Negosiator Pesimis, AS Siap Serang: Dunia Menunggu Malam Paling Kritis Perang Iran

Wall Street Journal melaporkan para negosiator yang terlibat langsung dalam pembicaraan damai AS-Iran menyatakan pesimis Teheran akan memenuhi tuntutan Presiden Trump untuk membuka kembali Selat Hormuz sebelum tenggat malam ini. Kondisi ini, menurut WSJ, sedang "membuka jalan" bagi Amerika Serikat untuk melancarkan serangan ke pembangkit listrik dan jembatan Iran dalam eskalasi terbesar sejak perang meletus 28 Februari lalu.

Waktu yang tersisa kurang dari 21 jam. Iran sejauh ini menolak dua proposal perdamaian sekaligus: kerangka gencatan senjata 45 hari yang dimediasi Pakistan dan proposal 15 poin AS. Sebagai gantinya, Teheran mengajukan 10 tuntutan sendiri yang mencakup jaminan penghentian perang permanen di seluruh kawasan, protokol pembukaan Selat Hormuz, komitmen rekonstruksi, serta pencabutan sanksi. Sumber yang mengetahui detail negosiasi menyebut kesenjangan posisi kedua pihak "masih sangat signifikan." Trump menyebut tawaran balik Iran "signifikan tapi belum cukup," dan Gedung Putih menegaskan tenggat waktu bersifat final dengan rencana serangan yang sudah siap dieksekusi.

Di luar meja perundingan, situasi di lapangan terus memburuk. Iran menyerang fasilitas energi dan desalinasi air di Kuwait dan Bahrain akhir pekan lalu, sementara penasihat pemimpin tertinggi Iran baru memperingatkan kemungkinan penutupan Selat Bab al-Mandab di Laut Merah sebagai langkah eskalasi berikutnya. Badan energi atom internasional IAEA menambah tekanan dengan memperingatkan bahwa aktivitas militer di sekitar pembangkit nuklir Bushehr berpotensi memicu kecelakaan radiologis parah yang dampaknya bisa melampaui batas wilayah Iran.

Harga minyak mencerminkan ketegangan ini. Brent diperdagangkan di kisaran 109,87 dolar AS per barel dan WTI di 112,54 dolar AS per barel hari ini, atau naik hampir 57 persen sejak perang meletus. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur pengiriman sekitar 20 persen minyak dunia, masih 95 persen di bawah level sebelum konflik. Analis memperingatkan bahwa serangan ke infrastruktur Iran malam ini berpotensi mendorong harga energi ke level yang belum pernah terjadi dalam beberapa dekade, dengan dampak langsung ke biaya BBM, inflasi, dan tekanan terhadap mata uang negara-negara importir energi termasuk Indonesia.

Dalam hitungan jam, pasar global akan mengetahui apakah ini menjadi malam eskalasi terbesar dalam krisis energi yang sudah mengguncang dunia selama lebih dari sebulan, atau perpanjangan deadline kelima yang kembali menunda konfrontasi langsung antara dua kekuatan militer terbesar di kawasan.

Sumber: Wall Street Journal, CBS News, CNN, IAEA

Pelajari Materi Lainnya

Lihat semua

APBN 2026 Resmi "Survival Mode": Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Trump Tolak Proposal Iran, Harapan Damai Sirna dan Selat Hormuz Tetap Lumpuh

Asing Kabur Rp2 Triliun dari Bank Indonesia: Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Drama Bersejarah Musk vs OpenAI: Gugatan $130 Miliar dan Token Meme Viral $SCAM Altman

Malaysia Bikin Sukuk Versi Crypto, Indonesia Kapan?

UAE Keluar OPEC, Rupiah Siap-Siap Hadapi Badai Baru

Trump Klaim AS Cuan $30 Miliar dari Saham Intel dalam 90 Hari, Tapi Angka Resmi Berbeda

OJK Setop 953 Pinjol & Investasi Ilegal di Q1 2026, Modus Penipuan Makin Canggih

Trump Klaim Iran Sudah Kalah, Blokade Diperpanjang. Apa Dampaknya ke Indonesia?

Hilirisasi Rp116 Triliun Diresmikan, Indonesia Siap Kurangi Impor Bensin?

Properti China Ambruk 21%, Indonesia Bakal Ikut Terseret?

Rupiah & Emas Sama-Sama Ambruk Hari Ini, Apa Artinya Buat Kamu?

Saudi Babak Belur! Ekspor Minyak Anjlok 50% Akibat Perang Iran

Menkeu Ambil Alih Anggaran OJK! Ada Apa Sebenarnya?

Trump Timbang Serangan Baru ke Iran, CENTCOM Siapkan Tiga Opsi Militer

Bahlil Dorong Perluasan CNG, RI Mau Lepas dari Impor LPG 7 Juta Ton per Tahun

Indonesia Emas 2045? Prabowo Tebar 6 Janji di Hari Buruh, dari Ojol hingga Bunga Kredit 5%

Trump Tarik 5.000 Pasukan AS dari Jerman, Buntut Perselisihan dengan Kanselir Merz Soal Perang Iran

Hacker Korea Utara Raup $577 Juta Crypto dari 2 Serangan, Dominasi 76% Pencurian Global 2026

Jepang Gelontor $34,5 Miliar Selamatkan Yen, Intervensi Pertama Sejak Juli 2024

Belajar lebih dalam bersama komunitas Trade With Suli

Gabung Member