Dana Besar Diam-Diam Masuk Kripto, Termasuk Bitcoin & Ethereum

Reli Bitcoin dan Ethereum pasca gencatan senjata bukan sekadar reaksi emosional. Data on-chain bicara lain. Reli Bitcoin dan Ethereum pasca gencatan senjata AS-Iran bukan sekadar reaksi emosional pasar. Data on-chain menunjukkan ada uang baru yang masuk secara terstruktur. Menurut CryptoQuant, reli yang terjadi dalam 24 jam setelah pengumuman gencatan senjata didorong oleh pembukaan posisi long baru, bukan likuidasi paksa dari trader yang bertaruh harga turun. Kenapa Ini Berbeda dari Reli Biasa Perbedaan ini penting untuk dipahami. Reli yang dipicu likuidasi short biasanya cepat habis karena tidak ada pembeli baru yang menopang harga. Sebaliknya, reli yang didorong posisi long baru menunjukkan bahwa investor secara aktif memilih masuk pasar dengan keyakinan harga akan terus naik. Open interest Bitcoin dan Ethereum di pasar futures perpetual masing-masing melonjak lebih dari $2 miliar dalam satu hari, sinyal masuknya modal segar dalam skala besar. Masuk di Tengah Ketakutan Ekstrem Konteksnya relevan: ini terjadi di tengah kondisi pasar yang sebelumnya berada dalam ketakutan ekstrem. Fear and Greed Index sempat menyentuh level terendah dalam berbulan-bulan, dan Bitcoin masih bergerak di kisaran $66.500 sebelum pengumuman gencatan senjata. Masuknya posisi long baru dalam skala lebih dari $2 miliar dalam satu hari menunjukkan bahwa pelaku pasar institusional tidak menunggu kepastian penuh sebelum mulai membangun posisi. Yang Perlu Dicermati Selanjutnya Yang perlu diperhatikan ke depan adalah apakah momentum ini bertahan setelah negosiasi AS-Iran di Pakistan akhir pekan ini. Jika gencatan senjata bertahan dan Selat Hormuz mulai normal kembali, fondasi untuk reli lanjutan sudah mulai terbentuk dari bawah.
Dunia Deal $1,25 Triliun dalam 3 Bulan, Indonesia Dapat Berapa?

Saat korporasi global menandatangani deal senilai $1,25 triliun hanya dalam tiga bulan pertama 2026, satu pertanyaan yang jarang dibahas adalah: berapa porsi yang masuk ke Indonesia? Gelombang Modal Global yang Tidak Merata Total nilai merger dan akuisisi global di kuartal pertama 2026 mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, naik 26% dibanding periode yang sama tahun lalu. Ini bukan sekadar angka. Di baliknya ada perlombaan penguasaan infrastruktur kecerdasan buatan, konsolidasi industri makanan dan konsumen skala raksasa, hingga private equity yang mulai menggelontorkan sekitar $2 triliun modal yang selama ini tertahan di pinggir lapangan. Modal sebesar itu tidak akan tersebar merata. Ia mengalir ke negara dengan kepastian hukum paling kuat, efisiensi regulasi paling tinggi, dan potensi pertumbuhan paling meyakinkan. Indonesia di Tengah Pesta yang Tidak Sepenuhnya Miliknya Kenyataannya, investasi asing langsung ke Indonesia sempat turun 8,9% secara tahunan di kuartal ketiga 2025, penurunan terbesar sejak kuartal pertama 2020, di tengah tekanan tarif Amerika Serikat dan melemahnya daya beli domestik. Ini terjadi justru ketika gelombang modal global sedang berputar dengan kecepatan tertinggi dalam sejarah. Pemerintah sendiri mengakui persaingan dengan negara lain untuk memperebutkan modal semakin ketat. Vietnam menarik lebih banyak pabrik teknologi. India mengunci komitmen investasi dari perusahaan-perusahaan Amerika yang mendiversifikasi rantai pasokan dari China. Malaysia membangun ekosistem data center dengan insentif pajak yang agresif. Modal Dasar yang Kuat, Tapi Belum Cukup Indonesia punya argumen yang kuat di atas kertas: populasi 280 juta jiwa, pertumbuhan ekonomi di atas 5%, posisi strategis di jantung Asia Tenggara, dan kekayaan sumber daya alam yang belum sepenuhnya dioptimalkan. Larangan ekspor nikel yang dimulai 2020 terbukti berhasil