China Diam-Diam Borong 50 Ton Emas, Perang Mata Uang Makin Nyata

Dua kelompok investor global bereaksi sepenuhnya berbeda terhadap perang Iran: investor Amerika Utara menjual emas besar-besaran, sementara China justru membelinya di harga yang sama. Amerika Utara mencatat outflow sebesar 13 miliar dolar dari ETF emas di Maret 2026, mengakhiri streak inflow sembilan bulan berturut-turut dan menjadi outflow bulanan terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah. Dalam satu bulan, investor Barat membuang emas senilai lebih dari Rp210 triliun.

Di sisi berlawanan, ETF emas China mencatat inflow rekor sebesar 8,5 miliar dolar sepanjang Q1 2026, dengan total holdings naik 50 ton ke level 298 ton, rekor tertinggi sepanjang sejarah. Bank sentral China melakukan pembelian emas bulan ke-17 secara berturut-turut di Maret, menambah cadangan emas negara ke level 2.313 ton atau sekitar 9 persen dari total cadangan devisa.

Pola ini bukan kebetulan. Holdings ETF emas China telah lebih dari dua kali lipat sejak awal 2025, sementara volume perdagangan emas di Shanghai Futures Exchange mendekati rata-rata 540 ton per hari sepanjang tahun berjalan. Akumulasi sebesar ini, dilakukan secara konsisten selama tujuh bulan berturut-turut, mencerminkan strategi jangka panjang yang jauh melampaui respons terhadap satu konflik regional.

Konteks yang lebih besar adalah de-dolarisasi. China secara sistematis memindahkan cadangan dari obligasi pemerintah AS ke emas fisik, langkah yang juga dilakukan Rusia, India, dan sejumlah bank sentral negara berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Sementara investor Barat menjual emas karena harapan de-eskalasi Iran, China melihat momen yang sama sebagai kesempatan akumulasi dalam strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS sebagai cadangan devisa global.

Bagi investor Indonesia, dinamika ini relevan langsung. Pelemahan dolar AS dalam jangka panjang akan berdampak ke nilai tukar rupiah, harga komoditas ekspor, dan daya tarik aset berisiko termasuk Bitcoin. Pertanyaannya bukan lagi apakah pergeseran ini akan terjadi, tapi seberapa cepat, dan apakah portofolio kamu sudah mempertimbangkan skenario ini.

Pelajari Materi Lainnya

Lihat semua

APBN 2026 Resmi "Survival Mode": Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Trump Tolak Proposal Iran, Harapan Damai Sirna dan Selat Hormuz Tetap Lumpuh

Asing Kabur Rp2 Triliun dari Bank Indonesia: Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Drama Bersejarah Musk vs OpenAI: Gugatan $130 Miliar dan Token Meme Viral $SCAM Altman

Malaysia Bikin Sukuk Versi Crypto, Indonesia Kapan?

UAE Keluar OPEC, Rupiah Siap-Siap Hadapi Badai Baru

Trump Klaim AS Cuan $30 Miliar dari Saham Intel dalam 90 Hari, Tapi Angka Resmi Berbeda

OJK Setop 953 Pinjol & Investasi Ilegal di Q1 2026, Modus Penipuan Makin Canggih

Trump Klaim Iran Sudah Kalah, Blokade Diperpanjang. Apa Dampaknya ke Indonesia?

Hilirisasi Rp116 Triliun Diresmikan, Indonesia Siap Kurangi Impor Bensin?

Properti China Ambruk 21%, Indonesia Bakal Ikut Terseret?

Rupiah & Emas Sama-Sama Ambruk Hari Ini, Apa Artinya Buat Kamu?

Saudi Babak Belur! Ekspor Minyak Anjlok 50% Akibat Perang Iran

Menkeu Ambil Alih Anggaran OJK! Ada Apa Sebenarnya?

Trump Timbang Serangan Baru ke Iran, CENTCOM Siapkan Tiga Opsi Militer

Bahlil Dorong Perluasan CNG, RI Mau Lepas dari Impor LPG 7 Juta Ton per Tahun

Indonesia Emas 2045? Prabowo Tebar 6 Janji di Hari Buruh, dari Ojol hingga Bunga Kredit 5%

Trump Tarik 5.000 Pasukan AS dari Jerman, Buntut Perselisihan dengan Kanselir Merz Soal Perang Iran

Hacker Korea Utara Raup $577 Juta Crypto dari 2 Serangan, Dominasi 76% Pencurian Global 2026

Jepang Gelontor $34,5 Miliar Selamatkan Yen, Intervensi Pertama Sejak Juli 2024

Belajar lebih dalam bersama komunitas Trade With Suli

Gabung Member