Kapal Tersanksi AS Tembus Blokade Hormuz: Uji Pertama Terhadap Trump

Sebuah kapal tanker terkait China yang masuk daftar sanksi Amerika Serikat sedang melintas di Selat Hormuz, hanya satu hari setelah blokade laut AS resmi diberlakukan. Melansir Bloomberg, kapal bernama Rich Starry, sebelumnya dikenal sebagai Full Star, dimasukkan ke daftar hitam Washington pada 2023 karena membantu Iran menghindari sanksi energi. Hingga laporan ini ditulis, belum ada konfirmasi dari pihak AS apakah kapal tersebut akan dicegat atau dibiarkan melintas.

Transit ini adalah uji pertama yang paling berani terhadap blokade Trump. Sebelumnya, setidaknya dua kapal lain berbalik arah setelah blokade diumumkan pada Senin (13/4), termasuk satu kapal tanker China lain bernama Ostria. Fakta bahwa Rich Starry justru bergerak maju memberikan sinyal bahwa tidak semua pihak siap mematuhi blokade AS, terutama kapal-kapal yang beroperasi di jalur perdagangan minyak Iran dan tidak punya banyak yang bisa hilang dari sisi reputasi sanksi.

Konteks geopolitiknya tidak bisa diabaikan. China sebelumnya telah memperingatkan AS untuk tidak mencegat kapal-kapalnya, dengan Menteri Pertahanan China Dong Jun menegaskan Beijing tidak akan mengizinkan interferensi terhadap perjanjian energi dan komersialnya. Jika AS membiarkan Rich Starry lewat tanpa tindakan, kredibilitas blokade akan dipertanyakan dan kapal-kapal lain berpotensi mengikuti langkah serupa. Jika AS mencegat, risiko konfrontasi langsung dengan China di perairan internasional menjadi nyata.

Bagi pasar minyak, ketidakpastian di sekitar efektivitas blokade ini berdampak langsung ke harga energi global. Brent saat ini berada di kisaran US$112 per barel dan setiap perkembangan di Hormuz dalam 24 jam ke depan berpotensi menggerakkan harga secara signifikan ke kedua arah. Kepala Badan Energi Internasional (IEA) menyebut gangguan ini sebagai guncangan energi terburuk yang pernah terjadi, melampaui krisis minyak 1970-an dan dampak perang Ukraina sekaligus.

Bagi investor crypto, ini adalah salah satu momen paling berisiko sejak konflik dimulai. Satu keputusan militer di Hormuz dalam beberapa jam ke depan berpotensi mengubah sentimen pasar global secara drastis, ke arah mana pun.

Pelajari Materi Lainnya

Lihat semua

APBN 2026 Resmi "Survival Mode": Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Trump Tolak Proposal Iran, Harapan Damai Sirna dan Selat Hormuz Tetap Lumpuh

Asing Kabur Rp2 Triliun dari Bank Indonesia: Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Drama Bersejarah Musk vs OpenAI: Gugatan $130 Miliar dan Token Meme Viral $SCAM Altman

Malaysia Bikin Sukuk Versi Crypto, Indonesia Kapan?

UAE Keluar OPEC, Rupiah Siap-Siap Hadapi Badai Baru

Trump Klaim AS Cuan $30 Miliar dari Saham Intel dalam 90 Hari, Tapi Angka Resmi Berbeda

OJK Setop 953 Pinjol & Investasi Ilegal di Q1 2026, Modus Penipuan Makin Canggih

Trump Klaim Iran Sudah Kalah, Blokade Diperpanjang. Apa Dampaknya ke Indonesia?

Hilirisasi Rp116 Triliun Diresmikan, Indonesia Siap Kurangi Impor Bensin?

Properti China Ambruk 21%, Indonesia Bakal Ikut Terseret?

Rupiah & Emas Sama-Sama Ambruk Hari Ini, Apa Artinya Buat Kamu?

Saudi Babak Belur! Ekspor Minyak Anjlok 50% Akibat Perang Iran

Menkeu Ambil Alih Anggaran OJK! Ada Apa Sebenarnya?

Trump Timbang Serangan Baru ke Iran, CENTCOM Siapkan Tiga Opsi Militer

Bahlil Dorong Perluasan CNG, RI Mau Lepas dari Impor LPG 7 Juta Ton per Tahun

Indonesia Emas 2045? Prabowo Tebar 6 Janji di Hari Buruh, dari Ojol hingga Bunga Kredit 5%

Trump Tarik 5.000 Pasukan AS dari Jerman, Buntut Perselisihan dengan Kanselir Merz Soal Perang Iran

Hacker Korea Utara Raup $577 Juta Crypto dari 2 Serangan, Dominasi 76% Pencurian Global 2026

Jepang Gelontor $34,5 Miliar Selamatkan Yen, Intervensi Pertama Sejak Juli 2024

Belajar lebih dalam bersama komunitas Trade With Suli

Gabung Member