Selama 16 bulan tanpa jeda, Bank Sentral China menambah cadangan emasnya setiap bulan tanpa terkecuali. Per Februari 2026, total kepemilikan emas China menyentuh 2.309 ton senilai lebih dari $390 miliar, setara 10 persen dari seluruh cadangan devisa negara tersebut.
Langkah ini bukan spekulasi jangka pendek. Setelah AS membekukan cadangan devisa Rusia senilai ratusan miliar dolar pada 2022, banyak bank sentral di dunia mulai mempertanyakan keamanan menyimpan kekayaan dalam bentuk obligasi dolar. China mengambil kesimpulan yang sama: emas tidak bisa dibekukan, tidak bisa disanksi, dan tidak bergantung pada sistem keuangan manapun.
Dampaknya mulai terasa luas. Harga emas menembus $5.000 per troy ounce pada awal 2026, level tertinggi dalam beberapa dekade. Sementara itu, dolar AS melemah ke titik terendah dalam empat tahun terakhir di tengah ketidakpastian kebijakan ekonomi Amerika Serikat. ETF emas di China mencatat arus masuk dana terkuat dalam sejarah pada Januari 2026, mencapai $6,2 miliar hanya dalam satu bulan.
Bagi pasar kripto, rotasi ini punya makna tersendiri. Analis JPMorgan mencatat bahwa tren de-dolarisasi China sejak 2017 kerap bersamaan dengan penguatan emas, dan semakin sering dikaitkan dengan Bitcoin. Ketika kepercayaan terhadap aset berbasis negara melemah, aset yang tidak dikendalikan pihak manapun mulai masuk dalam percakapan cadangan global. Bitcoin, dengan pasokan tetap 21 juta koin, semakin sering disebut dalam konteks ini.
Pertanyaan yang relevan buat kamu sebagai investor: jika bank sentral terbesar di dunia saja aktif mendiversifikasi jauh dari dolar, aset apa yang kamu pegang sebagai lindung nilai hari ini?
Sumber: World Gold Council, CNN, Yahoo Finance