Selat Hormuz kini beroperasi seperti gerbang tol, dan pembayarannya bukan dalam dolar AS. Kapal yang ingin transit melalui selat harus mengajukan dokumen lengkap ke perantara yang terhubung dengan Garda Revolusi Iran, membayar biaya dalam yuan China atau crypto, lalu menerima koordinat jalur aman sebelum dikawal Angkatan Laut Iran, melansir Bloomberg. Seorang anggota parlemen Iran menyebut biaya transit mencapai US$2 juta per perjalanan, melansir Al Jazeera.
Ini adalah pergeseran fundamental dalam sistem perdagangan energi global. Selama puluhan tahun, minyak dunia diperdagangkan dalam dolar AS dengan jaminan keamanan Angkatan Laut Amerika. Kini, jalur yang menampung 20% pasokan minyak dan gas dunia tunduk pada aturan Iran dan dibayar dalam mata uang China. Menurut Lloyd’s List, setidaknya dua kapal sudah membayar biaya transit dalam yuan melalui perusahaan maritim China sebagai perantara, sementara 26 kapal tercatat mengikuti rute yang disetujui sistem “gerbang tol” IRGC antara 13 hingga 25 Maret.
Data mendukung narasi pergeseran ini. Sejak perang dimulai 28 Februari, setidaknya 11,7 juta barel minyak mentah Iran telah dikirim ke kilang China melalui selat, menurut data pelacakan kapal yang dikutip CNBC. Secara terpisah, volume transaksi harian di CIPS, sistem pembayaran lintas batas China, naik dari kisaran US$85 hingga US$105 miliar ke US$134 miliar pada Maret 2026, menurut analisis Atlantic Council. Meski kenaikan ini tidak secara langsung membuktikan aliran pembayaran minyak Iran, lonjakan volume di tengah perang menjadi sinyal bahwa infrastruktur pembayaran yuan semakin aktif digunakan.
Bagi pasar crypto, ada dua implikasi penting. Pertama, penggunaan crypto sebagai salah satu metode pembayaran transit menunjukkan adopsi nyata di level negara saat sistem keuangan tradisional tidak bisa digunakan. Kedua, pelemahan dominasi dolar dalam perdagangan energi secara historis menjadi katalis positif untuk Bitcoin sebagai aset alternatif. Bitcoin saat ini bertahan di kisaran US$67.000 hingga US$68.500, mencerminkan sikap menunggu pasar terhadap arah konflik.
Pertanyaan besarnya bukan lagi apakah yuan bisa menggantikan dolar dalam perdagangan minyak, tapi seberapa cepat infrastruktur alternatif ini menjadi permanen. Jika konflik berlanjut dan sistem “gerbang tol” Iran diformalkan melalui legislasi parlemen yang sedang disiapkan, Selat Hormuz bisa menjadi titik awal restrukturisasi sistem keuangan energi global.