Bahlil Dorong Perluasan CNG, RI Mau Lepas dari Impor LPG 7 Juta Ton per Tahun

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) menyatakan kesiapan mendukung rencana Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk memperluas pemanfaatan gas alam terkompresi atau Compressed Natural Gas (CNG) sebagai substitusi impor gas minyak cair atau Liquified Petroleum Gas (LPG) yang menembus 7 juta ton per tahun. Langkah ini menjadi salah satu strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan energi impor, terutama di tengah gangguan rantai pasok global akibat penutupan Selat Hormuz.

Lewat anak usahanya PT Gagas Energi Indonesia, PGN saat ini mengoperasikan 14 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) di 7 provinsi, dengan rata-rata pengisian sekitar 2.200 kendaraan per hari untuk layanan CNG masyarakat atau Gasku. Pada segmen industri, PGN Gagas melayani lebih dari 600 pelanggan dengan total penyaluran mencapai 4.067.002 MMBTU sepanjang 2025, sementara penyaluran gas bumi melalui layanan CNG dan LNG tahun lalu mencapai 4,6 juta MMBTU. Direktur Utama PGN Gagas Santiaji Gunawan menyatakan perseroan siap mengembangkan pemanfaatan CNG secara bertahap dengan mempertimbangkan aspek keekonomian, kesiapan infrastruktur, serta kebutuhan pasar.

Bahlil menjelaskan CNG mengandung komponen metana (C1) dan etana (C2) yang banyak terkandung dalam gas bumi produksi dalam negeri, sehingga lebih realistis dijadikan substitusi domestik. Sebaliknya, LPG terdiri dari komponen propana (C3) dan butana (C4) yang tidak banyak terkandung dalam gas bumi Tanah Air, sehingga ketergantungan pada impor sulit dihindari dalam jangka pendek. Selain mendorong CNG, Bahlil juga kembali menggaungkan rencana hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) sebagai alternatif tambahan untuk mengurangi impor LPG.

Dari sisi keekonomian, prospek substitusi ini cukup menjanjikan. Direktur Utama PT Petrogas Jatim Utama Cendana Hadi Ismoyo memprediksi konsumsi CNG bakal meningkat seiring pengalihan LPG industri untuk konsumsi masyarakat. Hadi memperkirakan kebutuhan LPG industri sekitar 400.000 ton setara dengan kebutuhan CNG sebesar 50 hingga 60 standar kaki kubik per hari (MMSCFD), sementara produksi gas nasional saat ini mencapai sekitar 6.000 MMSCFD. Dari sisi biaya, harga per satuan kalori CNG lebih murah 20% hingga 30% dibanding LPG, sehingga atraktif bagi pelaku industri yang mencari efisiensi biaya energi.

Bagi investor pasar saham, kebijakan ini berpotensi menjadi katalis positif bagi saham PGAS sebagai pemain dominan infrastruktur gas bumi di Indonesia, terutama jika perluasan SPBG dan jaringan kompresi terealisasi sesuai arahan kementerian. Pada level makro, pengurangan impor LPG yang nilainya mencapai miliaran dolar AS per tahun bisa membantu menekan defisit transaksi berjalan, mengurangi beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), serta menambah ruang fiskal di tengah tekanan global. Pertanyaan yang tersisa adalah seberapa cepat kebijakan ini bisa diterjemahkan menjadi infrastruktur nyata di lapangan, mengingat kebutuhan investasi besar untuk membangun jaringan CNG yang merata di seluruh kawasan industri Indonesia.

Pelajari Materi Lainnya

Lihat semua

APBN 2026 Resmi "Survival Mode": Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Trump Tolak Proposal Iran, Harapan Damai Sirna dan Selat Hormuz Tetap Lumpuh

Asing Kabur Rp2 Triliun dari Bank Indonesia: Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Drama Bersejarah Musk vs OpenAI: Gugatan $130 Miliar dan Token Meme Viral $SCAM Altman

Malaysia Bikin Sukuk Versi Crypto, Indonesia Kapan?

UAE Keluar OPEC, Rupiah Siap-Siap Hadapi Badai Baru

Trump Klaim AS Cuan $30 Miliar dari Saham Intel dalam 90 Hari, Tapi Angka Resmi Berbeda

OJK Setop 953 Pinjol & Investasi Ilegal di Q1 2026, Modus Penipuan Makin Canggih

Trump Klaim Iran Sudah Kalah, Blokade Diperpanjang. Apa Dampaknya ke Indonesia?

Hilirisasi Rp116 Triliun Diresmikan, Indonesia Siap Kurangi Impor Bensin?

Properti China Ambruk 21%, Indonesia Bakal Ikut Terseret?

Rupiah & Emas Sama-Sama Ambruk Hari Ini, Apa Artinya Buat Kamu?

Saudi Babak Belur! Ekspor Minyak Anjlok 50% Akibat Perang Iran

Menkeu Ambil Alih Anggaran OJK! Ada Apa Sebenarnya?

Trump Timbang Serangan Baru ke Iran, CENTCOM Siapkan Tiga Opsi Militer

Indonesia Emas 2045? Prabowo Tebar 6 Janji di Hari Buruh, dari Ojol hingga Bunga Kredit 5%

Trump Tarik 5.000 Pasukan AS dari Jerman, Buntut Perselisihan dengan Kanselir Merz Soal Perang Iran

Hacker Korea Utara Raup $577 Juta Crypto dari 2 Serangan, Dominasi 76% Pencurian Global 2026

Jepang Gelontor $34,5 Miliar Selamatkan Yen, Intervensi Pertama Sejak Juli 2024

AS Habisi Bursa Iran dan Terminal Minyak China, Tekanan ke Teheran Naik Level

Belajar lebih dalam bersama komunitas Trade With Suli

Gabung Member
Bahlil Dorong Perluasan CNG, RI Mau Lepas dari Impor LPG 7 Juta Ton per Tahun | Trade With Suli