<
App splash

Korea Utara Tembak Rudal Balistik, Asia Timur di Ambang Perang?

Kantor Perdana Menteri Jepang mengeluarkan siaga darurat pada Senin (8/4/2026) setelah Korea Utara meluncurkan rudal balistik yang diduga ke arah Laut Jepang. Pemerintah Tokyo memerintahkan pengumpulan informasi maksimal dan memastikan keselamatan pesawat serta kapal di kawasan sekitar. Korea Selatan turut mengonfirmasi peluncuran tersebut, dengan rudal yang diduga mendarat di luar Zona Ekonomi Eksklusif Jepang. Provokasi ini bukan yang pertama dalam 2026. Pada 14 Maret lalu, Korea Utara menembakkan sekitar 10 rudal balistik ke Laut Jepang tepat saat latihan militer gabungan Amerika Serikat dan Korea Selatan berlangsung. Pyongyang sebelumnya juga memperingatkan adanya “konsekuensi mengerikan” terhadap latihan tersebut. Frekuensi uji coba yang terus meningkat sepanjang tahun ini menjadi sinyal bahwa Pyongyang secara aktif memperluas kemampuan persenjataannya. Yang membuat eskalasi ini relevan bagi investor crypto adalah dimensi yang jarang dibahas: Korea Utara secara aktif mendanai program rudal dan nuklirnya melalui pencurian aset digital. Hanya sepekan lalu, pada 1 April 2026, kelompok peretas yang terkait pemerintah Korea Utara berhasil mencuri 270 juta dolar dari platform DeFi Drift Protocol setelah menjalankan operasi penyusupan selama enam bulan. Menurut laporan CoinDesk, para peretas bahkan hadir langsung di konferensi industri crypto untuk membangun kepercayaan sebelum melancarkan serangan. Putih House pernah memperkirakan setengah dari program rudal Korea Utara didanai dari serangan siber dan pencurian crypto. Dari sisi pasar, eskalasi geopolitik di Asia Timur secara historis memicu peningkatan permintaan terhadap aset safe haven seperti yen Jepang dan emas, sementara aset berisiko termasuk Bitcoin cenderung mendapat tekanan jangka pendek. Ketegangan ini muncul di tengah kondisi pasar yang sudah dibebani konflik Iran-AS, tekanan tarif, dan ketidakpastian kebijakan The Fed. Setiap lapisan risiko baru yang ditambahkan ke peta geopolitik global akan semakin mempersulit pemulihan sentimen investor. Situasi di Semenanjung Korea kini menjadi variabel yang tidak bisa diabaikan. Jika eskalasi terus berlanjut tanpa respons diplomatik yang konkret, tekanan pada pasar keuangan global berpotensi semakin dalam, dan investor di seluruh dunia termasuk Indonesia harus memperhitungkan skenario ini dalam strategi portofolio mereka ke depan.

Pendiri Binance Angkat Isu Lama yang Kini Jadi Nyata: Apa Nasib 1 Juta Bitcoin Satoshi Jika Komputer Kuantum Berhasil Membobolnya?

