Bukan Cuma Rupiah, Hampir Seluruh Mata Uang Asia Babak Belur Lawan Dolar AS

Pelemahan rupiah hari ini ternyata bukan cerita Indonesia saja. Hampir semua mata uang Asia kena hantam dolar AS yang sedang sangat kuat. Pada perdagangan Selasa (5/5/2026), Rupiah dan Ringgit Malaysia memimpin pelemahan harian di kawasan, masing-masing turun 0,22% dan 0,25%. Rupiah berada di Rp17.403 per dolar AS, sementara Ringgit di posisi 3,960 per dolar AS. Peso Filipina ikut melemah 0,23%, dan Baht Thailand juga turun tipis.

Melansir Kontan dan Reuters, kalau dilihat dari awal tahun 2026, hampir semua mata uang Asia berdarah-darah lawan dolar. Rupee India paling parah dengan penurunan 5,49% sejak akhir 2025. Peso Filipina jeblok 4,71%, Rupiah turun 4,21%, dan Baht Thailand minus 3,91%. Won Korea juga ikut turun 2,51%. Hanya dua mata uang Asia yang berhasil mencatat penguatan tahun ini, yaitu Yuan China naik 2,30% dan Dolar Singapura naik 0,74%.

Penyebab utamanya bisa dijelaskan dengan bahasa sederhana. Dolar AS sedang sangat kuat karena dunia lagi panik dengan perang Iran-AS yang belum kelar. Saat dunia tegang, semua investor global pindah uangnya ke aset yang dianggap paling aman, dan itu adalah dolar AS. Selain itu, The Fed belum mau menurunkan suku bunga karena ekonomi AS masih kuat dan inflasi belum sepenuhnya turun. Ketika suku bunga AS tinggi, simpanan dolar jadi makin menarik bagi investor global, sehingga permintaan dolar makin tinggi.

Yang menarik, Yuan China dan Dolar Singapura justru berhasil melawan tren regional ini. Penyebabnya adalah fundamental ekonomi China yang masih solid dengan PMI manufaktur ekspansi di 50,4, dan Singapura yang punya cadangan devisa kuat serta ekonomi yang sangat terhubung dengan perdagangan global. Kedua negara ini berhasil meyakinkan investor bahwa ekonomi mereka tahan banting menghadapi guncangan global. Buat Indonesia, ini menjadi pelajaran penting bahwa ketahanan mata uang sangat bergantung pada kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi nasional.

Buat masyarakat dan investor Indonesia, situasi ini punya dampak nyata. Barang impor seperti elektronik, gandum, kedelai, dan obat-obatan bakal makin mahal dalam beberapa bulan ke depan. Biaya travelling ke luar negeri juga makin berat. Selama perang Iran-AS belum reda dan The Fed belum turunkan suku bunga, mata uang Asia diperkirakan masih akan tertekan. Buat yang punya tabungan, momen ini bisa jadi pertimbangan untuk diversifikasi aset ke instrumen yang lebih tahan terhadap pelemahan rupiah, seperti emas, dolar, atau aset internasional lainnya.

Pelajari Materi Lainnya

Lihat semua

APBN 2026 Resmi "Survival Mode": Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Trump Tolak Proposal Iran, Harapan Damai Sirna dan Selat Hormuz Tetap Lumpuh

Asing Kabur Rp2 Triliun dari Bank Indonesia: Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Drama Bersejarah Musk vs OpenAI: Gugatan $130 Miliar dan Token Meme Viral $SCAM Altman

Malaysia Bikin Sukuk Versi Crypto, Indonesia Kapan?

UAE Keluar OPEC, Rupiah Siap-Siap Hadapi Badai Baru

Trump Klaim AS Cuan $30 Miliar dari Saham Intel dalam 90 Hari, Tapi Angka Resmi Berbeda

OJK Setop 953 Pinjol & Investasi Ilegal di Q1 2026, Modus Penipuan Makin Canggih

Trump Klaim Iran Sudah Kalah, Blokade Diperpanjang. Apa Dampaknya ke Indonesia?

Hilirisasi Rp116 Triliun Diresmikan, Indonesia Siap Kurangi Impor Bensin?

Properti China Ambruk 21%, Indonesia Bakal Ikut Terseret?

Rupiah & Emas Sama-Sama Ambruk Hari Ini, Apa Artinya Buat Kamu?

Saudi Babak Belur! Ekspor Minyak Anjlok 50% Akibat Perang Iran

Menkeu Ambil Alih Anggaran OJK! Ada Apa Sebenarnya?

Trump Timbang Serangan Baru ke Iran, CENTCOM Siapkan Tiga Opsi Militer

Bahlil Dorong Perluasan CNG, RI Mau Lepas dari Impor LPG 7 Juta Ton per Tahun

Indonesia Emas 2045? Prabowo Tebar 6 Janji di Hari Buruh, dari Ojol hingga Bunga Kredit 5%

Trump Tarik 5.000 Pasukan AS dari Jerman, Buntut Perselisihan dengan Kanselir Merz Soal Perang Iran

Hacker Korea Utara Raup $577 Juta Crypto dari 2 Serangan, Dominasi 76% Pencurian Global 2026

Jepang Gelontor $34,5 Miliar Selamatkan Yen, Intervensi Pertama Sejak Juli 2024

Belajar lebih dalam bersama komunitas Trade With Suli

Gabung Member