semakin memperketat tekanan ekonomi terhadap Tehran, sekaligus menjaga jalur pelayaran global tetap terganggu selama kesepakatan belum tercapai. Bagi pasar keuangan, sinyal dari Trump cukup untuk meredam kepanikan jangka pendek. Harga minyak yang sempat naik atas kemungkinan negosiasi kembali turun pada Selasa pagi, sementara pasar saham justru menguat. Selama Hormuz belum dibuka secara penuh, tekanan inflasi global tetap ada dan itu langsung memengaruhi ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed yang menjadi salah satu penentu arah aset berisiko termasuk Bitcoin.
Startup AI Ini Tiba-Tiba Lebih Mahal dari Seluruh Bank di Indonesia, Investor Rebutan Masuk

Anthropic menerima sejumlah tawaran dari investor untuk putaran pendanaan baru dengan valuasi mencapai 800 miliar dolar AS, lebih dari dua kali lipat valuasi 380 miliar dolar yang ditetapkan hanya dua bulan lalu. Melansir Bloomberg, perusahaan di balik model AI Claude ini sejauh ini menolak seluruh tawaran tersebut dan belum membuka putaran pendanaan baru. Reuters mengonfirmasi laporan serupa namun menyatakan belum bisa memverifikasi angka tersebut secara independen. Lonjakan minat investor bukan tanpa alasan. Pendapatan tahunan Anthropic kini melampaui 30 miliar dolar, naik drastis dari sekitar 9 miliar dolar di akhir 2025, didorong oleh akselerasi permintaan terhadap Claude di segmen enterprise dan peluncuran serangkaian produk AI coding dan agen dalam beberapa bulan terakhir. Angka 800 miliar dolar ini menempatkan Anthropic hampir setara dengan OpenAI yang ditaksir 852 miliar dolar dalam putaran pendanaan Maret lalu, menjadikan keduanya dua startup paling mahal dalam sejarah. Untuk konteks, valuasi 800 miliar dolar setara dengan lebih dari dua kali lipat total aset seluruh bank umum di Indonesia yang tercatat sekitar 12.000 triliun rupiah per akhir 2025. Angka ini juga melampaui kapitalisasi pasar gabungan Tesla dan Toyota, dua raksasa industri otomotif global. Kenaikan dari 380 miliar ke 800 miliar dolar hanya dalam dua bulan mencerminkan kecepatan revaluasi aset AI yang tidak memiliki preseden di era modern. Bagi pasar crypto dan teknologi, tren ini memperkuat narasi bahwa modal institusional global terus bergerak masuk ke infrastruktur AI dengan agresivitas tinggi.
China Diam-Diam Borong 50 Ton Emas, Perang Mata Uang Makin Nyata

Dua kelompok investor global bereaksi sepenuhnya berbeda terhadap perang Iran: investor Amerika Utara menjual emas besar-besaran, sementara China justru membelinya di harga yang sama. Amerika Utara mencatat outflow sebesar 13 miliar dolar dari ETF emas di Maret 2026, mengakhiri streak inflow sembilan bulan berturut-turut dan menjadi outflow bulanan terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah. Dalam satu bulan, investor Barat membuang emas senilai lebih dari Rp210 triliun. Di sisi berlawanan, ETF emas China mencatat inflow rekor sebesar 8,5 miliar dolar sepanjang Q1 2026, dengan total holdings naik 50 ton ke level 298 ton, rekor tertinggi sepanjang sejarah. Bank sentral China melakukan pembelian emas bulan ke-17 secara berturut-turut di Maret, menambah cadangan emas negara ke level 2.313 ton atau sekitar 9 persen dari total cadangan devisa. Pola ini bukan kebetulan. Holdings ETF emas China telah lebih dari dua kali lipat sejak awal 2025, sementara volume perdagangan emas di Shanghai Futures Exchange mendekati rata-rata 540 ton per hari sepanjang tahun berjalan. Akumulasi sebesar ini, dilakukan secara konsisten selama tujuh bulan berturut-turut, mencerminkan strategi jangka panjang yang jauh melampaui respons terhadap satu konflik regional. Konteks yang lebih besar adalah de-dolarisasi. China secara sistematis memindahkan cadangan dari obligasi pemerintah AS ke emas fisik, langkah yang juga dilakukan Rusia, India, dan sejumlah bank sentral negara berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Sementara investor Barat menjual emas karena harapan de-eskalasi Iran, China melihat momen yang sama sebagai kesempatan akumulasi dalam strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS sebagai cadangan devisa global. Bagi investor Indonesia, dinamika ini relevan langsung. Pelemahan dolar AS dalam jangka panjang akan berdampak ke nilai tukar rupiah, harga komoditas ekspor, dan daya tarik aset berisiko termasuk Bitcoin. Pertanyaannya bukan lagi apakah pergeseran ini akan terjadi, tapi seberapa cepat, dan apakah portofolio kamu sudah mempertimbangkan skenario ini.
Retak! Trump Ultimatum NATO: Bayar 5% atau Keluar dari Meja Keputusan

