Pentagon Siapkan Rencana Operasi Darat di Iran, Target Utama Pulau Kharg dan Selat Hormuz

Pentagon tengah menyiapkan rencana operasi darat di Iran yang bisa berlangsung beberapa minggu hingga dua bulan, demikian laporan Washington Post mengutip pejabat AS yang berbicara dengan syarat anonimitas. Rencana ini mencakup serangan oleh pasukan operasi khusus dan infanteri konvensional, bukan invasi berskala penuh. Para pejabat menyebut fase ini akan "jauh lebih berbahaya" bagi pasukan AS dibanding empat minggu pertama konflik.

Dua target utama yang sedang dipertimbangkan: Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran yang menangani sekitar 90 persen pengiriman minyak mentah negara itu, dan kawasan pesisir di sekitar Selat Hormuz untuk menghancurkan persenjataan yang mengancam jalur pelayaran. Axios melaporkan secara terpisah bahwa Pentagon juga menyiapkan opsi operasi darat ke interior Iran untuk mengamankan uranium pengayaan tinggi di fasilitas nuklir. Namun opsi ini dianggap paling rumit dan berisiko tinggi.

Hingga kini, Trump belum menyetujui rencana tersebut. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan bahwa tugas Pentagon adalah menyiapkan opsi bagi presiden, bukan berarti keputusan sudah diambil. Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan bahwa AS bisa mencapai tujuannya tanpa mengirim pasukan darat. Namun di lapangan, lebih dari 7.000 tentara tambahan sudah digerakkan ke kawasan sejak konflik dimulai 28 Februari, termasuk dua unit Marinir dan kontingen dari Divisi Lintas Udara ke-82. Wall Street Journal melaporkan Pentagon juga mempertimbangkan tambahan 10.000 pasukan. Korban di pihak AS sudah mencapai 13 tewas dan lebih dari 300 luka-luka.

Bagi kamu sebagai investor, eskalasi ke operasi darat akan menjadi variabel baru yang signifikan. Harga minyak Brent sudah bertahan di atas US$100 per barel sejak Selat Hormuz praktis tertutup untuk lalu lintas kapal komersial. Pertempuran di Pulau Kharg, yang menangani 90 persen ekspor minyak Iran, bisa memperparah gangguan pasokan global secara langsung. Semakin lama konflik berlangsung, semakin besar tekanan inflasi di seluruh dunia, dan semakin sempit ruang bank sentral untuk memangkas suku bunga.

Melansir Washington Post, Reuters, Axios, dan Wall Street Journal.

Pelajari Materi Lainnya

Lihat semua

APBN 2026 Resmi "Survival Mode": Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Trump Tolak Proposal Iran, Harapan Damai Sirna dan Selat Hormuz Tetap Lumpuh

Asing Kabur Rp2 Triliun dari Bank Indonesia: Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Drama Bersejarah Musk vs OpenAI: Gugatan $130 Miliar dan Token Meme Viral $SCAM Altman

Malaysia Bikin Sukuk Versi Crypto, Indonesia Kapan?

UAE Keluar OPEC, Rupiah Siap-Siap Hadapi Badai Baru

Trump Klaim AS Cuan $30 Miliar dari Saham Intel dalam 90 Hari, Tapi Angka Resmi Berbeda

OJK Setop 953 Pinjol & Investasi Ilegal di Q1 2026, Modus Penipuan Makin Canggih

Trump Klaim Iran Sudah Kalah, Blokade Diperpanjang. Apa Dampaknya ke Indonesia?

Hilirisasi Rp116 Triliun Diresmikan, Indonesia Siap Kurangi Impor Bensin?

Properti China Ambruk 21%, Indonesia Bakal Ikut Terseret?

Rupiah & Emas Sama-Sama Ambruk Hari Ini, Apa Artinya Buat Kamu?

Saudi Babak Belur! Ekspor Minyak Anjlok 50% Akibat Perang Iran

Menkeu Ambil Alih Anggaran OJK! Ada Apa Sebenarnya?

Trump Timbang Serangan Baru ke Iran, CENTCOM Siapkan Tiga Opsi Militer

Bahlil Dorong Perluasan CNG, RI Mau Lepas dari Impor LPG 7 Juta Ton per Tahun

Indonesia Emas 2045? Prabowo Tebar 6 Janji di Hari Buruh, dari Ojol hingga Bunga Kredit 5%

Trump Tarik 5.000 Pasukan AS dari Jerman, Buntut Perselisihan dengan Kanselir Merz Soal Perang Iran

Hacker Korea Utara Raup $577 Juta Crypto dari 2 Serangan, Dominasi 76% Pencurian Global 2026

Jepang Gelontor $34,5 Miliar Selamatkan Yen, Intervensi Pertama Sejak Juli 2024

Belajar lebih dalam bersama komunitas Trade With Suli

Gabung Member