Seratus dolar yang kamu simpan di 2020 kini hanya mampu membeli barang senilai 80 dolar. Itulah gambaran nyata dari penurunan daya beli dolar Amerika Serikat sebesar sekitar 20 persen dalam lima tahun terakhir, salah satu erosi nilai mata uang terbesar yang tercatat dalam beberapa generasi, menurut data resmi Biro Statistik Tenaga Kerja AS yang dirujuk Federal Reserve.
Penurunan paling tajam terjadi antara 2021 dan 2022, ketika daya beli dolar turun 7,4 persen hanya dalam 12 bulan, level penurunan tahunan tercepat sejak awal dekade 1980-an. Pemicunya adalah kombinasi stimulus fiskal besar-besaran pasca pandemi, gangguan rantai pasok global, dan lonjakan harga energi yang mendorong inflasi AS menembus 9 persen pada pertengahan 2022.
Yang perlu dipahami adalah ini bukan sekadar soal harga bahan makanan atau bensin yang naik. Ini adalah perubahan struktural dalam nilai uang itu sendiri. Ketika bank sentral mencetak uang dalam jumlah besar untuk membiayai stimulus, setiap lembar uang yang beredar secara otomatis berkurang nilainya karena jumlah barang dan jasa yang tersedia tidak bertambah secepat pasokan uang.
Bagi investor, fenomena ini memiliki implikasi langsung. Aset dengan pasokan terbatas seperti Bitcoin secara historis menjadi salah satu instrumen yang dicari ketika mata uang fiat melemah secara sistematis. Data menunjukkan institusi besar mulai mengalihkan sebagian cadangan mereka ke Bitcoin sejak siklus inflasi ini dimulai di 2021, sebuah tren yang belum menunjukkan tanda-tanda berbalik arah.
Pertanyaannya bukan lagi apakah daya beli uang fiat akan terus tergerus, melainkan seberapa cepat, dan di mana kamu menyimpan nilaimu.