NATO di Ambang Kehancuran: Trump Siap Tinggalkan Aliansi 77 Tahun yang Menjaga Stabilitas Dunia

Presiden AS Donald Trump menyatakan pertimbangan untuk menarik AS dari NATO sudah "melampaui pertimbangan ulang," pernyataan paling keras dalam sejarah hubungan transatlantik. Dalam wawancara dengan The Telegraph yang diterbitkan Rabu (1 April 2026), Trump menyebut sekutu Eropa "pengecut" karena menolak mendukung perang AS dan Israel terhadap Iran, melansir AP.

Perpecahan ini dipicu oleh penolakan menyeluruh dari sekutu Eropa untuk membantu AS di Selat Hormuz. Spanyol menutup wilayah udaranya untuk pesawat militer AS. Jerman menyebut perang Iran sebagai "kesalahan berbahaya" yang melanggar hukum internasional. Prancis menyatakan ide membebaskan Selat Hormuz secara paksa "tidak realistis." Tidak ada satupun dari 32 anggota NATO yang mengirim kapal perang ke selat tersebut, melansir AP dan CNN.

Menteri Luar Negeri Marco Rubio mempertegas posisi Washington. Ia menyatakan kepada Al Jazeera bahwa jika aliansi "hanya soal melindungi Eropa" tanpa timbal balik, maka AS "harus meninjau ulang nilainya." Menteri Pertahanan Pete Hegseth menolak menjawab langsung saat ditanya apakah AS masih mendukung Pasal 5, klausul pertahanan kolektif NATO yang menjadi fondasi aliansi, melansir Axios.

Inti konflik ini bersifat fundamental. Trump memulai perang terhadap Iran pada 28 Februari 2026 tanpa konsultasi dengan sekutu NATO. Satu bulan kemudian, ia menuntut sekutu yang sama untuk menanggung konsekuensi konflik yang tidak mereka setujui. CNN menyebut posisi Trump sebagai pendekatan yang belum pernah digunakan AS terhadap sekutunya sejak aliansi ini didirikan pada 1949.

Dampak ekonominya sudah terasa dan akan semakin berat. Eropa yang kehilangan jaminan keamanan AS akan dipaksa meningkatkan belanja militer secara drastis, mengalihkan dana dari stimulus ekonomi di tengah krisis energi akibat penutupan Selat Hormuz. Harga minyak Brent di atas US$103 per barel sudah memukul ekonomi Eropa, dan perpecahan NATO akan memperburuk tekanan ini. Bagi investor global, runtuhnya aliansi yang menjaga stabilitas dunia selama 77 tahun berarti memasuki era ketidakpastian geopolitik yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pelajari Materi Lainnya

Lihat semua

APBN 2026 Resmi "Survival Mode": Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Trump Tolak Proposal Iran, Harapan Damai Sirna dan Selat Hormuz Tetap Lumpuh

Asing Kabur Rp2 Triliun dari Bank Indonesia: Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Drama Bersejarah Musk vs OpenAI: Gugatan $130 Miliar dan Token Meme Viral $SCAM Altman

Malaysia Bikin Sukuk Versi Crypto, Indonesia Kapan?

UAE Keluar OPEC, Rupiah Siap-Siap Hadapi Badai Baru

Trump Klaim AS Cuan $30 Miliar dari Saham Intel dalam 90 Hari, Tapi Angka Resmi Berbeda

OJK Setop 953 Pinjol & Investasi Ilegal di Q1 2026, Modus Penipuan Makin Canggih

Trump Klaim Iran Sudah Kalah, Blokade Diperpanjang. Apa Dampaknya ke Indonesia?

Hilirisasi Rp116 Triliun Diresmikan, Indonesia Siap Kurangi Impor Bensin?

Properti China Ambruk 21%, Indonesia Bakal Ikut Terseret?

Rupiah & Emas Sama-Sama Ambruk Hari Ini, Apa Artinya Buat Kamu?

Saudi Babak Belur! Ekspor Minyak Anjlok 50% Akibat Perang Iran

Menkeu Ambil Alih Anggaran OJK! Ada Apa Sebenarnya?

Trump Timbang Serangan Baru ke Iran, CENTCOM Siapkan Tiga Opsi Militer

Bahlil Dorong Perluasan CNG, RI Mau Lepas dari Impor LPG 7 Juta Ton per Tahun

Indonesia Emas 2045? Prabowo Tebar 6 Janji di Hari Buruh, dari Ojol hingga Bunga Kredit 5%

Trump Tarik 5.000 Pasukan AS dari Jerman, Buntut Perselisihan dengan Kanselir Merz Soal Perang Iran

Hacker Korea Utara Raup $577 Juta Crypto dari 2 Serangan, Dominasi 76% Pencurian Global 2026

Jepang Gelontor $34,5 Miliar Selamatkan Yen, Intervensi Pertama Sejak Juli 2024

Belajar lebih dalam bersama komunitas Trade With Suli

Gabung Member