menarik investasi smelter asing dalam jumlah besar. Tapi dalam perlombaan berebut modal global yang semakin selektif ini, dasar yang kuat saja tidak cukup. Setiap dolar investasi asing yang tidak masuk ke Indonesia adalah dolar yang masuk ke Vietnam, India, atau Malaysia. Dan ketika sekitar 80% eksekutif M&A global menyatakan berencana meningkatkan aktivitas deal tahun ini, jendela kesempatannya tidak akan terbuka selamanya. Apa Hubungannya dengan Kripto dan Kelas Menengah Indonesia? Bagi investor kripto Indonesia, dinamika ini relevan secara langsung. Semakin besar aliran investasi asing masuk, semakin kuat fondasi ekonomi yang menopang kelas menengah yang menjadi basis utama adopsi kripto di dalam negeri. Rupiah yang stabil, lapangan kerja yang tumbuh, dan daya beli yang meningkat adalah prasyarat untuk adopsi aset digital yang lebih luas. Sebaliknya, ketika investasi asing melambat, tekanan pada rupiah meningkat, daya beli tergerus, dan alokasi ke aset berisiko seperti kripto menjadi prioritas yang lebih mudah dikorbankan. Indonesia tidak kekurangan potensi. Yang dibutuhkan adalah eksekusi yang lebih cepat dari pesaing regionalnya, sebelum gelombang $1,25 triliun ini selesai berputar dan uangnya sudah terkunci di tempat lain.
Israel Serang Lebanon 254 Tewas Jam Setelah Gencatan Senjata, 800 Kapal Masih Terjebak di Teluk Persia

Israel melancarkan serangan udara terbesar sepanjang konflik di Lebanon pada 8 April 2026, menghantam lebih dari 100 pusat komando dan lokasi militer Hezbollah dalam waktu 10 menit, termasuk kawasan padat penduduk di jantung Beirut tanpa peringatan sebelumnya, melansir Bloomberg. Serangan ini dilakukan hanya beberapa jam setelah AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata dua minggu yang sempat disambut lega oleh pasar global dan warga sipil Lebanon yang sudah sebulan lebih hidup di bawah ancaman bom. Kementerian Pertahanan Sipil Lebanon mencatat sedikitnya 254 orang tewas dan lebih dari 1.165 lainnya terluka dalam serangan 8 April tersebut, menjadikannya hari dengan korban jiwa tertinggi sejak konflik ini dimulai, melansir Al Jazeera. Di antara yang tewas terdapat tenaga medis dan warga sipil di kawasan komersial Beirut yang tidak masuk dalam peringatan evakuasi Israel sebelumnya. Konflik ini langsung memunculkan kontradiksi serius dalam perjanjian gencatan senjata. AS dan Israel menyatakan gencatan senjata dengan Iran tidak mencakup operasi militer terhadap Hezbollah di Lebanon. Namun Iran dan Pakistan sebagai mediator menyatakan Lebanon seharusnya masuk dalam perjanjian tersebut, melansir CNN. Wakil Presiden AS JD Vance menyebut hal ini sebagai “kesalahpahaman”, sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan tanggung jawab ada di tangan AS untuk memastikan Israel mematuhi kesepakatan. Ketegangan ini langsung berdampak ke Selat Hormuz. Iran menutup kembali akses kapal komersial setelah serangan Israel di Lebanon, dan hanya tiga kapal yang tercatat melintas pada hari Rabu. Data Marine Traffic menunjukkan 426 tanker minyak, 34 kapal LPG, dan 19 kapal LNG masih tertahan di kawasan tersebut, melansir CNN. Secara keseluruhan lebih dari 800 kapal terjebak di dalam Teluk Persia, sementara dalam kondisi normal sekitar 135 kapal melewati Hormuz setiap harinya, melansir Bloomberg. Bagi pasar global, setiap jam Hormuz tetap tertutup adalah tekanan tambahan terhadap pasokan energi dunia. Brent crude yang sempat anjlok sekitar 13 persen saat gencatan senjata diumumkan kini kembali terancam naik seiring ketidakpastian yang belum mereda. Selama 800 kapal itu belum bergerak, dan selama Lebanon belum masuk dalam perjanjian damai yang diakui semua pihak, gencatan senjata ini lebih menyerupai jeda sementara daripada penyelesaian konflik yang sesungguhnya. Sumber: Bloomberg, CNN, Al Jazeera, Reuters
