Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Trump, Pemerintah Wajib Kembalikan US$166 Miliar ke Importir

Mahkamah Agung AS memutuskan dengan suara 6-3 pada 20 Februari 2026 bahwa tarif yang diberlakukan Presiden Trump menggunakan IEEPA (International Emergency Economic Powers Act) adalah inkonstitusional. Melansir CNBC dan NBC News, keputusan ini membatalkan sebagian besar tarif Trump, termasuk tarif "timbal balik" terhadap hampir semua negara dan tarif 25% terhadap Kanada, China, dan Meksiko. Pemerintah AS kini wajib mengembalikan sekitar US$166 miliar yang sudah dipungut dari lebih dari 330.000 importir.

US Customs and Border Protection sedang membangun portal bernama CAPE (Consolidated Administration and Processing of Entries) untuk memproses jutaan klaim pengembalian. Portal ini ditargetkan beroperasi akhir April 2026. Melansir Tax Foundation, angka US$166 miliar menjadikan pengembalian ini salah satu injeksi likuiditas non-dilutif terbesar dalam sejarah korporat AS. Perusahaan besar seperti Walmart, Costco, dan FedEx diperkirakan menerima pengembalian dana hingga miliaran dolar per perusahaan.

Dampak ekonomi dari keputusan ini bersifat ganda. Di satu sisi, pengembalian US$166 miliar berarti kas korporat AS akan meningkat signifikan dalam waktu singkat. Dana ini bisa digunakan untuk investasi, ekspansi, atau bahkan buyback saham, yang semuanya berpotensi mendorong pasar. Di sisi lain, pengembalian ini juga berarti lubang sebesar US$166 miliar di pendapatan pemerintah federal, memperburuk defisit fiskal yang sudah membengkak.

Namun ketidakpastian belum sepenuhnya hilang. Trump langsung merespons dengan mengeluarkan perintah eksekutif baru yang memberlakukan tarif 10% selama 150 hari menggunakan undang-undang berbeda, yaitu Section 122 Trade Act 1974. Tarif baja dan aluminium berdasarkan Section 232 juga masih berlaku. Artinya, meski tarif IEEPA dibatalkan, sebagian tekanan perdagangan masih ada.

Bagi pasar crypto, injeksi likuiditas US$166 miliar ke sektor korporat adalah variabel baru yang layak diperhitungkan. Bitcoin di kisaran US$66.500 masih menghadapi tekanan dari perang Iran-AS dan penguatan dolar, tapi aliran dana segar ke perusahaan-perusahaan besar AS bisa memperbaiki sentimen pasar secara keseluruhan. Jika sebagian likuiditas ini mengalir ke aset berisiko, dampaknya bisa terasa hingga ke pasar crypto.

Melansir CNBC, NBC News, Tax Foundation

Pelajari Materi Lainnya

Lihat semua

APBN 2026 Resmi "Survival Mode": Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Trump Tolak Proposal Iran, Harapan Damai Sirna dan Selat Hormuz Tetap Lumpuh

Asing Kabur Rp2 Triliun dari Bank Indonesia: Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Drama Bersejarah Musk vs OpenAI: Gugatan $130 Miliar dan Token Meme Viral $SCAM Altman

Malaysia Bikin Sukuk Versi Crypto, Indonesia Kapan?

UAE Keluar OPEC, Rupiah Siap-Siap Hadapi Badai Baru

Trump Klaim AS Cuan $30 Miliar dari Saham Intel dalam 90 Hari, Tapi Angka Resmi Berbeda

OJK Setop 953 Pinjol & Investasi Ilegal di Q1 2026, Modus Penipuan Makin Canggih

Trump Klaim Iran Sudah Kalah, Blokade Diperpanjang. Apa Dampaknya ke Indonesia?

Hilirisasi Rp116 Triliun Diresmikan, Indonesia Siap Kurangi Impor Bensin?

Properti China Ambruk 21%, Indonesia Bakal Ikut Terseret?

Rupiah & Emas Sama-Sama Ambruk Hari Ini, Apa Artinya Buat Kamu?

Saudi Babak Belur! Ekspor Minyak Anjlok 50% Akibat Perang Iran

Menkeu Ambil Alih Anggaran OJK! Ada Apa Sebenarnya?

Trump Timbang Serangan Baru ke Iran, CENTCOM Siapkan Tiga Opsi Militer

Bahlil Dorong Perluasan CNG, RI Mau Lepas dari Impor LPG 7 Juta Ton per Tahun

Indonesia Emas 2045? Prabowo Tebar 6 Janji di Hari Buruh, dari Ojol hingga Bunga Kredit 5%

Trump Tarik 5.000 Pasukan AS dari Jerman, Buntut Perselisihan dengan Kanselir Merz Soal Perang Iran

Hacker Korea Utara Raup $577 Juta Crypto dari 2 Serangan, Dominasi 76% Pencurian Global 2026

Jepang Gelontor $34,5 Miliar Selamatkan Yen, Intervensi Pertama Sejak Juli 2024

Belajar lebih dalam bersama komunitas Trade With Suli

Gabung Member