Amerika Serikat menghapus data perdagangan yang keliru soal Singapura, setelah terbukti angka yang dipakai sebagai dasar investigasi tarif tidak akurat.
Sebelumnya, kantor Perwakilan Dagang AS menyebut Singapura punya surplus perdagangan sebesar 27 miliar dolar AS dengan Amerika di tahun 2024. Singapura langsung membantah dengan mengacu pada data Biro Analisis Ekonomi AS sendiri, yang justru menunjukkan Singapura mencatat defisit sekitar 27 miliar dolar AS di periode yang sama. AS akhirnya menghapus angka tersebut setelah bantahan resmi Singapura.
Yang perlu dicermati: data yang sama ini dipakai AS untuk melancarkan investigasi tarif ke 16 negara sekaligus, termasuk Indonesia. Investigasi ini bisa berujung pada pengenaan tarif baru yang berdampak langsung ke ekspor dan nilai tukar Rupiah.
Jika data yang jadi dasar investigasi terbukti keliru, legitimasi seluruh program tarif ini bisa dipertanyakan. Dan itu berpotensi menggoyang sentimen pasar global, termasuk kripto.