Di balik retorika Trump soal NATO “tidak ada saat dibutuhkan,” ada tuntutan yang jauh lebih konkret dan lebih mengancam eksistensi aliansi: uang. Trump menuntut seluruh anggota NATO meningkatkan belanja pertahanan ke level 5 persen dari GDP, jauh di atas ambang batas 2 persen yang sudah banyak negara kesulitan penuhi. “Ini seharusnya sudah dilakukan bertahun-tahun lalu,” kata Trump dalam pernyataannya. Tuntutan ini bukan sekadar retorika. Trump mempertimbangkan untuk mencabut hak suara negara-negara yang belanja pertahanannya di bawah 5 persen GDP dalam pengambilan keputusan NATO. Dengan kondisi saat ini, hanya Lithuania dan Latvia yang memenuhi syarat tersebut. Artinya, hampir seluruh Eropa termasuk Jerman, Prancis, dan Inggris berpotensi kehilangan suara dalam aliansi yang mereka bangun bersama sejak 1949. Di Hague Summit 2025, sebagian besar sekutu NATO sudah menyetujui target 5 persen GDP pada 2035, sebuah komitmen yang Trump sebut sebagai “kemenangan besar.” Namun perang Iran mengubah konteks sepenuhnya. Sekutu yang sudah berkomitmen menaikkan anggaran pertahanan kini juga menolak terlibat dalam konflik yang tidak mereka setujui, membuat Trump merasa komitmen finansial saja tidak cukup tanpa loyalitas militer penuh. Angka 5 persen GDP untuk pertahanan bukan hal kecil. Saat ini hanya segelintir negara di dunia yang mencapai level tersebut, sebagian besar dalam kondisi perang aktif. Memaksa seluruh Eropa mencapai angka ini dalam waktu dekat berarti pergeseran anggaran besar-besaran dari belanja sosial ke militer, sebuah transformasi yang secara politik hampir mustahil di sebagian besar negara demokrasi Eropa. Bagi pasar keuangan global, retaknya NATO bukan hanya isu geopolitik. Ini adalah sinyal fundamental pergeseran arsitektur keamanan yang selama 80 tahun menjadi fondasi stabilitas ekonomi Barat. Ketidakpastian ini mendorong modal ke aset safe haven, dan Bitcoin semakin masuk dalam daftar pertimbangan investor institusional sebagai alternatif di luar sistem keuangan berbasis aliansi tradisional.
Tujuan Perang Iran Meleset: Rezim Baru Justru Lebih Keras dari Sebelumnya

Enam minggu setelah Operation Epic Fury dimulai, tujuan utama yang dinyatakan AS dan Israel sejak hari pertama, yakni pergantian rezim Iran, jauh dari tercapai. Sejak 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel secara terbuka menyatakan tujuan perang adalah pergantian rezim di Iran melalui kombinasi serangan militer, pembunuhan pemimpin, dan dorongan pemberontakan internal. Trump dan Netanyahu bahkan secara langsung menyerukan rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintah mereka sendiri. Yang terjadi justru sebaliknya. Rezim baru di bawah Mojtaba Khamenei semakin memperketat cengkeramannya atas negara. Pemblokiran internet nasional Iran memasuki hari ke-36, dengan sensor ketat pada mesin pencari di mana kata kunci seperti “perang” tidak menghasilkan hasil apapun. Pemerintah Iran bergerak maju mengimplementasikan teknologi yang hanya mengizinkan orang dengan izin keamanan untuk mengakses internet internasional. Serangan ini diluncurkan ketika rezim Iran berada di titik terlemahnya dalam beberapa tahun terakhir, setelah gelombang protes besar di awal 2026 yang dipicu oleh ekonomi yang melemah dan infrastruktur yang keropos. Namun protes itu berhasil ditumpas dengan penggunaan kekuatan yang masif. Alih-alih memanfaatkan kelemahan ini untuk memicu pemberontakan, serangan militer dari luar justru memperkuat narasi rezim bahwa ancaman asing adalah nyata, dan rakyat Iran perlu bersatu di balik pemerintah mereka. Ini bukan hanya kegagalan militer, ini adalah kegagalan strategis yang sudah diprediksi banyak analis sejak awal. Serangan yang dirancang untuk memicu keruntuhan dari dalam justru memberikan rezim baru justifikasi untuk memperluas kontrol dan represi. Sementara itu, blokade Hormuz yang seharusnya mencekik ekonomi Iran juga memukul ekonomi global dengan kenaikan harga minyak lebih dari 50 persen sejak perang dimulai, menempatkan AS dalam posisi yang semakin sulit untuk mempertahankan tekanan militer tanpa merusak ekonominya sendiri. Bagi pasar keuangan global, implikasi terbesar dari dinamika ini adalah durasi konflik yang berpotensi jauh melampaui gencatan senjata 21 April. Selama tujuan pergantian rezim belum tercapai dan Hormuz belum dibuka penuh, ketidakpastian geopolitik tetap menjadi faktor penekan aset berisiko termasuk Bitcoin, sementara harga minyak yang tinggi terus mempersulit ruang bank sentral global untuk memangkas suku bunga.
Tinggal 8 Hari, AS-Iran Harus Damai atau Perang Kembali Pecah

