Enam minggu setelah Operation Epic Fury dimulai, tujuan utama yang dinyatakan AS dan Israel sejak hari pertama, yakni pergantian rezim Iran, jauh dari tercapai. Sejak 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel secara terbuka menyatakan tujuan perang adalah pergantian rezim di Iran melalui kombinasi serangan militer, pembunuhan pemimpin, dan dorongan pemberontakan internal. Trump dan Netanyahu bahkan secara langsung menyerukan rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintah mereka sendiri.
Yang terjadi justru sebaliknya. Rezim baru di bawah Mojtaba Khamenei semakin memperketat cengkeramannya atas negara. Pemblokiran internet nasional Iran memasuki hari ke-36, dengan sensor ketat pada mesin pencari di mana kata kunci seperti “perang” tidak menghasilkan hasil apapun. Pemerintah Iran bergerak maju mengimplementasikan teknologi yang hanya mengizinkan orang dengan izin keamanan untuk mengakses internet internasional.
Serangan ini diluncurkan ketika rezim Iran berada di titik terlemahnya dalam beberapa tahun terakhir, setelah gelombang protes besar di awal 2026 yang dipicu oleh ekonomi yang melemah dan infrastruktur yang keropos. Namun protes itu berhasil ditumpas dengan penggunaan kekuatan yang masif. Alih-alih memanfaatkan kelemahan ini untuk memicu pemberontakan, serangan militer dari luar justru memperkuat narasi rezim bahwa ancaman asing adalah nyata, dan rakyat Iran perlu bersatu di balik pemerintah mereka.
Ini bukan hanya kegagalan militer, ini adalah kegagalan strategis yang sudah diprediksi banyak analis sejak awal. Serangan yang dirancang untuk memicu keruntuhan dari dalam justru memberikan rezim baru justifikasi untuk memperluas kontrol dan represi. Sementara itu, blokade Hormuz yang seharusnya mencekik ekonomi Iran juga memukul ekonomi global dengan kenaikan harga minyak lebih dari 50 persen sejak perang dimulai, menempatkan AS dalam posisi yang semakin sulit untuk mempertahankan tekanan militer tanpa merusak ekonominya sendiri.
Bagi pasar keuangan global, implikasi terbesar dari dinamika ini adalah durasi konflik yang berpotensi jauh melampaui gencatan senjata 21 April. Selama tujuan pergantian rezim belum tercapai dan Hormuz belum dibuka penuh, ketidakpastian geopolitik tetap menjadi faktor penekan aset berisiko termasuk Bitcoin, sementara harga minyak yang tinggi terus mempersulit ruang bank sentral global untuk memangkas suku bunga.