Iran Tolak Menyerah: Fase Berikutnya Akan Lebih Menghancurkan, Deadline Trump Tinggal 48 Jam

Dunia sedang menyaksikan 48 jam paling menentukan sejak perang Iran dimulai pada 28 Februari 2026. Dua jalur yang saling bertentangan berjalan bersamaan: negosiasi gencatan senjata 45 hari di satu sisi, dan ancaman eskalasi total di sisi lain. Tidak ada jalan tengah. AS dan Iran, melalui sekelompok mediator regional, sedang membahas kerangka gencatan senjata dua fase. Fase pertama berupa jeda pertempuran 45 hari dengan langkah-langkah parsial dari kedua pihak soal Selat Hormuz dan uranium yang diperkaya. Fase kedua berupa negosiasi penghentian perang permanen. Namun empat sumber AS, Israel, dan regional yang mengetahui pembicaraan menyebut peluang kesepakatan dalam 48 jam “tipis.” Upaya ini disebut sebagai “usaha terakhir” untuk mencegah eskalasi dramatis, melansir Axios. Di saat yang sama, IRGC justru memperingatkan bahwa fase berikutnya operasi militer Iran akan “jauh lebih menghancurkan dan meluas.” Juru bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaqari, menyatakan Iran akan melancarkan serangan yang “lebih menghancurkan, lebih luas, dan lebih destruktif” dengan kerugian musuh yang akan “berlipat ganda.” IRGC sudah membuktikan ancaman ini bukan retorika kosong dengan menyerang fasilitas petrokimia di Kuwait, Bahrain, dan UEA pada hari Minggu, melansir pernyataan resmi IRGC yang disiarkan IRIB dan dikutip Tribune India. Posisi Iran sangat jelas dan tidak bergeser. Selat Hormuz dan stok uranium adalah kartu tawar utama yang tidak akan diserahkan hanya untuk gencatan senjata sementara 45 hari. Iran menuntut jaminan bahwa perang benar-benar berakhir secara permanen di seluruh kawasan, termasuk Lebanon, Irak, dan Yaman. Pejabat Iran secara eksplisit menyampaikan kepada mediator bahwa mereka tidak mau terjebak dalam skenario seperti Gaza atau Lebanon, di mana gencatan senjata hanya di atas kertas sementara AS dan Israel mempertahankan kemampuan untuk menyerang kembali kapan saja, melansir Axios. Ketidakpercayaan ini bukan tanpa dasar: dua kali Iran duduk di meja negosiasi dengan AS, Juni 2025 dan Februari 2026, dua kali berakhir dengan serangan militer. Di kubu AS, Trump menetapkan deadline baru: Selasa pukul 8 PM ET. Jika Iran tidak membuka Selat Hormuz atau mencapai kesepakatan sebelum waktu itu, Trump mengancam akan menghancurkan seluruh pembangkit listrik Iran. Konferensi pers Trump dengan pejabat militer dijadwalkan besok Senin pukul 1 PM ET, yang bisa menjadi momen pengumuman penting. Pasar sudah merespons: Brent melonjak ke di atas US$111 per barel, emas anjlok lebih dari 12% sejak perang dimulai, dan Bloomberg menyebut investor global dalam “posisi defensif penuh” tanpa tanda-tanda jalan keluar. Dalam hitungan jam, dunia akan tahu apakah ini menuju gencatan senjata atau eskalasi yang mengubah segalanya.