Changpeng Zhao, pendiri Binance yang akrab disebut CZ, kembali memicu diskusi besar di komunitas kripto pada 31 Maret 2026. Bukan soal harga atau regulasi, tapi soal pertanyaan yang belum pernah benar-benar dijawab: apa yang harus dilakukan dengan lebih dari 1 juta Bitcoin milik Satoshi Nakamoto jika komputer kuantum suatu hari berhasil membongkar enkripsinya? Pernyataan CZ muncul tepat setelah Google Quantum AI merilis temuan yang mengejutkan komunitas kripto global. Menurut penelitian tersebut, komputer kuantum berpotensi membobol enkripsi Bitcoin hanya dalam 9 menit, sedangkan jaringan Bitcoin rata-rata memproses satu blok setiap 10 menit. Selisih yang nyaris tidak ada. Angka 9 menit bukan sekadar angka teknis. Artinya, jika komputer kuantum cukup canggih dan enkripsi Bitcoin tidak diperbarui, seorang penyerang bisa mengambil alih koin dari dompet mana pun sebelum transaksi tersebut sempat dikonfirmasi oleh jaringan. CZ menyebut dua skenario untuk Bitcoin Satoshi yang sudah tidak bergerak selama lebih dari 16 tahun. Skenario pertama: jika koin-koin itu tiba-tiba bergerak, itu bisa menjadi konfirmasi bahwa Satoshi masih aktif dan memegang kendali penuh atas asetnya. Skenario kedua, yang jauh lebih suram, adalah jika ancaman kuantum terus matang sementara koin itu tidak pernah bergerak. Dalam kondisi itu, CZ menyebut komunitas mungkin perlu mempertimbangkan opsi mengunci atau membakar alamat tersebut sebelum penyerang kuantum pertama berhasil mengambilnya. Yang membuat isu ini lebih berat dari sekadar diskusi teknis adalah skala risikonya. Menurut data terbaru, sekitar 6,89 juta Bitcoin saat ini tersimpan di alamat lama yang paling rentan terhadap serangan kuantum, termasuk seluruh koin Satoshi. Dalam nilai pasar saat ini, angka itu setara dengan ratusan miliar dolar aset yang berpotensi tidak terlindungi. CZ dengan tegas menyebut komunitas kripto tidak perlu panik. Solusinya sudah diketahui: upgrade ke algoritma enkripsi yang tahan terhadap serangan kuantum. Namun jalan menuju sana jauh dari mulus. Jaringan Bitcoin yang terdesentralisasi tidak memiliki satu otoritas tunggal yang bisa memutuskan perubahan. Setiap pembaruan besar membutuhkan konsensus luas dari para penambang, pengembang, dan pengguna, dengan risiko perpecahan jaringan atau fork jika konsensus tidak tercapai. Ancaman kuantum terhadap Bitcoin bukan skenario fiksi ilmiah. Ini adalah pertanyaan teknis yang nyata dan semakin mendesak seiring kemajuan riset Google dan laboratorium lainnya. Bagi kamu sebagai investor, ini bukan sinyal untuk menjual, tapi sinyal untuk mengikuti perkembangan diskusi teknis di komunitas Bitcoin dengan lebih serius. Pertanyaan yang lebih besar bukan seberapa cepat komputer kuantum bisa membobol enkripsi, tapi seberapa cepat jaringan Bitcoin bisa bersepakat untuk memperbarui pertahanannya sebelum ancaman itu benar-benar tiba.

IRGC Nyatakan 18 Perusahaan Teknologi AS Target Serangan, dari Apple Hingga Nvidia

Garda Revolusi Iran (IRGC) secara resmi menyatakan 18 perusahaan teknologi dan keuangan AS sebagai “target sah” yang akan diserang sebagai balasan atas pembunuhan pemimpin Iran oleh AS dan Israel. Daftar target mencakup Apple, Microsoft, Google, Meta, Nvidia, Tesla, Boeing, JPMorgan, Intel, IBM, Dell, Oracle, Cisco, HP, Palantir, GE, serta Spire Solutions dan G42 dari UEA. Serangan dijadwalkan dimulai pukul 20:00 waktu Iran pada 1 April, dan IRGC memperingatkan karyawan untuk segera meninggalkan tempat kerja serta warga dalam radius satu kilometer untuk mengungsi. Alasan IRGC menyasar sektor teknologi bukan tanpa konteks. IRGC menyatakan bahwa perusahaan teknologi informasi dan AI Amerika merupakan elemen utama dalam merancang dan melacak target untuk operasi pembunuhan terhadap komandan Iran. Palantir sendiri mendeskripsikan konflik Iran sebagai perang besar pertama yang digerakkan oleh AI, di mana algoritma canggih memproses data dalam jumlah besar untuk mempercepat keputusan penargetan militer. Ancaman ini bukan sekadar retorika. Pada 1 Maret 2026, drone Iran sudah menyerang tiga fasilitas Amazon Web Services, dua di UEA yang terkena langsung dan satu di Bahrain yang rusak akibat serangan di dekatnya. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan struktural, gangguan pasokan listrik, dan kerusakan tambahan akibat sistem pemadam kebakaran. Layanan perbankan, pembayaran digital, dan platform enterprise di seluruh kawasan terganggu selama berminggu-minggu. Eskalasi ini mengancam miliaran dolar investasi AI di Timur Tengah. Microsoft telah berkomitmen US$15 miliar untuk ekspansi operasinya di UEA hingga 2029, Amazon menjanjikan US$5 miliar untuk hub AI di Riyadh, sementara Oracle, Cisco, dan Nvidia bermitra dengan OpenAI untuk membangun kampus AI di UEA. Secara global, analis memperkirakan belanja infrastruktur AI hyperscaler melampaui US$600 miliar pada 2026, dan sebagian signifikan dari investasi baru ini mengalir ke kawasan Teluk. Bagi investor, dimensi baru konflik ini mengubah kalkulasi risiko secara fundamental. Selama sebulan pertama perang, target Iran terbatas pada instalasi militer dan terminal energi. Kini medan perang meluas ke infrastruktur teknologi sipil, mempertanyakan apakah pusat data dan kampus AI bernilai miliaran dolar di kawasan ini bisa tetap beroperasi selama konflik berlanjut.

