Trump: China Tidak Akan Kirim Senjata ke Iran

Presiden AS Donald Trump mengungkap bahwa Presiden China Xi Jinping secara pribadi berkomitmen tidak akan memasok senjata ke Iran, melalui surat balasan atas permintaan langsung Trump. Melansir Fox Business, Trump menyebut ia mengirim surat ke Xi setelah mendengar laporan bahwa Beijing tengah menyuplai persenjataan ke Teheran, dan Xi membalas dengan menyatakan hal tersebut tidak dilakukan. "Saya menulis surat kepadanya memintanya untuk tidak melakukan itu, dan dia membalas surat saya yang pada intinya menyatakan dia tidak melakukan hal itu," ujar Trump dalam wawancara dengan Fox Business.

Dalam unggahan di Truth Social, Trump menegaskan bahwa China "sangat senang" dengan upayanya membuka kembali Selat Hormuz, dan menyebut Beijing telah resmi setuju untuk tidak mengirim senjata ke Iran. Pernyataan ini signifikan karena China selama ini merupakan mitra strategis utama Iran, dengan program rudal balistik Teheran yang sangat bergantung pada bahan kimia asal China. Melansir Washington Examiner, Trump bahkan memprediksi Xi akan menyambutnya dengan "pelukan besar" saat keduanya bertemu beberapa minggu ke depan.

Namun ada konteks krusial yang perlu dicermati. Sehari sebelum pernyataan Trump keluar, laporan menyebut China justru berencana mengirimkan sistem pertahanan udara baru ke Iran dalam beberapa minggu ke depan. Pernyataan Trump juga belum mendapat konfirmasi resmi dari pihak Beijing, yang sehari sebelumnya menyebut blokade Selat Hormuz oleh AS sebagai tindakan "berbahaya dan tidak bertanggung jawab." Ini berarti pasar masih harus memperlakukan pernyataan ini sebagai sinyal diplomatik satu pihak, bukan kesepakatan yang terkonfirmasi.

Bagi pasar energi dan aset berisiko, perkembangan ini berpotensi menjadi katalis jangka pendek yang cukup kuat. Jika China benar-benar menarik dukungan senjata ke Iran, tekanan terhadap Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz akan meningkat tajam, yang bisa menekan harga minyak Brent dari kisaran US$112 per barel saat ini. Penurunan tekanan geopolitik di Hormuz secara historis berkorelasi dengan penurunan risk premium di pasar minyak dan pemulihan sentimen terhadap aset berisiko termasuk Bitcoin. Pasar akan mengawasi apakah ada konfirmasi resmi dari Beijing dalam 24 hingga 48 jam ke depan.

Pelajari Materi Lainnya

Lihat semua

APBN 2026 Resmi "Survival Mode": Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Trump Tolak Proposal Iran, Harapan Damai Sirna dan Selat Hormuz Tetap Lumpuh

Asing Kabur Rp2 Triliun dari Bank Indonesia: Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Drama Bersejarah Musk vs OpenAI: Gugatan $130 Miliar dan Token Meme Viral $SCAM Altman

Malaysia Bikin Sukuk Versi Crypto, Indonesia Kapan?

UAE Keluar OPEC, Rupiah Siap-Siap Hadapi Badai Baru

Trump Klaim AS Cuan $30 Miliar dari Saham Intel dalam 90 Hari, Tapi Angka Resmi Berbeda

OJK Setop 953 Pinjol & Investasi Ilegal di Q1 2026, Modus Penipuan Makin Canggih

Trump Klaim Iran Sudah Kalah, Blokade Diperpanjang. Apa Dampaknya ke Indonesia?

Hilirisasi Rp116 Triliun Diresmikan, Indonesia Siap Kurangi Impor Bensin?

Properti China Ambruk 21%, Indonesia Bakal Ikut Terseret?

Rupiah & Emas Sama-Sama Ambruk Hari Ini, Apa Artinya Buat Kamu?

Saudi Babak Belur! Ekspor Minyak Anjlok 50% Akibat Perang Iran

Menkeu Ambil Alih Anggaran OJK! Ada Apa Sebenarnya?

Trump Timbang Serangan Baru ke Iran, CENTCOM Siapkan Tiga Opsi Militer

Bahlil Dorong Perluasan CNG, RI Mau Lepas dari Impor LPG 7 Juta Ton per Tahun

Indonesia Emas 2045? Prabowo Tebar 6 Janji di Hari Buruh, dari Ojol hingga Bunga Kredit 5%

Trump Tarik 5.000 Pasukan AS dari Jerman, Buntut Perselisihan dengan Kanselir Merz Soal Perang Iran

Hacker Korea Utara Raup $577 Juta Crypto dari 2 Serangan, Dominasi 76% Pencurian Global 2026

Jepang Gelontor $34,5 Miliar Selamatkan Yen, Intervensi Pertama Sejak Juli 2024

Belajar lebih dalam bersama komunitas Trade With Suli

Gabung Member