Saudi Aramco baru saja menetapkan harga minyak ke Asia pada level yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah. Perusahaan minyak milik negara Arab Saudi itu menaikkan harga minyak mentah Arab Light untuk pengiriman Mei ke premi 19,50 dolar AS per barel di atas tolok ukur regional untuk pembeli Asia, berdasarkan data harga yang dilihat Bloomberg. Angka ini dua kali lipat lebih tinggi dari rekor sebelumnya sekitar 9,50 dolar AS yang tercatat saat krisis energi 2022, dan merupakan yang tertinggi yang pernah tercatat dalam sejarah penetapan harga minyak Saudi untuk kawasan Asia.
Kenaikan ini bukan keputusan bisnis biasa. Ini adalah cerminan langsung dari krisis Selat Hormuz yang kini memasuki minggu kelima. Penutupan efektif selat tersebut oleh Iran memaksa Saudi Aramco mengalihkan seluruh ekspornya melalui jalur pipa menuju Laut Merah, yang kini sudah beroperasi di kapasitas penuh 7 juta barel per hari, mengekspor sekitar 5 juta barel per hari atau 70 persen dari total pengiriman sebelum perang. Dengan jalur alternatif yang sudah tidak bisa diperluas lagi dan permintaan Asia yang tidak surut, Aramco berada di posisi tawar yang belum pernah sekuat ini. Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab adalah satu-satunya produsen Teluk dengan jalur ekspor yang menghindari Hormuz, menjadikan keduanya pemegang kendali pasokan minyak Asia di tengah krisis ini.
Bagi Indonesia, angka 19,50 dolar AS ini bukan sekadar statistik energi global. Indonesia mengimpor sebagian besar kebutuhan minyaknya, dan kenaikan premi ini berarti setiap barel yang masuk ke kilang Pertamina kini jauh lebih mahal dari sebelumnya. Tekanan ini datang di saat yang paling tidak menguntungkan: Rupiah sudah tertekan akibat penguatan dolar karena permintaan safe haven global, sementara pemerintah masih menanggung beban subsidi BBM yang membengkak sejak harga minyak global melonjak lebih dari 50 persen sejak perang Iran meletus 28 Februari lalu. Kombinasi keduanya adalah tekanan ganda terhadap anggaran negara yang sulit dihindari.
Harga minyak Brent saat ini diperdagangkan di kisaran 109 dolar AS per barel, dengan WTI di 112 dolar AS. OPEC sudah memperingatkan bahwa kerusakan pada infrastruktur energi akibat perang ini akan berdampak berkepanjangan bahkan setelah konflik berakhir. Artinya, kenaikan harga ini bukan anomali sementara. Jika situasi Selat Hormuz tidak segera mereda, tekanan harga energi ke negara-negara importir seperti Indonesia akan terus bertambah berat, menekan anggaran negara, daya beli masyarakat, dan stabilitas nilai tukar secara bersamaan dalam beberapa bulan ke depan.