Metaplanet Borong 5.075 BTC, Resmi Geser Marathon Digital Jadi Korporasi Bitcoin Terbesar Ke-3 Dunia

Metaplanet Inc. menambah 5.075 Bitcoin ke cadangan perusahaannya, mendorong total kepemilikan korporasi asal Tokyo ini ke angka 40.177 BTC. Pembelian terbaru ini sekaligus menggeser Marathon Digital Holdings dari posisi ketiga, menempatkan Metaplanet hanya di bawah Strategy milik Michael Saylor dan MicroStrategy dalam daftar korporasi dengan cadangan Bitcoin terbesar di dunia. Pembelian dilakukan ketika harga Bitcoin sedang jauh di bawah rekor tertinggi Oktober 2025, menjadikan langkah ini bukan sekadar akumulasi rutin, melainkan keputusan terstruktur di tengah tekanan pasar. Metaplanet, yang sebelumnya dikenal sebagai perusahaan perhotelan yang terdaftar di Bursa Efek Tokyo, telah menjalankan strategi akumulasi Bitcoin ini secara konsisten sejak April 2024. Logika di balik strategi ini tidak jauh berbeda dari argumen yang dipakai korporasi Barat: Yen Jepang melemah dalam tren jangka panjang, suku bunga riil Jepang berada di zona negatif, dan menyimpan kas di bank tidak lagi memberikan perlindungan daya beli yang memadai. Bitcoin menjadi aset cadangan alternatif yang perusahaan ini pilih sebagai lindung nilai struktural, bukan spekulasi jangka pendek. Target Metaplanet adalah 100.000 BTC sebelum akhir 2026. Dengan posisi saat ini di 40.177 BTC, perusahaan ini masih perlu mengakuisisi hampir 60.000 BTC lagi dalam waktu kurang dari satu tahun. Artinya, laju pembelian harus meningkat signifikan dibanding kecepatan akumulasi dua tahun terakhir. Langkah Metaplanet membuka pertanyaan relevan bagi perusahaan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Tekanan pelemahan Rupiah dan kebutuhan diversifikasi cadangan kas korporasi menghadirkan konteks yang tidak terlalu berbeda dari apa yang mendorong Metaplanet dua tahun lalu. Korporasi mana yang akan menjadi Metaplanet versi Indonesia adalah pertanyaan yang belum terjawab, tapi semakin dekat dengan meja pembuat keputusan. Melansir laporan resmi Metaplanet Inc. dan data CoinGecko.

