9 April 2026 | Geopolitik & Pasar
Gencatan senjata dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran yang diumumkan Trump pada Selasa malam belum membuat kawasan Timur Tengah benar-benar tenang. Buktinya, Uni Emirat Arab (UEA) langsung angkat suara sehari setelahnya.
Kementerian Luar Negeri UEA meminta pendekatan berkelanjutan untuk mengatasi seluruh ancaman dari Iran, termasuk kemampuan nuklir dan rudal balistiknya, melansir Bloomberg. Bagi UEA, gencatan senjata dua minggu saja tidak cukup. Mereka ingin isu nuklir dan pelucutan rudal Iran masuk ke meja negosiasi, bukan sekadar ditunda.
Kenapa UEA Punya Alasan Kuat untuk Khawatir
UEA bukan sekadar penonton dalam konflik ini. Sejak perang dimulai pada Februari 2026, lebih dari 40% serangan rudal dan drone Iran diarahkan ke wilayah UEA. Abu Dhabi bahkan pernah mencegat rudal balistik langsung di atasnya, dengan puing jatuh yang menewaskan 2 orang.
Dengan rekam jejak seperti itu, wajar jika UEA tidak puas hanya dengan jeda sementara. Tanpa penyelesaian soal nuklir dan rudal, ancaman jangka panjang tetap ada, dan UEA tahu itu lebih dari siapa pun.
Selat Hormuz: Belum Benar-benar Terbuka
Salah satu tuntutan utama UEA adalah pembukaan penuh Selat Hormuz tanpa syarat. Dan ini bukan permintaan kecil.
Selat Hormuz adalah jalur pengiriman sekitar 20% pasokan minyak dunia. Sejak konflik pecah, jalur ini baru dibuka sebagian dan masih dalam koordinasi dengan militer Iran. Artinya, aliran energi global belum kembali normal.
Harga minyak Brent saat ini berada di kisaran $94 per barel. Angka ini memang turun dari puncak $112 di masa krisis, tapi masih jauh di atas level $70 sebelum perang dimulai. Selama Hormuz belum sepenuhnya bebas, harga minyak tetap rentan terhadap eskalasi ulang.
Gencatan Senjata yang Rapuh
Di sisi lain, Iran sendiri sudah mengklaim tiga klausul dari gencatan senjata telah dilanggar. Parlemen Iran menyebut perjanjian ini tidak dijalankan sesuai kesepakatan. Pasar langsung merespons, indeks saham Asia Pasifik turun 0,4% dan futures AS kehilangan momentum setelah sempat melonjak besar pasca pengumuman gencatan.
Analis dari BCA Research memperingatkan bahwa konflik bisa kembali memanas sebelum akhir tahun, terutama setelah pemilu sela Amerika Serikat. Negosiasi resmi putaran pertama dijadwalkan berlangsung di Islamabad pada 10 April 2026.
Dampak Langsung ke Indonesia
Bagi Indonesia, situasi ini bukan sekadar berita luar negeri. Ada dua dampak konkret yang perlu diperhatikan.
Pertama, harga BBM. Setiap kenaikan ulang harga minyak global akan langsung menekan anggaran subsidi energi pemerintah dan berpotensi mendorong harga BBM naik di tingkat konsumen.
Kedua, nilai tukar Rupiah. Ketidakpastian geopolitik yang belum selesai membuat investor global cenderung menghindari aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti Rupiah. Selama situasi Timur Tengah belum stabil, tekanan terhadap Rupiah akan terus ada.
Apa yang Perlu Dipantau Selanjutnya
Ada tiga hal yang akan menentukan arah pasar dalam beberapa hari ke depan. Pertama, apakah negosiasi di Islamabad pada 10 April menghasilkan sesuatu yang konkret. Kedua, apakah Selat Hormuz benar-benar dibuka penuh tanpa koordinasi militer Iran. Ketiga, bagaimana respons Iran terhadap tuntutan UEA soal nuklir dan rudal.
Jika ketiga hal ini berjalan positif, harga minyak berpeluang turun lebih jauh dan tekanan inflasi global akan berkurang. Ini juga membuka ruang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga, yang secara historis menjadi katalis positif bagi aset berisiko termasuk kripto.
Sebaliknya, jika negosiasi gagal dan konflik kembali pecah, pasar akan kembali ke mode defensif.