GARA-GARA PERANG IRAN, FED BALIK ARAH NAIKKAN SUKU BUNGA

Commonwealth Bank of Australia (CBA) merevisi proyeksi kebijakan moneter Amerika Serikat secara drastis. Bank terbesar Australia itu kini memperkirakan Federal Reserve tidak akan memangkas suku bunga tahun ini, dan justru akan mulai menaikkannya kembali mulai akhir 2026 sebesar 75 basis poin, melansir CommBank - bank accounts, credit cards, home loans and insurance .

Pemicu utamanya adalah guncangan energi akibat perang Iran yang meletus sejak Februari 2026. Meski Amerika Serikat relatif mandiri dalam hal energi, lonjakan harga bahan bakar global tetap akan menekan inflasi domestik secara luas. "Guncangan energi ini telah mengubah outlook inflasi secara material," kata Joe Capurso, Kepala Divisi FX, Internasional, dan Geopolitik CBA. Selat Hormuz yang masih efektif tertutup membuat tekanan harga energi belum mereda, dan pasar mulai memperhitungkan bahwa kondisi ini bisa bertahan lebih lama dari perkiraan awal.

Di sisi lain, boom investasi kecerdasan buatan yang sedang berlangsung menambah tekanan inflasi dari sisi permintaan. CBA menyebut kombinasi dua faktor ini, kejutan energi dari Timur Tengah dan akselerasi investasi AI, sebagai pendorong utama mengapa The Fed kemungkinan harus berbalik arah dari kebijakan pelonggaran ke pengetatan kembali. Ini adalah pergeseran besar dari ekspektasi pasar di awal 2026 yang masih memperkirakan beberapa kali pemangkasan suku bunga sepanjang tahun.

Bagi pasar crypto, skenario ini adalah kabar buruk jangka pendek. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung memperkuat dolar AS dan menekan aset berisiko karena investor lebih memilih instrumen berbunga tetap yang kini menawarkan imbal hasil lebih menarik. Bitcoin yang saat ini sudah tertekan di kisaran $74.000 akibat ketidakpastian perang Iran berpotensi menghadapi tekanan tambahan jika ekspektasi kenaikan suku bunga Fed mulai sepenuhnya diperhitungkan pasar.

Pelajari Materi Lainnya

Lihat semua

APBN 2026 Resmi "Survival Mode": Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Trump Tolak Proposal Iran, Harapan Damai Sirna dan Selat Hormuz Tetap Lumpuh

Asing Kabur Rp2 Triliun dari Bank Indonesia: Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Drama Bersejarah Musk vs OpenAI: Gugatan $130 Miliar dan Token Meme Viral $SCAM Altman

Malaysia Bikin Sukuk Versi Crypto, Indonesia Kapan?

UAE Keluar OPEC, Rupiah Siap-Siap Hadapi Badai Baru

Trump Klaim AS Cuan $30 Miliar dari Saham Intel dalam 90 Hari, Tapi Angka Resmi Berbeda

OJK Setop 953 Pinjol & Investasi Ilegal di Q1 2026, Modus Penipuan Makin Canggih

Trump Klaim Iran Sudah Kalah, Blokade Diperpanjang. Apa Dampaknya ke Indonesia?

Hilirisasi Rp116 Triliun Diresmikan, Indonesia Siap Kurangi Impor Bensin?

Properti China Ambruk 21%, Indonesia Bakal Ikut Terseret?

Rupiah & Emas Sama-Sama Ambruk Hari Ini, Apa Artinya Buat Kamu?

Saudi Babak Belur! Ekspor Minyak Anjlok 50% Akibat Perang Iran

Menkeu Ambil Alih Anggaran OJK! Ada Apa Sebenarnya?

Trump Timbang Serangan Baru ke Iran, CENTCOM Siapkan Tiga Opsi Militer

Bahlil Dorong Perluasan CNG, RI Mau Lepas dari Impor LPG 7 Juta Ton per Tahun

Indonesia Emas 2045? Prabowo Tebar 6 Janji di Hari Buruh, dari Ojol hingga Bunga Kredit 5%

Trump Tarik 5.000 Pasukan AS dari Jerman, Buntut Perselisihan dengan Kanselir Merz Soal Perang Iran

Hacker Korea Utara Raup $577 Juta Crypto dari 2 Serangan, Dominasi 76% Pencurian Global 2026

Jepang Gelontor $34,5 Miliar Selamatkan Yen, Intervensi Pertama Sejak Juli 2024

Belajar lebih dalam bersama komunitas Trade With Suli

Gabung Member