UEA Peringatkan: Damai Iran Tidak Sah Tanpa Nuklir

9 April 2026 | Geopolitik & Pasar Gencatan senjata dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran yang diumumkan Trump pada Selasa malam belum membuat kawasan Timur Tengah benar-benar tenang. Buktinya, Uni Emirat Arab (UEA) langsung angkat suara sehari setelahnya. Kementerian Luar Negeri UEA meminta pendekatan berkelanjutan untuk mengatasi seluruh ancaman dari Iran, termasuk kemampuan nuklir dan rudal balistiknya, melansir Bloomberg. Bagi UEA, gencatan senjata dua minggu saja tidak cukup. Mereka ingin isu nuklir dan pelucutan rudal Iran masuk ke meja negosiasi, bukan sekadar ditunda. Kenapa UEA Punya Alasan Kuat untuk Khawatir UEA bukan sekadar penonton dalam konflik ini. Sejak perang dimulai pada Februari 2026, lebih dari 40% serangan rudal dan drone Iran diarahkan ke wilayah UEA. Abu Dhabi bahkan pernah mencegat rudal balistik langsung di atasnya, dengan puing jatuh yang menewaskan 2 orang. Dengan rekam jejak seperti itu, wajar jika UEA tidak puas hanya dengan jeda sementara. Tanpa penyelesaian soal nuklir dan rudal, ancaman jangka panjang tetap ada, dan UEA tahu itu lebih dari siapa pun. Selat Hormuz: Belum Benar-benar Terbuka Salah satu tuntutan utama UEA adalah pembukaan penuh Selat Hormuz tanpa syarat. Dan ini bukan permintaan kecil. Selat Hormuz adalah jalur pengiriman sekitar 20% pasokan minyak dunia. Sejak konflik pecah, jalur ini baru dibuka sebagian dan masih dalam koordinasi dengan militer Iran. Artinya, aliran energi global belum kembali normal. Harga minyak Brent saat ini berada di kisaran $94 per barel. Angka ini memang turun dari puncak $112 di masa krisis, tapi masih jauh di atas level $70 sebelum perang dimulai. Selama Hormuz belum sepenuhnya bebas, harga minyak tetap rentan terhadap eskalasi ulang. Gencatan Senjata yang Rapuh Di sisi lain, Iran sendiri sudah mengklaim tiga klausul dari gencatan senjata telah dilanggar. Parlemen Iran menyebut perjanjian ini tidak dijalankan sesuai kesepakatan. Pasar langsung merespons, indeks saham Asia Pasifik turun 0,4% dan futures AS kehilangan momentum setelah sempat melonjak besar pasca pengumuman gencatan. Analis dari BCA Research memperingatkan bahwa konflik bisa kembali memanas sebelum akhir tahun, terutama setelah pemilu sela Amerika Serikat. Negosiasi resmi putaran pertama dijadwalkan berlangsung di Islamabad pada 10 April 2026. Dampak Langsung ke Indonesia Bagi Indonesia, situasi ini bukan sekadar berita luar negeri. Ada dua dampak konkret yang perlu diperhatikan. Pertama, harga BBM. Setiap kenaikan ulang harga minyak global akan langsung menekan anggaran subsidi energi pemerintah dan berpotensi mendorong harga BBM naik di tingkat konsumen. Kedua, nilai tukar Rupiah. Ketidakpastian geopolitik yang belum selesai membuat investor global cenderung menghindari aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti Rupiah. Selama situasi Timur Tengah belum stabil, tekanan terhadap Rupiah akan terus ada. Apa yang Perlu Dipantau Selanjutnya Ada tiga hal yang akan menentukan arah pasar dalam beberapa hari ke depan. Pertama, apakah negosiasi di Islamabad pada 10 April menghasilkan sesuatu yang konkret. Kedua, apakah Selat Hormuz benar-benar dibuka penuh tanpa koordinasi militer Iran. Ketiga, bagaimana respons Iran terhadap tuntutan UEA soal nuklir dan rudal. Jika ketiga hal ini berjalan positif, harga minyak berpeluang turun lebih jauh dan tekanan inflasi global akan berkurang. Ini juga membuka ruang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga, yang secara historis menjadi katalis positif bagi aset berisiko termasuk kripto. Sebaliknya, jika negosiasi gagal dan konflik kembali pecah, pasar akan kembali ke mode defensif.