13 Warga Sipil Tewas Saat Gedung Apartemen Tehran Dihantam, Deadline Eskalasi Total Tinggal Hitungan Jam

Dini hari Senin (6 April 2026), dua gedung apartemen di Kabupaten Baharestan, area padat penduduk di barat daya Tehran, rata dengan tanah setelah dihantam serangan udara AS-Israel. Sedikitnya 13 orang tewas. Tim penyelamat dari Palang Merah Iran masih menggali reruntuhan untuk mencari korban yang terjebak, melansir AP dan CNN yang mengutip gubernur Baharestan melalui kantor berita Fars. Dalam serangan terpisah di hari yang sama, area pemukiman di Qom, kota suci Syiah selatan Tehran, juga dihantam, menewaskan sedikitnya 5 orang. Tidak jelas apa target dari kedua serangan ini. Baik Israel maupun AS tidak mengklaim tanggung jawab. Serangan terhadap pemukiman sipil ini bukan kejadian baru dalam perang yang sudah memasuki hari ke-37. Angka-angka yang dirilis oleh otoritas Iran dan organisasi kemanusiaan menggambarkan skala kerusakan yang masif. Sedikitnya 2.076 orang telah tewas di Iran sejak perang dimulai pada 28 Februari, menurut Kementerian Kesehatan Iran. Palang Merah Iran melaporkan lebih dari 115.000 struktur sipil rusak atau hancur di seluruh negeri: 91.498 rumah, 22.580 fasilitas komersial, 736 sekolah dan pusat pendidikan, serta lebih dari 300 fasilitas kesehatan dan medis. Di Tehran saja, kotamadya mencatat 33.000 bangunan tempat tinggal mengalami kerusakan, melansir NPR, Bloomberg, dan Global Security. Yang membuat tragedi ini semakin mengkhawatirkan adalah konteksnya. Serangan terhadap pemukiman sipil terjadi hanya jam-jam sebelum deadline Trump yang paling berbahaya: Selasa 8 PM ET. Trump secara eksplisit mengancam akan menghancurkan “setiap pembangkit listrik dan setiap jembatan” di Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka. “Jika mereka tidak buat kesepakatan, saya akan meledakkan semuanya di sana,” kata Trump kepada Axios. Misi Iran di PBB menyebut ancaman ini sebagai “bukti jelas niat melakukan kejahatan perang” dan upaya untuk “meneror” populasi sipil, melansir CNN. Jika deadline berlalu tanpa kesepakatan dan Trump menghancurkan infrastruktur listrik Iran, dampak terhadap warga sipil yang sudah kehilangan rumah, sekolah, dan rumah sakit akan berlipat ganda. Tanpa listrik berarti tanpa air bersih dari pompa dan fasilitas desalinasi, tanpa pendingin di tengah cuaca panas Timur Tengah, tanpa peralatan medis di rumah sakit yang masih berdiri, dan tanpa komunikasi. Untuk negara berpenduduk 90 juta orang, ini bukan sekadar eskalasi militer, ini adalah potensi bencana kemanusiaan dalam skala yang belum pernah terjadi dalam konflik modern.
Imbal Hasil Obligasi Jepang 30 Tahun Sentuh 3,745 Persen, Hormuz Jadi Pemicu Utama

Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor 30 tahun melonjak 7 basis poin ke level 3,745 persen, sementara tenor 10 tahun naik 4 basis poin ke 2,420 persen. Angka ini menjadi yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, didorong kombinasi ekspektasi pengetatan moneter dan lonjakan biaya energi akibat penutupan Selat Hormuz. Jepang adalah salah satu importir energi terbesar di dunia, dan hampir seluruh kebutuhan minyak serta gasnya melewati Selat Hormuz. Ketika jalur itu tertutup dan harga minyak Brent menembus US$111 per barel, biaya impor energi Jepang melonjak tajam. Tekanan fiskal ini memaksa pasar mempertimbangkan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat dari Bank of Japan, yang langsung menekan harga obligasi dan mendorong imbal hasilnya naik. Dampaknya tidak berhenti di Tokyo. Jepang adalah salah satu pemegang obligasi pemerintah Amerika Serikat terbesar di dunia. Ketika imbal hasil obligasi domestik naik, investor Jepang cenderung menarik dana dari aset luar negeri dan memindahkannya ke dalam negeri. Pola ini berpotensi memicu tekanan tambahan di pasar obligasi global, termasuk obligasi AS, yang bisa memperlebar gelombang aksi jual. Untuk pasar kripto, kenaikan imbal hasil obligasi global berarti biaya modal naik dan likuiditas menyusut. Selama krisis Hormuz belum mereda dan harga energi tetap tinggi, ini menjadi salah satu tekanan struktural yang membatasi ruang kenaikan Bitcoin maupun aset berisiko lainnya. Jika Jepang benar-benar mulai menarik dana dalam skala besar dari obligasi AS, tekanan terhadap Dolar AS bisa melebar ke pasar negara berkembang, termasuk Rupiah. Perkembangan imbal hasil obligasi Jepang dalam beberapa pekan ke depan layak masuk radar kamu sebagai investor.
