BITCOIN AKAN TURUN KE $50.000? POLA 10 TAHUN INI JAWABNYA

Selama satu dekade, Bitcoin tidak pernah keluar dari satu pola yang sama. Setiap empat tahun, siklus yang identik berulang: akumulasi di harga rendah, kenaikan tajam yang menarik perhatian dunia, distribusi di puncak, lalu koreksi panjang selama kurang lebih satu tahun. Joao Wedson, pendiri dan CEO platform analitik Alphractal, memetakan pola ini dalam chart yang kini viral di kalangan trader global dan memunculkan satu pertanyaan besar: apakah Bitcoin sedang menuju dasar siklus berikutnya?
Berdasarkan analisis fraktal tersebut, Wedson memproyeksikan Bitcoin akan menyentuh titik bottom berikutnya di awal Oktober 2026, dengan target harga di kisaran $41.500 hingga $45.000. Jika proyeksi ini akurat, itu berarti koreksi lebih dari 50 persen dari level harga saat ini. Angka yang berat, tapi konsisten dengan apa yang terjadi di dua siklus bear market sebelumnya: penurunan 84 persen di 2018 dan 77 persen di 2022.
Yang membuat analisis ini mendapat perhatian luas adalah rekam jejaknya. Pola yang sama berhasil memetakan puncak dan dasar siklus sebelumnya dengan presisi yang tidak biasa. Wedson sendiri memberi catatan penting: pasar tidak berulang persis sama, tapi berirama dengan frekuensi yang tidak nyaman. Chart ini bukan prediksi, melainkan cermin dari bagaimana perilaku investor, rasa takut, dan keserakahan berulang dalam ritme yang hampir tidak berubah sejak Bitcoin pertama kali diperdagangkan.
Tentu, sejumlah analis berbeda pendapat. Arus masuk ETF Bitcoin spot yang kini dipegang institusi keuangan terbesar dunia, akumulasi korporasi seperti Strategy milik Michael Saylor yang telah mengumpulkan lebih dari 761.000 Bitcoin, serta likuiditas global yang belum sepenuhnya surut dianggap sebagai faktor yang bisa mengubah dinamika pasar secara struktural. Pasar Bitcoin hari ini memang berbeda dari 2018 atau 2022, dan sebagian analis meyakini faktor-faktor baru ini bisa menopang harga serta memutus pola lama.
Yang jelas, chart ini bukan sekadar teori akademis. Ia adalah rekaman nyata dari bagaimana siklus pasar bekerja selama satu dekade terakhir. Apakah Oktober 2026 akan menjadi titik akumulasi terbaik berikutnya, atau faktor-faktor baru akan mengubah segalanya, itulah pertanyaan yang kini sedang dijawab oleh pasar secara langsung.

Pelajari Materi Lainnya

Lihat semua

APBN 2026 Resmi "Survival Mode": Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Trump Tolak Proposal Iran, Harapan Damai Sirna dan Selat Hormuz Tetap Lumpuh

Asing Kabur Rp2 Triliun dari Bank Indonesia: Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Drama Bersejarah Musk vs OpenAI: Gugatan $130 Miliar dan Token Meme Viral $SCAM Altman

Malaysia Bikin Sukuk Versi Crypto, Indonesia Kapan?

UAE Keluar OPEC, Rupiah Siap-Siap Hadapi Badai Baru

Trump Klaim AS Cuan $30 Miliar dari Saham Intel dalam 90 Hari, Tapi Angka Resmi Berbeda

OJK Setop 953 Pinjol & Investasi Ilegal di Q1 2026, Modus Penipuan Makin Canggih

Trump Klaim Iran Sudah Kalah, Blokade Diperpanjang. Apa Dampaknya ke Indonesia?

Hilirisasi Rp116 Triliun Diresmikan, Indonesia Siap Kurangi Impor Bensin?

Properti China Ambruk 21%, Indonesia Bakal Ikut Terseret?

Rupiah & Emas Sama-Sama Ambruk Hari Ini, Apa Artinya Buat Kamu?

Saudi Babak Belur! Ekspor Minyak Anjlok 50% Akibat Perang Iran

Menkeu Ambil Alih Anggaran OJK! Ada Apa Sebenarnya?

Trump Timbang Serangan Baru ke Iran, CENTCOM Siapkan Tiga Opsi Militer

Bahlil Dorong Perluasan CNG, RI Mau Lepas dari Impor LPG 7 Juta Ton per Tahun

Indonesia Emas 2045? Prabowo Tebar 6 Janji di Hari Buruh, dari Ojol hingga Bunga Kredit 5%

Trump Tarik 5.000 Pasukan AS dari Jerman, Buntut Perselisihan dengan Kanselir Merz Soal Perang Iran

Hacker Korea Utara Raup $577 Juta Crypto dari 2 Serangan, Dominasi 76% Pencurian Global 2026

Jepang Gelontor $34,5 Miliar Selamatkan Yen, Intervensi Pertama Sejak Juli 2024

Belajar lebih dalam bersama komunitas Trade With Suli

Gabung Member