ISRAEL SERANG LEBANON: 254 TEWAS JAM SETELAH GENCATAN SENJATA!

Dunia baru saja menghela napas lega ketika Amerika Serikat dan Iran mengumumkan gencatan senjata dua minggu pada 8 April 2026. Namun hanya dalam hitungan jam, Israel melancarkan serangan udara terbesar sepanjang perang ke Lebanon, menghantam lebih dari 100 target Hezbollah dalam waktu 10 menit menggunakan 50 jet tempur yang menjatuhkan sekitar 160 bom. Kementerian Pertahanan Sipil Lebanon mencatat sedikitnya 254 orang tewas dan lebih dari 1.165 lainnya luka-luka, menjadikan hari itu sebagai hari paling mematikan dalam konflik Lebanon sejak perang dimulai. Serangan ini mencakup kawasan padat penduduk di jantung Beirut tanpa peringatan sebelumnya, termasuk gedung apartemen, kawasan komersial, dan area di dekat fasilitas kesehatan. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa gencatan senjata AS-Iran tidak mencakup operasi militer Israel terhadap Hezbollah di Lebanon. Trump kemudian mengonfirmasi posisi yang sama, dengan alasan bahwa Lebanon tidak dimasukkan karena keberadaan Hezbollah. Pernyataan ini bertentangan langsung dengan klaim Pakistan selaku mediator dan Iran, yang keduanya menyebut Lebanon seharusnya termasuk dalam kesepakatan. Kebingungan soal cakupan gencatan senjata langsung membawa konsekuensi nyata. Hezbollah, yang semula menahan diri sejak pengumuman gencatan senjata, akhirnya membalas dengan meluncurkan roket ke wilayah utara Israel pada Kamis dini hari, serangan pertama kelompok tersebut sejak perjanjian ditandatangani. Iran merespons dengan menutup kembali Selat Hormuz, yang sebelumnya sempat dibuka sebagai bagian dari syarat gencatan senjata. Harga minyak mentah Brent yang sempat anjlok lebih dari 13 persen pasca-pengumuman gencatan senjata, kini kembali terancam naik tajam. Dampak ke pasar tidak bisa diabaikan. Selat Hormuz yang kembali tertutup berarti sekitar 20 persen pasokan minyak global kembali terhambat, dan tekanan inflasi energi yang sempat mereda bisa berbalik arah dalam waktu singkat. Ketidakpastian ini menjadi beban tambahan bagi aset berisiko termasuk Bitcoin, yang selama konflik ini bergerak sensitif mengikuti setiap eskalasi dan de-eskalasi geopolitik. Lebih dari 1,2 juta warga Lebanon telah mengungsi sejak konflik meluas pada awal Maret, dan korban jiwa di Lebanon kini melampaui 1.600 orang. Wakil Presiden AS JD Vance dijadwalkan memimpin delegasi negosiasi ke Islamabad pada Sabtu ini bersama utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner. Namun dengan Hezbollah sudah membalas tembak, Iran menutup kembali Hormuz, dan Lebanon tetap menjadi zona perang aktif di luar kesepakatan, gencatan senjata yang baru berusia satu hari ini kini berdiri di atas fondasi yang sangat rapuh.