Iran Ubah Selat Hormuz Jadi Gerbang Tol: Bayar Pakai Yuan, Bukan Dolar

Selat Hormuz kini beroperasi seperti gerbang tol, dan pembayarannya bukan dalam dolar AS. Kapal yang ingin transit melalui selat harus mengajukan dokumen lengkap ke perantara yang terhubung dengan Garda Revolusi Iran, membayar biaya dalam yuan China atau crypto, lalu menerima koordinat jalur aman sebelum dikawal Angkatan Laut Iran, melansir Bloomberg. Seorang anggota parlemen Iran menyebut biaya transit mencapai US$2 juta per perjalanan, melansir Al Jazeera. Ini adalah pergeseran fundamental dalam sistem perdagangan energi global. Selama puluhan tahun, minyak dunia diperdagangkan dalam dolar AS dengan jaminan keamanan Angkatan Laut Amerika. Kini, jalur yang menampung 20% pasokan minyak dan gas dunia tunduk pada aturan Iran dan dibayar dalam mata uang China. Menurut Lloyd’s List, setidaknya dua kapal sudah membayar biaya transit dalam yuan melalui perusahaan maritim China sebagai perantara, sementara 26 kapal tercatat mengikuti rute yang disetujui sistem “gerbang tol” IRGC antara 13 hingga 25 Maret. Data mendukung narasi pergeseran ini. Sejak perang dimulai 28 Februari, setidaknya 11,7 juta barel minyak mentah Iran telah dikirim ke kilang China melalui selat, menurut data pelacakan kapal yang dikutip CNBC. Secara terpisah, volume transaksi harian di CIPS, sistem pembayaran lintas batas China, naik dari kisaran US$85 hingga US$105 miliar ke US$134 miliar pada Maret 2026, menurut analisis Atlantic Council. Meski kenaikan ini tidak secara langsung membuktikan aliran pembayaran minyak Iran, lonjakan volume di tengah perang menjadi sinyal bahwa infrastruktur pembayaran yuan semakin aktif digunakan. Bagi pasar crypto, ada dua implikasi penting. Pertama, penggunaan crypto sebagai salah satu metode pembayaran transit menunjukkan adopsi nyata di level negara saat sistem keuangan tradisional tidak bisa digunakan. Kedua, pelemahan dominasi dolar dalam perdagangan energi secara historis menjadi katalis positif untuk Bitcoin sebagai aset alternatif. Bitcoin saat ini bertahan di kisaran US$67.000 hingga US$68.500, mencerminkan sikap menunggu pasar terhadap arah konflik. Pertanyaan besarnya bukan lagi apakah yuan bisa menggantikan dolar dalam perdagangan minyak, tapi seberapa cepat infrastruktur alternatif ini menjadi permanen. Jika konflik berlanjut dan sistem “gerbang tol” Iran diformalkan melalui legislasi parlemen yang sedang disiapkan, Selat Hormuz bisa menjadi titik awal restrukturisasi sistem keuangan energi global.

Trump Ancam Bom Iran “Kembali ke Zaman Batu” Jika Hormuz Tidak Dibuka, Brent Tertekan ke US$101

Harga minyak mentah Brent turun ke kisaran US$101 per barel dari US$104 sehari sebelumnya setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan perang mendekati akhir, namun ancaman baru yang jauh lebih agresif bisa membalikkan tren ini. Dalam pidato nasional pada Rabu malam (1 April 2026), Trump menyatakan AS akan mengintensifkan serangan selama 2 hingga 3 minggu ke depan dan mengancam akan menghancurkan seluruh pembangkit listrik serta ladang minyak Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka, melansir CNBC dan CNN. Ancaman ini bukan sekadar retorika biasa. Penghancuran infrastruktur energi Iran akan menghilangkan pasokan lebih dari 3 juta barel per hari dari pasar global, sebuah volume yang cukup untuk mendorong Brent melewati US$120 per barel dan memperburuk tekanan inflasi di seluruh dunia. Trump juga mengklaim telah menolak permintaan gencatan senjata dari presiden Iran, dengan syarat utama pembukaan Selat Hormuz terlebih dahulu. Iran membantah keras seluruh klaim tersebut. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan tidak ada negosiasi yang berlangsung dengan AS, sementara televisi negara Iran menyebut klaim Trump tentang permintaan gencatan senjata sebagai tidak berdasar, melansir Al Jazeera. Ketegangan narasi antara kedua pihak ini menambah ketidakpastian bagi pelaku pasar yang mencoba membaca arah konflik. Pasar aset berisiko merespons dengan hati-hati. Bitcoin bertahan di kisaran US$67.000 hingga US$68.500, mencerminkan sikap menunggu terhadap skenario mana yang akan terealisasi: de-eskalasi yang menekan harga minyak dan membuka ruang bagi aset berisiko, atau eskalasi total yang mendorong inflasi global naik dan memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Dua minggu ke depan menjadi jendela kritis. Jika ancaman Trump terwujud, dampaknya tidak hanya dirasakan Iran tetapi seluruh rantai pasok energi global, dari harga BBM di Indonesia hingga proyeksi suku bunga The Fed di kuartal ketiga 2026.

