Burnout di kalangan pekerja AS mencapai titik tertinggi dalam enam tahun terakhir. Melansir Fortune, laporan tahunan Aflac WorkForces Report menunjukkan 74% pekerja Gen Z mengalami burnout sedang hingga berat, menjadikan mereka generasi paling terdampak. Milenial menyusul di angka 66%, diikuti Gen X di 60%, dan baby boomers di 39%. Secara keseluruhan, hampir 3 dari 4 pekerja AS (72%) menghadapi stres kerja di level sedang hingga sangat tinggi.
Penyebab utamanya bukan semata beban kerja yang berat, meskipun 35% responden menyebutnya sebagai pemicu utama stres. Melansir Fortune, Suzy Welch dari New York University menilai generasi muda menghadapi jadwal kerja yang sama ketatnya dengan generasi sebelumnya, tapi kehilangan keyakinan mendasar bahwa kerja keras akan menghasilkan kemajuan karier. Milenial juga menghadapi tekanan ganda sebagai “generasi sandwich” yang menanggung biaya anak sekaligus orang tua yang menua, di tengah krisis ekonomi berulang dan inflasi yang belum mereda.
Dampak ekonominya masif. Data yang dikutip Fortune menunjukkan burnout di tempat kerja merugikan ekonomi global sekitar US$322 miliar per tahun dari produktivitas yang hilang, dengan biaya kesehatan tambahan antara US$125 miliar hingga US$190 miliar. Laporan Aflac juga mencatat semakin sedikit pekerja yang percaya bahwa perusahaan mereka peduli terhadap kesehatan mental karyawan, turun dari 54% pada 2024 menjadi hanya 48% pada 2025.
Bagi kamu sebagai investor, tren ini punya implikasi langsung. Di tengah perang Iran yang mendorong harga minyak dan inflasi naik, tekanan finansial terhadap generasi muda semakin berat. Daya beli menurun dan tabungan tergerus, yang secara tidak langsung memengaruhi pola investasi. Generasi milenial dan Gen Z selama ini menjadi penggerak utama adopsi aset digital, dan penurunan daya beli mereka bisa memperlambat arus modal ke pasar kripto dalam jangka menengah. Bitcoin saat ini bertahan di kisaran US$66.500, masih jauh dari rekor tertingginya di US$126.080.
Melansir Fortune, Aflac