Diam-Diam 4,37 Juta Bitcoin Menghilang dari Pasar

Di tengah tekanan pasar yang masih berlangsung, satu kelompok investor justru bergerak diam-diam menambah kepemilikan Bitcoin mereka. Data CryptoQuant per 7 April 2026 menunjukkan holder jangka panjang Bitcoin, yaitu investor yang menyimpan Bitcoin minimal 155 hari tanpa menjual, kini memegang total 4,37 juta BTC. Angka ini merupakan level tertinggi yang pernah tercatat dalam sejarah jaringan Bitcoin, melansir Cointelegraph.Yang membuat data ini menarik adalah konteksnya. Akumulasi ini terjadi bersamaan dengan harga Bitcoin yang masih bertahan di kisaran 68.000 dolar AS di tengah ketidakpastian geopolitik akibat konflik Iran-AS, tekanan tarif Amerika Serikat, dan sentimen pasar yang masih dalam zona ketakutan. Chart akumulasi CryptoQuant menunjukkan tiga kelompok investor sekaligus, yaitu alamat akumulasi besar, alamat ritel yang akumulasi, dan alamat dengan pola akumulasi, semuanya mencatat tren yang konsisten naik sejak awal 2023.Secara sederhana, Bitcoin yang dipegang holder jangka panjang adalah Bitcoin yang keluar dari sirkulasi aktif pasar. Angka 4,37 juta BTC setara dengan lebih dari 20% dari total seluruh Bitcoin yang akan pernah ada, tersimpan di tangan investor yang memilih untuk tidak menjual meski pasar bergejolak. Semakin banyak Bitcoin yang dikunci oleh kelompok ini, semakin sedikit pasokan yang tersedia untuk diperjualbelikan di bursa, sebuah dinamika yang secara historis pernah mendahului pergerakan harga signifikan di siklus-siklus sebelumnya.Perlu dicatat bahwa data akumulasi bukan sinyal harga secara langsung dan tidak menjamin pola serupa akan terulang. Kondisi makro global 2026 jauh lebih kompleks dibanding siklus sebelumnya, dengan variabel tambahan seperti konflik geopolitik aktif, ketegangan perdagangan global, dan ketidakpastian kebijakan bank sentral yang semuanya berpotensi memengaruhi arah pasar dalam jangka pendek. Yang pasti, dinamika pasokan Bitcoin yang semakin menyempit ini layak dicermati oleh siapapun yang mengikuti pergerakan aset ini secara serius.
UBS dan 6 Bank Swiss Ciptakan Saingan Baru Dolar AS

Enam bank terbesar Swiss resmi meluncurkan uji coba stablecoin yang dipatok ke franc Swiss pada Rabu (8/4/2026). UBS, PostFinance, Raiffeisen, Sygnum, Zürcher Kantonalbank, dan BCV bergabung bersama Swiss Stablecoin AG untuk membangun lingkungan pengujian digital, atau yang disebut sandbox, guna menguji berbagai skenario penggunaan mata uang digital berbasis blockchain ini. Melansir Reuters, saat ini belum ada stablecoin franc Swiss yang diatur secara resmi dan digunakan secara luas di Swiss, menjadikan proyek ini sebagai langkah pertama yang sangat dinantikan pasar. Langkah ini bukan sekadar eksperimen teknis. Franc Swiss adalah salah satu mata uang safe haven paling dicari di dunia, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik yang terus meningkat. Morgan Stanley bahkan menyebut franc Swiss setara emas sebagai aset pelindung nilai, dan mata uang ini sudah menguat lebih dari 12% terhadap dolar AS sepanjang 2025. Dengan masuknya institusi sekelas UBS ke ekosistem stablecoin, proyek ini membawa bobot kredibilitas yang jauh berbeda dibanding inisiatif serupa dari perusahaan crypto biasa.Bagi pasar crypto, munculnya stablecoin non-dolar dari bank-bank tradisional terbesar Swiss memperkuat narasi de-dolarisasi yang semakin menguat di sistem keuangan global. Ini bukan yang pertama. Pada Februari 2026, perusahaan AllUnity sudah lebih dulu meluncurkan stablecoin franc Swiss bernama CHFAU di jaringan Ethereum, yang diatur di bawah pengawasan regulator keuangan Jerman, BaFin. Kini dengan masuknya bank-bank tradisional terbesar Swiss, persaingan stablecoin non-dolar semakin serius dan tidak bisa diabaikan. Dalam konteks yang lebih luas, ini adalah bagian dari gelombang besar stablecoin non-dolar yang sedang terbentuk di seluruh dunia. Di kawasan Timur Tengah, sistem pembayaran di Selat Hormuz sudah mulai menggunakan yuan dan stablecoin sebagai alternatif dolar. Kini Swiss ikut bergerak dengan cara yang lebih terstruktur dan berbasis regulasi. Semakin banyak mata uang kuat dunia yang memiliki representasi digital sendiri, semakin terbuka pertanyaan tentang masa depan dominasi dolar AS di sistem keuangan global. Pengujian dijadwalkan berlangsung sepanjang 2026 dan proyek ini terbuka bagi bank serta institusi lain yang ingin berpartisipasi. Jika berhasil, ini bisa menjadi preseden penting bagi institusi keuangan di seluruh dunia untuk mengembangkan alternatif stablecoin di luar ekosistem dolar AS, dan mempercepat pergeseran struktural yang sudah lama diperbincangkan di pasar keuangan global.
