Perundingan nuklir AS-Iran kembali menemui jalan buntu. Melansir New York Times, Iran menawarkan jeda pengayaan uranium selama maksimal lima tahun sebagai respons atas permintaan AS dalam perundingan di Islamabad, namun Presiden Donald Trump langsung menolak tawaran tersebut. Melansir Wall Street Journal, AS sebelumnya telah mengajukan proposal jeda 20 tahun, sebuah pelunakan dari tuntutan awal yang meminta Iran menghentikan pengayaan uranium secara permanen.
Selisih 15 tahun antara posisi kedua pihak bukan sekadar perbedaan angka. Bagi AS, pengayaan uranium adalah jalur potensial menuju senjata nuklir yang tidak bisa dibiarkan terlalu singkat. Bagi Iran, komitmen 20 tahun berarti melepaskan kedaulatan atas program nuklir strategisnya selama satu generasi penuh, sesuatu yang secara politik hampir mustahil diterima di dalam negeri.
Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan Washington telah menunjukkan fleksibilitas dalam perundingan, namun menegaskan bola kini ada di pihak Iran. Vance juga memperingatkan bahwa arah negosiasi akan berubah jika Tehran tidak menunjukkan kemajuan dalam pembukaan Selat Hormuz. Dua isu ini, nuklir dan Hormuz, sama-sama belum terselesaikan dari Islamabad Talks yang berlangsung 21 jam pada 11-12 April lalu dan berakhir tanpa kesepakatan.
Bagi pasar energi, kebuntuan ini datang di waktu yang paling kritis. Harga minyak mentah Brent saat ini berada di kisaran US$112 per barel, naik lebih dari 55 persen sejak konflik pecah akhir Februari 2026. Dengan gencatan senjata yang akan habis sekitar 22 April, setiap hari tanpa kemajuan diplomatik adalah tekanan tambahan bagi pasar global yang sudah sangat sensitif terhadap perkembangan kawasan Teluk.
Untuk Bitcoin dan aset berisiko lainnya, skenario gagalnya perundingan putaran kedua adalah risiko makro yang nyata. Ketidakpastian geopolitik yang berkepanjangan secara historis menekan sentimen pasar dan mendorong pelarian modal ke aset safe haven konvensional, setidaknya dalam jangka pendek. Dengan window diplomasi yang tersisa kurang dari delapan hari, setiap pernyataan dari Washington maupun Tehran patut dipantau ketat oleh investor.