UEA Siap Gabung Koalisi Militer untuk Buka Paksa Selat Hormuz, Dorong Resolusi PBB

UEA secara resmi menyatakan kesiapan bergabung dengan AS dan sekutu lainnya untuk membuka Selat Hormuz secara paksa. Melansir Wall Street Journal, dikutip Reuters yang belum memverifikasi laporan tersebut secara independen, diplomat UEA aktif melobi negara-negara di Amerika, Eropa, dan Asia untuk membentuk koalisi yang disebut "Hormuz Security Force." Langkah ini diambil di saat lalu lintas kapal di selat tersebut sudah anjlok sekitar 90% sejak perang Iran-AS dimulai, memutus 20% pasokan minyak dan gas alam cair global.

Pejabat senior UEA Sultan al-Jaber menyampaikan langsung kepada Wakil Presiden AS JD Vance bahwa Iran sedang menyandera Hormuz, dan setiap negara membayar dampaknya di pom bensin, toko bahan makanan, dan apotek. UEA juga bekerja sama dengan Bahrain untuk mendorong resolusi Dewan Keamanan PBB yang akan mengotorisasi penggunaan segala cara yang diperlukan untuk melindungi pelayaran komersial di selat tersebut. Namun Rusia dan China berpotensi memveto resolusi ini, mengingat kedua negara memiliki hubungan strategis dengan Iran.

Konteks di balik agresivitas UEA cukup jelas. Negara ini menjadi target serangan Iran terbanyak di kawasan, melebihi Israel, dengan lebih dari 2.300 serangan rudal dan drone sejak konflik dimulai. Bagi UEA, membuka kembali Hormuz bukan sekadar soal alur perdagangan global, tapi soal kelangsungan ekonomi dan keamanan nasional mereka sendiri.

Bagi pasar keuangan, perkembangan ini menciptakan dua skenario yang saling bertolak belakang. Jika koalisi berhasil membuka selat tanpa eskalasi besar, harga minyak Brent yang masih di atas US$110 per barel bisa turun tajam, meringankan tekanan inflasi global dan menjadi katalis positif untuk aset berisiko termasuk Bitcoin. Sebaliknya, jika operasi militer memicu respons keras dari Iran, ketidakpastian justru bertambah dan tekanan terhadap pasar semakin dalam.

Langkah UEA menandai pergeseran penting dalam dinamika konflik. Ketika Trump memberi sinyal ingin mengakhiri perang, justru sekutu regional yang mendorong eskalasi militer baru. Siapa yang akhirnya menentukan arah konflik ini, Washington atau Abu Dhabi, akan menjadi faktor kunci bagi pasar dalam beberapa minggu ke depan.

Melansir Wall Street Journal (dikutip Reuters), Financial Times

Pelajari Materi Lainnya

Lihat semua

APBN 2026 Resmi "Survival Mode": Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Trump Tolak Proposal Iran, Harapan Damai Sirna dan Selat Hormuz Tetap Lumpuh

Asing Kabur Rp2 Triliun dari Bank Indonesia: Apa Artinya Buat Dompet Kamu?

Drama Bersejarah Musk vs OpenAI: Gugatan $130 Miliar dan Token Meme Viral $SCAM Altman

Malaysia Bikin Sukuk Versi Crypto, Indonesia Kapan?

UAE Keluar OPEC, Rupiah Siap-Siap Hadapi Badai Baru

Trump Klaim AS Cuan $30 Miliar dari Saham Intel dalam 90 Hari, Tapi Angka Resmi Berbeda

OJK Setop 953 Pinjol & Investasi Ilegal di Q1 2026, Modus Penipuan Makin Canggih

Trump Klaim Iran Sudah Kalah, Blokade Diperpanjang. Apa Dampaknya ke Indonesia?

Hilirisasi Rp116 Triliun Diresmikan, Indonesia Siap Kurangi Impor Bensin?

Properti China Ambruk 21%, Indonesia Bakal Ikut Terseret?

Rupiah & Emas Sama-Sama Ambruk Hari Ini, Apa Artinya Buat Kamu?

Saudi Babak Belur! Ekspor Minyak Anjlok 50% Akibat Perang Iran

Menkeu Ambil Alih Anggaran OJK! Ada Apa Sebenarnya?

Trump Timbang Serangan Baru ke Iran, CENTCOM Siapkan Tiga Opsi Militer

Bahlil Dorong Perluasan CNG, RI Mau Lepas dari Impor LPG 7 Juta Ton per Tahun

Indonesia Emas 2045? Prabowo Tebar 6 Janji di Hari Buruh, dari Ojol hingga Bunga Kredit 5%

Trump Tarik 5.000 Pasukan AS dari Jerman, Buntut Perselisihan dengan Kanselir Merz Soal Perang Iran

Hacker Korea Utara Raup $577 Juta Crypto dari 2 Serangan, Dominasi 76% Pencurian Global 2026

Jepang Gelontor $34,5 Miliar Selamatkan Yen, Intervensi Pertama Sejak Juli 2024

Belajar lebih dalam bersama komunitas Trade With Suli

Gabung Member