Gencatan Iran Resmi, Tapi Israel Belum Tentu Ikut

Gencatan senjata dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran resmi diumumkan Trump pada Selasa malam, dan Iran mengonfirmasi ikut menghentikan serangan. Tapi satu pertanyaan besar masih menggantung: apakah Israel, pihak yang memulai konflik ini bersama AS pada 28 Februari, akan ikut berhenti? Sebelum gencatan diumumkan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan Israel justru mengintensifkan serangannya, menyasar jalur kereta dan jembatan Iran yang disebutnya digunakan untuk transportasi senjata dan personel rezim, melansir NPR. Netanyahu menegaskan serangan tidak diarahkan ke warga sipil, tapi bertujuan menghancurkan rezim. Hingga saat ini, Israel belum mengeluarkan pernyataan resmi soal apakah mereka terikat oleh kesepakatan yang dinegosiasikan AS dan Iran lewat mediasi Pakistan. Pola ini pernah terjadi sebelumnya. Dalam gencatan senjata Perang Dua Belas Hari pada Juni 2025, Israel dan Iran sama-sama melanggar kesepakatan dalam jam-jam pertama sebelum akhirnya gencatan bertahan di bawah tekanan langsung Trump ke Netanyahu. Kali ini, belum ada konfirmasi bahwa tekanan serupa sudah diberikan, dan Israel dilaporkan tetap skeptis bahwa kesepakatan ini bisa bertahan, melansir NBC News. Bitcoin yang sempat melonjak ke $72.700 setelah pengumuman gencatan kini diperdagangkan di bawah level tersebut, sementara harga minyak WTI yang anjlok lebih dari 10% ke sekitar $92 hingga $95 per barel berpotensi berbalik jika serangan Israel berlanjut dan memperumit status pembukaan Selat Hormuz. Reli pasar semalam dibangun di atas ekspektasi de-eskalasi, dan ekspektasi itu sangat sensitif terhadap berita dari Tel Aviv dalam 24 hingga 48 jam ke depan. Dua minggu ke depan bukan hanya ujian diplomatik antara Washington dan Tehran. Ini juga ujian seberapa jauh AS bersedia menekan sekutu terdekatnya untuk menjaga gencatan tetap utuh, dan apakah pasar yang sudah reli tajam semalam punya fondasi yang cukup kuat untuk bertahan dari kejutan berikutnya.
Trump Tangguhkan Serangan ke Iran Dua Minggu, Syaratnya Selat Hormuz Dibuka

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penangguhan serangan ke Iran selama dua minggu pada Selasa malam, tepat sebelum tenggat waktu yang ia tetapkan sendiri habis. Syaratnya satu: Iran harus membuka kembali Selat Hormuz untuk seluruh lalu lintas kapal. “This will be a double sided ceasefire,” tulis Trump di Truth Social, melansir NBC News dan Al Jazeera. Selat Hormuz adalah jalur laut selebar 34 kilometer antara Iran dan Oman yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia setiap harinya. Sejak konflik dimulai 28 Februari, gangguan di selat ini mendorong harga minyak Brent ke level tertinggi dalam beberapa dekade, memicu penjualan obligasi AS senilai lebih dari $82 miliar oleh bank sentral asing, dan menciptakan tekanan inflasi yang dirasakan hampir seluruh negara pengimpor energi, melansir Financial Times. Pasar langsung merespons pengumuman Trump: harga minyak WTI anjlok lebih dari 10% ke kisaran $92 hingga $95 per barel, sementara Bitcoin melonjak hampir 5% ke $72.700, level tertinggi sejak 18 Maret, melansir Bloomberg dan CoinDesk. Kesepakatan ini lahir dari mediasi Pakistan. Perdana Menteri Shehbaz Sharif meminta Trump menunda serangan besar yang sudah diancamkan ke pembangkit listrik, jembatan, dan infrastruktur energi Iran. Beberapa menit setelah pengumuman Trump, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi Tehran ikut menghentikan operasi militer selama AS tidak melancarkan serangan baru. Araghchi menyatakan Hormuz akan dibuka kembali melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran, meski dengan