Trump Ultimatum Iran: Jembatan dan Listrik Jadi Target Berikutnya, Tenggat 6 April

Trump tidak main-main. Lewat media sosialnya pada 2 April 2026, Presiden Amerika Serikat memperingatkan bahwa militer AS “belum mulai menghancurkan apa yang tersisa di Iran.” Jembatan disebutnya sebagai target berikutnya, lalu pembangkit listrik. Tenggat waktu yang ditetapkan adalah Senin, 6 April 2026, pukul 20.00 waktu Amerika Serikat, menurut laporan Reuters dan Al Jazeera.Di balik ancaman itu ada satu tuntutan yang tidak berubah sejak konflik dimulai 28 Februari 2026: Iran harus membuka kembali Selat Hormuz. Jalur yang sebelum konflik dilalui sekitar 120 tanker per hari itu kini hampir lumpuh total. Harga minyak Brent bertahan di atas $112 per barel, sementara pasar global terus memantau setiap pernyataan dari Washington dan Teheran dengan kecemasan yang semakin nyata.Iran tidak mundur. Pemerintah Teheran membantah adanya negosiasi langsung maupun tidak langsung dengan AS, bertentangan dengan klaim Trump bahwa pembicaraan sedang berlangsung dan berjalan baik. Iran bahkan memperingatkan bahwa jika pembangkit listriknya diserang, mereka akan menjadikan infrastruktur energi seluruh negara Teluk sebagai target balasan, termasuk negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.Dampaknya sudah terasa di pasar. Bitcoin tertekan di kisaran $66.000, turun lebih dari 40 persen dari rekor tertinggi $126.000 Oktober 2025. Dalam 24 jam setelah pidato Trump Rabu lalu, lebih dari $1 miliar volume jual Ethereum membanjiri pasar derivatif dalam satu jam saja. Jika ancaman ini dieksekusi, analis memperingatkan pasar sudah memasuki fase ketidakpastian yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak konflik dimulai.Tenggat 6 April tinggal hitungan jam. Negosiasi diklaim berjalan oleh Washington, dibantah oleh Teheran. Di antara keduanya, pasar global menahan napas.Sumber: Reuters, Al Jazeera, CNBC

China Buang Dolar, Borong Emas 16 Bulan Berturut-turut: Apa Artinya untuk Kamu?

Selama 16 bulan tanpa jeda, Bank Sentral China menambah cadangan emasnya setiap bulan tanpa terkecuali. Per Februari 2026, total kepemilikan emas China menyentuh 2.309 ton senilai lebih dari $390 miliar, setara 10 persen dari seluruh cadangan devisa negara tersebut.Langkah ini bukan spekulasi jangka pendek. Setelah AS membekukan cadangan devisa Rusia senilai ratusan miliar dolar pada 2022, banyak bank sentral di dunia mulai mempertanyakan keamanan menyimpan kekayaan dalam bentuk obligasi dolar. China mengambil kesimpulan yang sama: emas tidak bisa dibekukan, tidak bisa disanksi, dan tidak bergantung pada sistem keuangan manapun.Dampaknya mulai terasa luas. Harga emas menembus $5.000 per troy ounce pada awal 2026, level tertinggi dalam beberapa dekade. Sementara itu, dolar AS melemah ke titik terendah dalam empat tahun terakhir di tengah ketidakpastian kebijakan ekonomi Amerika Serikat. ETF emas di China mencatat arus masuk dana terkuat dalam sejarah pada Januari 2026, mencapai $6,2 miliar hanya dalam satu bulan.Bagi pasar kripto, rotasi ini punya makna tersendiri. Analis JPMorgan mencatat bahwa tren de-dolarisasi China sejak 2017 kerap bersamaan dengan penguatan emas, dan semakin sering dikaitkan dengan Bitcoin. Ketika kepercayaan terhadap aset berbasis negara melemah, aset yang tidak dikendalikan pihak manapun mulai masuk dalam percakapan cadangan global. Bitcoin, dengan pasokan tetap 21 juta koin, semakin sering disebut dalam konteks ini.Pertanyaan yang relevan buat kamu sebagai investor: jika bank sentral terbesar di dunia saja aktif mendiversifikasi jauh dari dolar, aset apa yang kamu pegang sebagai lindung nilai hari ini?Sumber: World Gold Council, CNN, Yahoo Finance

Saudi Aramco Naikkan Harga Minyak ke Asia Tertinggi Sepanjang Sejarah, Indonesia Langsung Terdampak