Lazarus Group Rampok Drift Protocol US$285 Juta dalam 12 Menit, Ini Cara Mereka Melakukannya

Drift Protocol, platform perdagangan aset kripto terbesar di jaringan Solana, kehilangan US$285 juta pada 1 April 2026. Seluruhnya lenyap dalam 12 menit, tanpa satu baris kode pun yang rusak. Yang membuat serangan ini berbeda dari peretasan biasa adalah caranya dimulai jauh sebelum hari eksekusi. Pelaku, yang kemudian diidentifikasi sebagai Lazarus Group berdasarkan laporan keamanan blockchain, menghabiskan enam bulan menyamar sebagai firma trading yang sah. Mereka hadir di konferensi industri dan menyetor lebih dari US$1 juta ke ekosistem Solana demi membangun kredibilitas. Setelah mendapat kepercayaan dan akses ke sistem tata kelola Drift, barulah operasi sesungguhnya dimulai. Mekanisme serangannya terstruktur dalam dua tahap. Pertama, pelaku menciptakan token palsu dan memanipulasi harganya agar sistem Drift menerimanya sebagai jaminan yang sah. Kedua, dari jaminan palsu itu, mereka meminjam aset nyata senilai US$285 juta melalui 31 transaksi terpisah. Dana kemudian dipindahkan ke jaringan Ethereum dan dikonversi menjadi sekitar 129.000 ETH sebelum jejak transaksi semakin sulit dilacak. Lazarus Group bukan nama baru di ekosistem kripto. Kelompok peretas yang dikaitkan dengan Korea Utara ini disebut telah mencuri lebih dari US$6 miliar dari berbagai platform kripto global, melansir laporan keamanan blockchain. Serangan terhadap Drift Protocol menjadi yang terbesar dalam rangkaian operasi mereka sepanjang 2026. Kasus ini menunjukkan bahwa ancaman terbesar terhadap platform keuangan terdesentralisasi (DeFi) bukan selalu berasal dari celah kode, melainkan dari rekayasa sosial yang dijalankan secara sistematis dan sabar.
Uang Beredar AS Cetak Rekor $22,7 Triliun, Sinyal Positif untuk Bitcoin?

Jumlah uang beredar di Amerika Serikat resmi mencetak rekor baru. Data M2 Money Supply yang dirilis The Federal Reserve menunjukkan total likuiditas di sistem keuangan AS telah mencapai $22,7 triliun, naik sekitar 4,9% dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka ini melampaui rekor sebelumnya di $21,9 triliun yang tercatat pada Maret 2022, saat pemerintah AS menggelontorkan stimulus besar-besaran untuk menopang ekonomi selama pandemi. M2 adalah indikator yang mengukur seluruh uang tunai, tabungan, deposito, dan dana pasar uang yang beredar dalam perekonomian. Kenaikan kali ini menarik karena tidak didorong oleh stimulus langsung. Pertumbuhan justru berasal dari lonjakan dana pasar uang ritel yang kini mencapai lebih dari $2,2 triliun, serta peningkatan deposito di sistem perbankan. Artinya, ada cadangan likuiditas besar yang saat ini masih tersimpan di instrumen konservatif, menunggu momen yang tepat untuk berpindah ke aset dengan imbal hasil lebih tinggi. Bagi pelaku pasar crypto, data ini punya implikasi besar. Secara historis, kenaikan M2 AS berkorelasi kuat dengan pergerakan harga Bitcoin dalam jeda waktu 60 hingga 90 hari. Sebuah studi kointegras dari Preprints.org – The Multidisciplinary Preprint Platform yang menganalisis data 2015 hingga 2025 menemukan bahwa setiap kenaikan 1% pada M2 berkorelasi dengan kenaikan harga Bitcoin sekitar 2,65% dalam jangka panjang. Pola serupa terlihat pada September 2024, ketika kenaikan M2 sekitar 2% diikuti oleh lonjakan harga Bitcoin hampir 70% dalam beberapa bulan setelahnya. Saat ini, Bitcoin masih diperdagangkan di kisaran $67.000 hingga $69.000, jauh di bawah rekor tertingginya di $126.000 yang tercatat pada Oktober 2025. Tekanan dari perang Iran, harga minyak Brent yang bertahan di atas $110 per barel, dan ketidakpastian soal arah suku bunga The Fed menjadi faktor penghambat. Namun dengan likuiditas AS kini berada di titik tertinggi sepanjang sejarah dan sebagian besar masih “parkir” di instrumen aman, potensi rotasi ke aset berisiko seperti Bitcoin tetap terbuka lebar jika sentimen global membaik. Pertanyaan utamanya kini tinggal soal waktu. Jika pola historis terulang, lonjakan M2 yang sudah berlangsung lebih dari 20 bulan berturut-turut ini bisa menjadi bahan bakar untuk pergerakan besar Bitcoin berikutnya, terutama jika The Fed mulai memberikan sinyal pelonggaran di kuartal ketiga 2026.
