1,5 Juta Orang Indonesia Gagal Dapat Kerja Setiap Tahun — dan Angkanya Terus Bertambah

Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menyebut kondisi ketenagakerjaan Indonesia sudah masuk "lampu kuning." Setiap tahun, sekitar 3,5 juta orang baru masuk ke pasar kerja. Tapi pertumbuhan ekonomi 5% hanya mampu menyerap sekitar 2 juta orang. Artinya, 1,5 juta orang sisanya tidak terserap, dan sebagian besar dari mereka berakhir di sektor informal atau menganggur. Pernyataan ini disampaikan Ketua Bidang Ketenagakerjaan APINDO Bob Azam dalam Rapat Panja RUU Ketenagakerjaan bersama Komisi IX DPR RI, Selasa (14/4/2026).

Masalahnya lebih dalam dari sekadar kekurangan lapangan kerja. Jenis investasi yang masuk ke Indonesia semakin banyak yang bersifat padat modal, bukan padat karya. Investasi padat modal menciptakan lebih sedikit pekerjaan karena mengandalkan mesin dan teknologi, bukan tenaga manusia. Kalau tren ini berlanjut, kemampuan ekonomi menyerap tenaga kerja per 1% pertumbuhan bisa turun dari 200.000 menjadi hanya 100.000 orang. Ketua Umum APINDO Shinta Kamdani sebelumnya juga menyoroti hal yang sama: investasi yang menjauh dari sektor padat karya membuat ketimpangan antara ketersediaan lapangan kerja dan kebutuhan tenaga kerja makin lebar.

Data BPS per Februari 2025 menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Dari 145,77 juta orang yang bekerja di Indonesia, 59,40% atau sekitar 86,55 juta orang bekerja di sektor informal, naik dari 57,95% pada Agustus 2024. Artinya sektor formal, yang menawarkan kontrak resmi, jaminan sosial, dan perlindungan hukum, justru menyusut proporsinya. Mereka yang masuk ke sektor informal kebanyakan bukan karena pilihan, tapi karena tidak ada pilihan lain.

Survei APINDO mempertegas gambaran ini dari sisi perusahaan. Sebanyak 67% perusahaan menyatakan tidak berniat merekrut pegawai baru tahun ini. Kondisi ini diperparah oleh data PHK: sepanjang 2025, total 88.519 pekerja kehilangan pekerjaan, naik 13,54% dibanding 2024 yang sebesar 77.965 orang. Sementara jumlah orang yang menganggur per Februari 2025 masih tercatat 7,28 juta jiwa.

Yang menjadi persoalan struktural adalah kualitas tenaga kerja Indonesia. BPS mencatat 36% pekerja berpendidikan di bawah SMA, dan hanya 9% yang memiliki keterampilan tinggi, jauh di bawah Vietnam (10%), Thailand (14%), dan Malaysia (25%). Tanpa perbaikan di sisi investasi padat karya dan peningkatan kompetensi tenaga kerja, kesenjangan antara angkatan kerja baru dan lapangan kerja yang tersedia akan terus melebar setiap tahunnya.

Pelajari Materi Lainnya

Lihat semua

APBN 2026 Resmi "Survival Mode": Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Trump Tolak Proposal Iran, Harapan Damai Sirna dan Selat Hormuz Tetap Lumpuh

Asing Kabur Rp2 Triliun dari Bank Indonesia: Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Drama Bersejarah Musk vs OpenAI: Gugatan $130 Miliar dan Token Meme Viral $SCAM Altman

Malaysia Bikin Sukuk Versi Crypto, Indonesia Kapan?

UAE Keluar OPEC, Rupiah Siap-Siap Hadapi Badai Baru

Trump Klaim AS Cuan $30 Miliar dari Saham Intel dalam 90 Hari, Tapi Angka Resmi Berbeda

OJK Setop 953 Pinjol & Investasi Ilegal di Q1 2026, Modus Penipuan Makin Canggih

Trump Klaim Iran Sudah Kalah, Blokade Diperpanjang. Apa Dampaknya ke Indonesia?

Hilirisasi Rp116 Triliun Diresmikan, Indonesia Siap Kurangi Impor Bensin?

Properti China Ambruk 21%, Indonesia Bakal Ikut Terseret?

Rupiah & Emas Sama-Sama Ambruk Hari Ini, Apa Artinya Buat Kamu?

Saudi Babak Belur! Ekspor Minyak Anjlok 50% Akibat Perang Iran

Menkeu Ambil Alih Anggaran OJK! Ada Apa Sebenarnya?

Trump Timbang Serangan Baru ke Iran, CENTCOM Siapkan Tiga Opsi Militer

Bahlil Dorong Perluasan CNG, RI Mau Lepas dari Impor LPG 7 Juta Ton per Tahun

Indonesia Emas 2045? Prabowo Tebar 6 Janji di Hari Buruh, dari Ojol hingga Bunga Kredit 5%

Trump Tarik 5.000 Pasukan AS dari Jerman, Buntut Perselisihan dengan Kanselir Merz Soal Perang Iran

Hacker Korea Utara Raup $577 Juta Crypto dari 2 Serangan, Dominasi 76% Pencurian Global 2026

Jepang Gelontor $34,5 Miliar Selamatkan Yen, Intervensi Pertama Sejak Juli 2024

Belajar lebih dalam bersama komunitas Trade With Suli

Gabung Member