Bank Sentral Dunia Jual Obligasi AS ke Level Terendah Sejak 2012, Imbal Hasil Melonjak

Kepemilikan obligasi AS oleh bank sentral asing di Federal Reserve New York anjlok US$82 miliar sejak 25 Februari 2026, menjatuhkan total ke US$2,7 triliun, level terendah sejak 2012. Melansir Financial Times, aksi jual ini dipicu kebutuhan dolar yang melonjak di tengah harga minyak yang terus naik akibat perang Iran-AS dan penutupan Selat Hormuz.

Negara-negara importir minyak menjadi penjual terbesar. Turki tercatat memangkas US$22 miliar obligasi asing dari cadangan devisanya sejak perang dimulai. India dan Thailand juga menguras cadangan devisa mereka untuk menopang mata uang lokal, meski belum terkonfirmasi secara spesifik apakah yang dijual adalah obligasi AS atau simpanan dolar lainnya.

Brad Setser dari Council on Foreign Relations menjelaskan bahwa logika di balik aksi ini cukup sederhana: banyak negara tidak mau membiarkan mata uang mereka melemah lebih jauh karena hal itu akan membuat harga minyak dalam mata uang lokal semakin mahal dan memperburuk beban fiskal. Menjual obligasi AS untuk mempertahankan kurs menjadi pilihan yang dianggap lebih realistis dibanding menaikkan suku bunga secara agresif.

Dampaknya langsung terasa di pasar surat utang AS. Imbal hasil obligasi tenor 2 tahun dan 10 tahun mencatat kenaikan bulanan terbesar sepanjang 2026, yang berarti biaya pinjaman naik untuk pemerintah, perusahaan, dan konsumen. Bagi investor crypto, kenaikan imbal hasil obligasi memperkuat dolar AS dan menekan aset berisiko. Bitcoin masih bertahan di kisaran US$66.500, tapi tekanan dari penguatan dolar dan naiknya imbal hasil bisa menjadi beban tambahan dalam jangka pendek.

Jika tren penjualan obligasi oleh bank sentral asing terus berlanjut, pertanyaannya bukan lagi soal siapa yang jual, tapi siapa yang tersisa untuk membeli. Ketika pembeli tradisional terbesar mundur dari pasar obligasi AS di saat defisit fiskal masih membengkak, tekanan terhadap fondasi keuangan global bisa semakin dalam.

Melansir Financial Times

Pelajari Materi Lainnya

Lihat semua

APBN 2026 Resmi "Survival Mode": Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Trump Tolak Proposal Iran, Harapan Damai Sirna dan Selat Hormuz Tetap Lumpuh

Asing Kabur Rp2 Triliun dari Bank Indonesia: Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Drama Bersejarah Musk vs OpenAI: Gugatan $130 Miliar dan Token Meme Viral $SCAM Altman

Malaysia Bikin Sukuk Versi Crypto, Indonesia Kapan?

UAE Keluar OPEC, Rupiah Siap-Siap Hadapi Badai Baru

Trump Klaim AS Cuan $30 Miliar dari Saham Intel dalam 90 Hari, Tapi Angka Resmi Berbeda

OJK Setop 953 Pinjol & Investasi Ilegal di Q1 2026, Modus Penipuan Makin Canggih

Trump Klaim Iran Sudah Kalah, Blokade Diperpanjang. Apa Dampaknya ke Indonesia?

Hilirisasi Rp116 Triliun Diresmikan, Indonesia Siap Kurangi Impor Bensin?

Properti China Ambruk 21%, Indonesia Bakal Ikut Terseret?

Rupiah & Emas Sama-Sama Ambruk Hari Ini, Apa Artinya Buat Kamu?

Saudi Babak Belur! Ekspor Minyak Anjlok 50% Akibat Perang Iran

Menkeu Ambil Alih Anggaran OJK! Ada Apa Sebenarnya?

Trump Timbang Serangan Baru ke Iran, CENTCOM Siapkan Tiga Opsi Militer

Bahlil Dorong Perluasan CNG, RI Mau Lepas dari Impor LPG 7 Juta Ton per Tahun

Indonesia Emas 2045? Prabowo Tebar 6 Janji di Hari Buruh, dari Ojol hingga Bunga Kredit 5%

Trump Tarik 5.000 Pasukan AS dari Jerman, Buntut Perselisihan dengan Kanselir Merz Soal Perang Iran

Hacker Korea Utara Raup $577 Juta Crypto dari 2 Serangan, Dominasi 76% Pencurian Global 2026

Jepang Gelontor $34,5 Miliar Selamatkan Yen, Intervensi Pertama Sejak Juli 2024

Belajar lebih dalam bersama komunitas Trade With Suli

Gabung Member