NATO di Ambang Kehancuran: Trump Siap Tinggalkan Aliansi 77 Tahun yang Menjaga Stabilitas Dunia

Presiden AS Donald Trump menyatakan pertimbangan untuk menarik AS dari NATO sudah “melampaui pertimbangan ulang,” pernyataan paling keras dalam sejarah hubungan transatlantik. Dalam wawancara dengan The Telegraph yang diterbitkan Rabu (1 April 2026), Trump menyebut sekutu Eropa “pengecut” karena menolak mendukung perang AS dan Israel terhadap Iran, melansir AP. Perpecahan ini dipicu oleh penolakan menyeluruh dari sekutu Eropa untuk membantu AS di Selat Hormuz. Spanyol menutup wilayah udaranya untuk pesawat militer AS. Jerman menyebut perang Iran sebagai “kesalahan berbahaya” yang melanggar hukum internasional. Prancis menyatakan ide membebaskan Selat Hormuz secara paksa “tidak realistis.” Tidak ada satupun dari 32 anggota NATO yang mengirim kapal perang ke selat tersebut, melansir AP dan CNN. Menteri Luar Negeri Marco Rubio mempertegas posisi Washington. Ia menyatakan kepada Al Jazeera bahwa jika aliansi “hanya soal melindungi Eropa” tanpa timbal balik, maka AS “harus meninjau ulang nilainya.” Menteri Pertahanan Pete Hegseth menolak menjawab langsung saat ditanya apakah AS masih mendukung Pasal 5, klausul pertahanan kolektif NATO yang menjadi fondasi aliansi, melansir Axios. Inti konflik ini bersifat fundamental. Trump memulai perang terhadap Iran pada 28 Februari 2026 tanpa konsultasi dengan sekutu NATO. Satu bulan kemudian, ia menuntut sekutu yang sama untuk menanggung konsekuensi konflik yang tidak mereka setujui. CNN menyebut posisi Trump sebagai pendekatan yang belum pernah digunakan AS terhadap sekutunya sejak aliansi ini didirikan pada 1949. Dampak ekonominya sudah terasa dan akan semakin berat. Eropa yang kehilangan jaminan keamanan AS akan dipaksa meningkatkan belanja militer secara drastis, mengalihkan dana dari stimulus ekonomi di tengah krisis energi akibat penutupan Selat Hormuz. Harga minyak Brent di atas US$103 per barel sudah memukul ekonomi Eropa, dan perpecahan NATO akan memperburuk tekanan ini. Bagi investor global, runtuhnya aliansi yang menjaga stabilitas dunia selama 77 tahun berarti memasuki era ketidakpastian geopolitik yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Trump Bersedia Akhiri Perang Tanpa Buka Selat Hormuz, tapi Sekutu Teluk Desak Serangan Dilanjutkan

Dua laporan besar muncul pada hari yang sama dengan arah yang bertolak belakang soal masa depan perang Iran. Melansir Wall Street Journal (dikutip Reuters), Trump menyampaikan kepada stafnya bahwa ia bersedia mengakhiri kampanye militer meskipun Selat Hormuz masih tertutup. Penilaian administrasi menunjukkan bahwa operasi pembukaan selat secara militer akan memakan waktu empat hingga enam minggu tambahan, melampaui timeline yang diinginkan Trump. Opsi yang lebih dipilih adalah menekan Iran lewat diplomasi atau menyerahkan operasi pembukaan selat ke sekutu Eropa dan Teluk. Namun di sisi lain, Associated Press melaporkan bahwa sekutu Teluk justru mendesak Trump untuk tidak berhenti. Pejabat dari Saudi Arabia, UEA, Kuwait, dan Bahrain secara privat menyampaikan bahwa serangan selama sebulan belum cukup melemahkan Iran. Melansir AP via Washington Post, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman menyampaikan langsung ke Gedung Putih bahwa melumpuhkan kapabilitas militer Iran lebih lanjut adalah kepentingan jangka panjang kawasan. Saudi menuntut bahwa penyelesaian perang harus mencakup netralisasi program nuklir Iran, penghancuran kemampuan rudal balistik, dan penghentian dukungan terhadap kelompok proksi. UEA muncul sebagai pihak paling agresif di antara