Pakistan bergerak cepat mendorong putaran kedua perundingan AS-Iran setelah Islamabad Talks berakhir tanpa kesepakatan pada Minggu (13/4). Melansir Al Jazeera dan CBS News, Islamabad kini dalam kontak aktif dengan Washington dan Tehran, mendesak keduanya kembali ke meja sebelum gencatan senjata habis masa berlakunya sekitar 22 April 2026, tersisa kurang dari delapan hari. Perundingan pertama berlangsung selama 21 jam pada 11-12 April, dipimpin Wakil Presiden AS JD Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. Dua isu utama tetap buntu: status Selat Hormuz dan program nuklir Iran. Ghalibaf menyatakan delegasi Iran telah mengajukan sejumlah inisiatif, namun gagal membangun kepercayaan. Ia menyebut minimnya kepercayaan sebagai hambatan utama, mengacu pada pengalaman konflik sebelumnya dengan pihak AS dan Israel. Meski tidak ada kesepakatan, kedua pihak mengakui pembicaraan sempat mendekati penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU), sebuah kerangka perjanjian awal. Ini adalah sinyal terkuat sejauh ini bahwa ruang kompromi yang nyata memang ada. Pakistan kini secara resmi menyebut proses ini sebagai “Islamabad Process”, bukan sekadar pertemuan satu kali, sebagai upaya mempertahankan momentum diplomatik dan relevansi peran mediasi Islamabad. Bagi pasar energi dan aset keuangan global, tenggat 22 April adalah titik kritis yang tidak bisa diabaikan. Harga minyak mentah Brent saat ini sudah berada di kisaran US$112 per barel, naik lebih dari 55 persen sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026. Jika putaran kedua gagal terwujud atau kembali berakhir tanpa hasil, pasar berpotensi mengantisipasi kembalinya eskalasi militer penuh, yang secara historis langsung mendorong lonjakan harga energi dan pelarian modal dari aset berisiko. Bagi investor crypto, skenario gagalnya perundingan putaran kedua adalah risiko makro yang nyata. Bitcoin dalam beberapa pekan terakhir bergerak sangat sensitif terhadap perkembangan konflik Teluk. Setiap sinyal de-eskalasi mendorong pemulihan harga, sementara setiap eskalasi baru menekan sentimen pasar secara luas. Dengan window delapan hari yang tersisa, setiap pernyataan dari Islamabad, Washington, maupun Tehran patut dipantau ketat.
Iran Tawar Jeda Nuklir 5 Tahun, Trump Langsung Tolak: Perang Bisa Berhenti?

Perundingan nuklir AS-Iran kembali menemui jalan buntu. Melansir New York Times, Iran menawarkan jeda pengayaan uranium selama maksimal lima tahun sebagai respons atas permintaan AS dalam perundingan di Islamabad, namun Presiden Donald Trump langsung menolak tawaran tersebut. Melansir Wall Street Journal, AS sebelumnya telah mengajukan proposal jeda 20 tahun, sebuah pelunakan dari tuntutan awal yang meminta Iran menghentikan pengayaan uranium secara permanen. Selisih 15 tahun antara posisi kedua pihak bukan sekadar perbedaan angka. Bagi AS, pengayaan uranium adalah jalur potensial menuju senjata nuklir yang tidak bisa dibiarkan terlalu singkat. Bagi Iran, komitmen 20 tahun berarti melepaskan kedaulatan atas program nuklir strategisnya selama satu generasi penuh, sesuatu yang secara politik hampir mustahil diterima di dalam negeri. Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan Washington telah menunjukkan fleksibilitas dalam perundingan, namun menegaskan bola kini ada di pihak Iran. Vance juga memperingatkan bahwa arah negosiasi akan berubah jika Tehran tidak menunjukkan kemajuan dalam pembukaan Selat Hormuz. Dua isu ini, nuklir dan Hormuz, sama-sama belum terselesaikan dari Islamabad Talks yang berlangsung 21 jam pada 11-12 April lalu dan berakhir tanpa kesepakatan. Bagi pasar energi, kebuntuan ini datang di waktu yang paling kritis. Harga minyak mentah Brent saat ini berada di kisaran US$112 per barel, naik lebih dari 55 persen sejak konflik pecah akhir Februari 2026. Dengan gencatan senjata yang akan habis sekitar 22 April, setiap hari tanpa kemajuan diplomatik adalah tekanan tambahan bagi pasar global yang sudah sangat sensitif terhadap perkembangan kawasan Teluk. Untuk Bitcoin dan aset berisiko lainnya, skenario gagalnya perundingan putaran kedua adalah risiko makro yang nyata. Ketidakpastian geopolitik yang berkepanjangan secara historis menekan sentimen pasar dan mendorong pelarian modal ke aset safe haven konvensional, setidaknya dalam jangka pendek. Dengan window diplomasi yang tersisa kurang dari delapan hari, setiap pernyataan dari Washington maupun Tehran patut dipantau ketat oleh investor.