Saudi Aramco baru saja menetapkan harga minyak ke Asia pada level yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah. Perusahaan minyak milik negara Arab Saudi itu menaikkan harga minyak mentah Arab Light untuk pengiriman Mei ke premi 19,50 dolar AS per barel di atas tolok ukur regional untuk pembeli Asia, berdasarkan data harga yang dilihat Bloomberg. Angka ini dua kali lipat lebih tinggi dari rekor sebelumnya sekitar 9,50 dolar AS yang tercatat saat krisis energi 2022, dan merupakan yang tertinggi yang pernah tercatat dalam sejarah penetapan harga minyak Saudi untuk kawasan Asia. Kenaikan ini bukan keputusan bisnis biasa. Ini adalah cerminan langsung dari krisis Selat Hormuz yang kini memasuki minggu kelima. Penutupan efektif selat tersebut oleh Iran memaksa Saudi Aramco mengalihkan seluruh ekspornya melalui jalur pipa menuju Laut Merah, yang kini sudah beroperasi di kapasitas penuh 7 juta barel per hari, mengekspor sekitar 5 juta barel per hari atau 70 persen dari total pengiriman sebelum perang. Dengan jalur alternatif yang sudah tidak bisa diperluas lagi dan permintaan Asia yang tidak surut, Aramco berada di posisi tawar yang belum pernah sekuat ini. Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab adalah satu-satunya produsen Teluk dengan jalur ekspor yang menghindari Hormuz, menjadikan keduanya pemegang kendali pasokan minyak Asia di tengah krisis ini. Bagi Indonesia, angka 19,50 dolar AS ini bukan sekadar statistik energi global. Indonesia mengimpor sebagian besar kebutuhan minyaknya, dan kenaikan premi ini berarti setiap barel yang masuk ke kilang Pertamina kini jauh lebih mahal dari sebelumnya. Tekanan ini datang di saat yang paling tidak menguntungkan: Rupiah sudah tertekan akibat penguatan dolar karena permintaan safe haven global, sementara pemerintah masih menanggung beban subsidi BBM yang membengkak sejak harga minyak global melonjak lebih dari 50 persen sejak perang Iran meletus 28 Februari lalu. Kombinasi keduanya adalah tekanan ganda terhadap anggaran negara yang sulit dihindari. Harga minyak Brent saat ini diperdagangkan di kisaran 109 dolar AS per barel, dengan WTI di 112 dolar AS. OPEC sudah memperingatkan bahwa kerusakan pada infrastruktur energi akibat perang ini akan berdampak berkepanjangan bahkan setelah konflik berakhir. Artinya, kenaikan harga ini bukan anomali sementara. Jika situasi Selat Hormuz tidak segera mereda, tekanan harga energi ke negara-negara importir seperti Indonesia akan terus bertambah berat, menekan anggaran negara, daya beli masyarakat, dan stabilitas nilai tukar secara bersamaan dalam beberapa bulan ke depan.

AS Pakai Data Salah untuk Ancam Tarif, Indonesia Masuk Daftar

Amerika Serikat menghapus data perdagangan yang keliru soal Singapura, setelah terbukti angka yang dipakai sebagai dasar investigasi tarif tidak akurat. Sebelumnya, kantor Perwakilan Dagang AS menyebut Singapura punya surplus perdagangan sebesar 27 miliar dolar AS dengan Amerika di tahun 2024. Singapura langsung membantah dengan mengacu pada data Biro Analisis Ekonomi AS sendiri, yang justru menunjukkan Singapura mencatat defisit sekitar 27 miliar dolar AS di periode yang sama. AS akhirnya menghapus angka tersebut setelah bantahan resmi Singapura. Yang perlu dicermati: data yang sama ini dipakai AS untuk melancarkan investigasi tarif ke 16 negara sekaligus, termasuk Indonesia. Investigasi ini bisa berujung pada pengenaan tarif baru yang berdampak langsung ke ekspor dan nilai tukar Rupiah. Jika data yang jadi dasar investigasi terbukti keliru, legitimasi seluruh program tarif ini bisa dipertanyakan. Dan itu berpotensi menggoyang sentimen pasar global, termasuk kripto.

Akses Berhasil!

Silahkan Download PDF melalui tombol dibawah ini. Kamu juga dapat gabung ke grup discord gratis untuk dapatkan info crypto menarik lainnya!

Pendaftaran Berhasil

Terima kasih telah mendaftar. Link Zoom akan dikirim melalui WhatsApp kamu. Punya pertanyaan? Silahkan chat minsul melalui tombol dibawah ini.