negara Teluk. Melansir AP, UEA mendorong Trump untuk memerintahkan invasi darat, didukung oleh Kuwait dan Bahrain. UEA sudah menghadapi lebih dari 2.300 serangan rudal dan drone dari Iran sejak perang dimulai. Meski demikian, Saudi juga menyadari bahwa konflik yang berkepanjangan memberi Iran lebih banyak kesempatan untuk menyerang infrastruktur energi kerajaan. Oman dan Qatar, di sisi lain, tetap mendukung jalur diplomasi dan de-eskalasi. Bagi kamu sebagai investor, ketidakpastian ini memiliki implikasi langsung. Sinyal de-eskalasi dari Trump bisa meredakan tekanan di pasar energi dalam jangka pendek, tapi selama Selat Hormuz masih tertutup, sekitar 20% pasokan minyak global tetap terganggu. Harga minyak Brent bertahan di atas US$110 per barel dan Bitcoin di kisaran US$66.500. Arah konflik dalam dua pekan ke depan, terutama menjelang batas waktu 6 April yang ditetapkan Trump untuk Iran membuka selat, akan menjadi penentu utama sentimen pasar. Melansir WSJ (via Reuters), AP (via Washington Post)
PMI Manufaktur China Naik ke 50,4 di Maret, Kembali Ekspansi Setelah Dua Bulan Kontraksi

Aktivitas pabrik China kembali tumbuh di bulan Maret setelah dua bulan berturut-turut mengalami kontraksi. Indeks PMI manufaktur resmi yang dirilis Biro Statistik Nasional (NBS) China naik ke 50,4 pada Maret 2026, di atas ekspektasi pasar yang memperkirakan 50,1 dan naik signifikan dari 49,0 di Februari. Angka di atas 50 menandakan ekspansi, dan ini merupakan level tertinggi dalam setahun terakhir. Melansir Reuters, kontraksi di Januari (49,3) dan Februari (49,0) sebagian besar disebabkan oleh lemahnya konsumsi domestik dan gangguan produksi selama libur Tahun Baru Imlek yang diperpanjang. Perbaikan di Maret didorong oleh momentum ekspor yang kuat dan kebijakan stimulus pemerintah, termasuk target anggaran infrastruktur yang lebih besar dan dana khusus 100 miliar yuan (sekitar US$14,5 miliar) untuk mendorong konsumsi. Pemerintah juga menetapkan target pertumbuhan yang lebih fleksibel di kisaran 4,5% hingga 5% untuk 2026, memberikan ruang fiskal lebih luas. Namun tantangan masih menghadang. Lonjakan harga minyak akibat penutupan Selat Hormuz menekan industri seperti kilang dan petrokimia China. Melansir Reuters, analis dari Economist Intelligence Unit memperingatkan bahwa guncangan minyak akan membatasi pemulihan PMI. Ekspor yang selama ini menjadi penopang pertumbuhan juga menghadapi risiko dari ketidakpastian global dan tarif AS yang masih berlaku. Bagi kamu sebagai investor, pemulihan manufaktur China bisa menjadi penyeimbang di tengah sentimen global yang suram. China tetap menjadi penggerak utama permintaan komoditas dan barang global, dan ekspansi pabriknya bisa membantu menopang pertumbuhan ekonomi dunia. Bitcoin berada di kisaran US$66.500, dan stabilisasi ekonomi China bisa menjadi faktor positif bagi aset berisiko jika momentum pemulihan ini berlanjut ke kuartal kedua. Melansir Reuters, NBS China
74% Gen Z dan 66% Milenial Alami Burnout: Krisis Tenaga Kerja yang Merugikan Ekonomi Global US$322 Miliar

Burnout di kalangan pekerja AS mencapai titik tertinggi dalam enam tahun terakhir. Melansir Fortune, laporan tahunan Aflac WorkForces Report menunjukkan 74% pekerja Gen Z mengalami burnout sedang hingga berat, menjadikan mereka generasi paling terdampak. Milenial menyusul di angka 66%, diikuti Gen X di 60%, dan baby boomers di 39%. Secara keseluruhan, hampir 3 dari 4 pekerja AS (72%) menghadapi stres kerja di level sedang hingga sangat tinggi. Penyebab utamanya bukan semata beban kerja yang berat, meskipun 35% responden menyebutnya sebagai pemicu utama