Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan perang dengan Iran “hampir selesai” dan Iran sangat ingin mencapai kesepakatan damai, pernyataan yang muncul tepat sehari setelah AS memberlakukan blokade angkatan laut di Selat Hormuz. Pernyataan ini disampaikan Trump di tengah tekanan pasar energi global yang masih tinggi, dengan harga minyak Brent bertahan di kisaran 112 dolar AS per barel sejak konflik pecah pada akhir Februari lalu.
Namun kondisi di lapangan jauh lebih rumit dari gambaran yang disajikan Trump. Melansir CNN dan CNBC, perundingan di Islamabad akhir pekan lalu gagal mencapai kesepakatan setelah lebih dari 21 jam negosiasi. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut delegasi AS datang dengan tuntutan yang terus berubah dan tidak beriktikad baik. Wakil Presiden JD Vance yang memimpin delegasi AS menyatakan pihaknya telah meletakkan tawaran terbaik di atas meja dan kini giliran Iran untuk merespons.
Gencatan senjata yang berlaku saat ini berakhir pada 21 April. Melansir Al Jazeera, negosiasi putaran kedua masih dalam pembahasan namun belum ada jadwal yang ditetapkan. Blokade angkatan laut AS di Selat Hormuz yang baru diberlakukan semakin memperketat tekanan ekonomi terhadap Tehran, sekaligus menjaga jalur pelayaran global tetap terganggu selama kesepakatan belum tercapai.
Bagi pasar keuangan, sinyal dari Trump cukup untuk meredam kepanikan jangka pendek. Harga minyak yang sempat naik atas kemungkinan negosiasi kembali turun pada Selasa pagi, sementara pasar saham justru menguat. Selama Hormuz belum dibuka secara penuh, tekanan inflasi global tetap ada dan itu langsung memengaruhi ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed yang menjadi salah satu penentu arah aset berisiko termasuk Bitcoin.