Trump: Hormuz Akan Dibuka, Dengan atau Tanpa Iran

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan Selat Hormuz akan dibuka kembali, dengan atau tanpa persetujuan Iran. Pernyataan keras ini disampaikan Jumat, 11 April 2026, tepat di saat delegasi AS dan Iran duduk berunding di Islamabad, Pakistan, dalam upaya mencapai kesepakatan damai permanen. Harga minyak mentah Brent bertahan di kisaran USD112 per barel, naik lebih dari 55% sejak perang pecah pada 28 Februari 2026.

Gencatan senjata dua pekan yang disepakati 7 April mulai menunjukkan retakan serius. Iran menutup kembali selat pada Rabu setelah Israel melancarkan serangan besar ke Beirut, dengan alasan serangan itu melanggar syarat gencatan senjata. Trump merespons via Truth Social dengan menyebut Iran "melakukan pekerjaan yang sangat buruk, bahkan tidak terhormat" dalam memenuhi kesepakatan, melansir NPR. Ia juga memperingatkan Tehran agar berhenti memungut biaya dari kapal tanker yang melintas di selat, dengan nada yang semakin keras dari hari ke hari.

Yang memperumit situasi adalah masalah teknis yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan kesepakatan politik. Melansir New York Times mengutip pejabat AS, Iran tidak dapat menemukan semua ranjau laut yang ditanamnya sendiri di selat karena pemasangan yang dilakukan secara sembarangan menggunakan ratusan kapal kecil. Sebagian ranjau tidak dicatat posisinya, dan sebagian lagi telah hanyut dari lokasi awal akibat arus laut. Baik Iran maupun AS tidak memiliki kapasitas pembersihan ranjau yang memadai untuk menyelesaikan masalah ini dalam waktu singkat.

Dampaknya terhadap pasar energi dan rantai pasok global sangat nyata. Data Lloyd's List menunjukkan trafik kapal di selat saat ini hanya 7 hingga 18 kapal per hari, anjlok dari baseline pra-perang sebesar 140 kapal per hari. Lebih dari 1.000 kapal antre di luar selat, termasuk 187 tanker yang membawa sekitar 172 juta barel minyak mentah tertahan. Selat Hormuz adalah jalur lalu lintas sekitar 20% pasokan minyak dunia setiap harinya, menjadikannya salah satu titik paling kritis dalam sistem energi global.

Bagi pasar keuangan dan investor crypto Indonesia, krisis Hormuz yang berkepanjangan memiliki implikasi langsung. Harga energi yang tetap tinggi menjaga tekanan inflasi global, yang pada gilirannya mempersempit ruang The Fed untuk memangkas suku bunga. Suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama berarti likuiditas global tetap ketat, dan aset berisiko termasuk Bitcoin akan lebih sulit naik secara signifikan. Bitcoin saat ini diperdagangkan di kisaran USD66.500 hingga USD67.800, dan setiap eskalasi baru di selat berpotensi memperpanjang fase tekanan ini.

Pelajari Materi Lainnya

Lihat semua

APBN 2026 Resmi "Survival Mode": Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Trump Tolak Proposal Iran, Harapan Damai Sirna dan Selat Hormuz Tetap Lumpuh

Asing Kabur Rp2 Triliun dari Bank Indonesia: Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Drama Bersejarah Musk vs OpenAI: Gugatan $130 Miliar dan Token Meme Viral $SCAM Altman

Malaysia Bikin Sukuk Versi Crypto, Indonesia Kapan?

UAE Keluar OPEC, Rupiah Siap-Siap Hadapi Badai Baru

Trump Klaim AS Cuan $30 Miliar dari Saham Intel dalam 90 Hari, Tapi Angka Resmi Berbeda

OJK Setop 953 Pinjol & Investasi Ilegal di Q1 2026, Modus Penipuan Makin Canggih

Trump Klaim Iran Sudah Kalah, Blokade Diperpanjang. Apa Dampaknya ke Indonesia?

Hilirisasi Rp116 Triliun Diresmikan, Indonesia Siap Kurangi Impor Bensin?

Properti China Ambruk 21%, Indonesia Bakal Ikut Terseret?

Rupiah & Emas Sama-Sama Ambruk Hari Ini, Apa Artinya Buat Kamu?

Saudi Babak Belur! Ekspor Minyak Anjlok 50% Akibat Perang Iran

Menkeu Ambil Alih Anggaran OJK! Ada Apa Sebenarnya?

Trump Timbang Serangan Baru ke Iran, CENTCOM Siapkan Tiga Opsi Militer

Bahlil Dorong Perluasan CNG, RI Mau Lepas dari Impor LPG 7 Juta Ton per Tahun

Indonesia Emas 2045? Prabowo Tebar 6 Janji di Hari Buruh, dari Ojol hingga Bunga Kredit 5%

Trump Tarik 5.000 Pasukan AS dari Jerman, Buntut Perselisihan dengan Kanselir Merz Soal Perang Iran

Hacker Korea Utara Raup $577 Juta Crypto dari 2 Serangan, Dominasi 76% Pencurian Global 2026

Jepang Gelontor $34,5 Miliar Selamatkan Yen, Intervensi Pertama Sejak Juli 2024

Belajar lebih dalam bersama komunitas Trade With Suli

Gabung Member