stres. Melansir Fortune, Suzy Welch dari New York University menilai generasi muda menghadapi jadwal kerja yang sama ketatnya dengan generasi sebelumnya, tapi kehilangan keyakinan mendasar bahwa kerja keras akan menghasilkan kemajuan karier. Milenial juga menghadapi tekanan ganda sebagai “generasi sandwich” yang menanggung biaya anak sekaligus orang tua yang menua, di tengah krisis ekonomi berulang dan inflasi yang belum mereda. Dampak ekonominya masif. Data yang dikutip Fortune menunjukkan burnout di tempat kerja merugikan ekonomi global sekitar US$322 miliar per tahun dari produktivitas yang hilang, dengan biaya kesehatan tambahan antara US$125 miliar hingga US$190 miliar. Laporan Aflac juga mencatat semakin sedikit pekerja yang percaya bahwa perusahaan mereka peduli terhadap kesehatan mental karyawan, turun dari 54% pada 2024 menjadi hanya 48% pada 2025. Bagi kamu sebagai investor, tren ini punya implikasi langsung. Di tengah perang Iran yang mendorong harga minyak dan inflasi naik, tekanan finansial terhadap generasi muda semakin berat. Daya beli menurun dan tabungan tergerus, yang secara tidak langsung memengaruhi pola investasi. Generasi milenial dan Gen Z selama ini menjadi penggerak utama adopsi aset digital, dan penurunan daya beli mereka bisa memperlambat arus modal ke pasar kripto dalam jangka menengah. Bitcoin saat ini bertahan di kisaran US$66.500, masih jauh dari rekor tertingginya di US$126.080. Melansir Fortune, Aflac
Iran: Kepercayaan terhadap AS di Titik Nol, Tidak Ada Negosiasi yang Berlangsung

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa tingkat kepercayaan Iran terhadap Amerika Serikat berada di titik nol dan menegaskan bahwa pertukaran pesan dengan utusan AS Steve Witkoff tidak bisa disebut sebagai negosiasi. Melansir Al Jazeera, Araghchi menyebut bahwa Iran tidak pernah punya pengalaman baik bernegosiasi dengan AS, merujuk pada keluarnya AS dari kesepakatan nuklir JCPOA dan serangan militer yang terjadi justru di saat pembicaraan sedang berlangsung. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menambahkan bahwa fakta Iran diserang ketika sedang bernegosiasi membuktikan bahwa AS tidak percaya pada diplomasi. Iran juga belum merespons proposal perdamaian 15 poin yang dikirim AS melalui Pakistan. Araghchi menegaskan bahwa Selat Hormuz berada di perairan teritorial Iran dan Oman, dan pemblokiran hanya berlaku untuk kapal dari negara yang berperang dengan Iran. Pernyataan ini kontras tajam dengan klaim Presiden Trump di hari yang sama. Trump menyebut negosiasi berjalan sangat baik, AS bisa keluar dari Iran dalam dua hingga tiga minggu, dan rezim baru Iran jauh lebih mudah diajak bicara. Gedung Putih bahkan menjadwalkan pidato nasional untuk Rabu malam, 2 April 2026, yang dijanjikan akan berisi perkembangan penting soal Iran. Dua narasi yang saling bertentangan ini menciptakan ketidakpastian yang langsung terasa di pasar. Harga minyak Brent masih bertahan di atas US$112 per barel, mencerminkan bahwa pelaku pasar belum yakin Selat Hormuz akan segera dibuka. Bitcoin di kisaran US$66.500 juga belum menunjukkan pergerakan signifikan, menunggu kejelasan apakah de-eskalasi benar-benar terjadi atau hanya klaim sepihak. Bagi investor, pidato Trump Rabu malam menjadi titik penentu. Jika isi pidato sejalan dengan optimisme yang diklaim, pasar bisa merespons positif. Tapi selama Iran secara terbuka menolak keberadaan negosiasi dan Hormuz masih tertutup, risiko geopolitik belum benar-benar mereda. Melansir Al Jazeera. Catatan: pernyataan Araghchi mewakili posisi resmi pemerintah Iran. Pihak AS membantah klaim tidak adanya negosiasi.