catatan adanya “keterbatasan teknis”, framing yang berbeda dari tuntutan Trump soal pembukaan “lengkap, segera, dan aman”, melansir Al Jazeera. Dampak ke pasar kripto bersifat langsung dan berlapis. Minyak turun berarti tekanan inflasi mereda. Inflasi yang melandai membuka ruang bagi The Fed untuk lebih fleksibel dalam kebijakan suku bunga. Dan suku bunga yang lebih rendah secara historis menjadi katalis positif bagi aset berisiko termasuk Bitcoin. Lonjakan Bitcoin ke $72.700 juga memicu likuidasi posisi jual senilai hampir $600 juta di pasar derivatif kripto, memperkuat momentum kenaikan lewat short squeeze, melansir CoinDesk. Gencatan ini bukan akhir perang. Negosiasi permanen dijadwalkan dimulai di Islamabad pada Jumat 10 April, dimediasi Pakistan yang selama ini menjadi saluran komunikasi utama antara Washington dan Tehran. Kedua pihak masih berjauhan dalam banyak isu mendasar: Iran menuntut pencabutan sanksi, kompensasi perang, dan pengakuan atas kendalinya di Hormuz, sementara AS belum mengonfirmasi penerimaan atas satu pun tuntutan tersebut. Dua minggu adalah waktu yang sangat singkat untuk menjembatani konflik yang sudah berlangsung lebih dari lima pekan dan melibatkan kepentingan geopolitik puluhan negara.
Kalau China Serang Taiwan, Bitcoin Jadi Satu-Satunya Harapan?

Sebuah lembaga kebijakan Amerika Serikat mendesak Taiwan untuk mempertimbangkan Bitcoin sebagai aset cadangan strategis, khususnya sebagai antisipasi tekanan militer dari China. Laporan yang dirilis Bitcoin Policy Institute pada 1 April 2026 dan dipresentasikan di Washington menyebut Bitcoin sebagai satu-satunya aset cadangan yang tetap bisa diakses dan digunakan dalam dua skenario ekstrem: blokade laut maupun invasi penuh oleh China.Argumennya sederhana namun tajam. Melansir Cointelegraph, peneliti Bitcoin Policy Institute Jacob Langenkamp menyatakan bahwa dalam kondisi blokade, emas tidak bisa dipindahkan secara fisik dan cadangan dolar AS berpotensi dibekukan. Bitcoin, sebaliknya, tidak membutuhkan transportasi fisik dan tidak bergantung pada bank atau lembaga perantara manapun. Selama ada akses internet dan kunci kriptografi, Bitcoin tetap bisa diakses dari mana saja di dunia.Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Taiwan saat ini menyimpan lebih dari 80% dari total cadangan devisanya senilai 605 miliar dolar AS dalam aset berbasis dolar AS, termasuk obligasi pemerintah Amerika Serikat. Laporan tersebut memperingatkan bahwa meningkatnya utang AS yang kini melampaui 36 triliun dolar AS, ekspansi neraca bank sentral AS, serta potensi pelemahan dolar jangka panjang membuat konsentrasi cadangan di satu mata uang menjadi risiko yang nyata bagi Taiwan.Bank sentral Taiwan sebelumnya sudah menolak proposal serupa pada Desember 2025, dengan alasan volatilitas harga, likuiditas terbatas, dan risiko penyimpanan. Namun laporan terbaru ini berargumen bahwa seluruh kekhawatiran tersebut kini bisa diatasi dengan solusi penyimpanan institusional yang sudah matang. Taiwan saat ini tercatat menyimpan 210 Bitcoin senilai sekitar 14 juta dolar AS hasil sitaan kasus kriminal, yang jika diakui resmi akan menempatkan Taiwan sebagai pemegang Bitcoin terbesar ketujuh di dunia, melampaui Finlandia.Jika proposal ini akhirnya diterima, Taiwan akan bergabung dengan 29 negara yang sudah memiliki eksposur Bitcoin per Januari 2026, sebuah tren yang dipercepat oleh keputusan Presiden AS Donald Trump membentuk Cadangan Bitcoin Strategis melalui perintah eksekutif pada Maret 2025. Dalam lanskap geopolitik yang semakin tidak menentu, pertanyaannya bukan lagi apakah Bitcoin layak menjadi cadangan negara, melainkan seberapa lama negara-negara bisa menunda keputusan tersebut.