Iran secara resmi menaksir kerugian akibat serangan AS dan Israel di angka US$270 miliar, dan menjadikan tuntutan reparasi perang sebagai salah satu syarat utama dalam negosiasi damai. Juru bicara pemerintah Iran Fatemeh Mohajerani menyampaikan estimasi tersebut kepada kantor berita Rusia RIA Novosti, seraya menegaskan angka ini masih bersifat sementara dan berpotensi lebih besar setelah penghitungan berlapis selesai dilakukan.
Tuntutan ini menjadi batu sandungan baru dalam perundingan yang sudah berjalan berat. Melansir Al Jazeera, pembicaraan di Islamabad pada 12 April gagal mencapai kesepakatan setelah lebih dari 20 jam negosiasi, dengan AS dan Iran masih terpaut jauh soal syarat-syarat mendasar. Trump kemudian mengumumkan blokade laut terhadap Iran mulai 13 April, eskalasi terbaru yang makin mempersulit jalan menuju deal.
Angka US$270 miliar bukan harga mati. Beberapa pejabat Iran sebelumnya menyebut kerugian total bisa menembus US$1 triliun jika dihitung dari kehilangan pendapatan minyak, stagnasi industri, dan krisis sosial akibat sanksi dan perang yang berlangsung sejak 28 Februari 2026. Semakin besar angka yang dituntut, semakin jauh garis finish negosiasi dari jangkauan kedua pihak.
Bagi pasar global, kebuntuan ini berarti Selat Hormuz berpotensi tetap tertutup lebih lama. Harga minyak Brent yang sudah berada di kisaran US$112 per barel berpotensi naik lebih jauh jika tidak ada tanda-tanda kesepakatan dalam waktu dekat. Bagi Indonesia, tekanan pada subsidi BBM, Pertamina, dan cadangan devisa terus bertambah setiap hari ketidakpastian ini berlanjut.