Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor 30 tahun melonjak 7 basis poin ke level 3,745 persen, sementara tenor 10 tahun naik 4 basis poin ke 2,420 persen. Angka ini menjadi yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, didorong kombinasi ekspektasi pengetatan moneter dan lonjakan biaya energi akibat penutupan Selat Hormuz.
Jepang adalah salah satu importir energi terbesar di dunia, dan hampir seluruh kebutuhan minyak serta gasnya melewati Selat Hormuz. Ketika jalur itu tertutup dan harga minyak Brent menembus US$111 per barel, biaya impor energi Jepang melonjak tajam. Tekanan fiskal ini memaksa pasar mempertimbangkan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat dari Bank of Japan, yang langsung menekan harga obligasi dan mendorong imbal hasilnya naik.
Dampaknya tidak berhenti di Tokyo. Jepang adalah salah satu pemegang obligasi pemerintah Amerika Serikat terbesar di dunia. Ketika imbal hasil obligasi domestik naik, investor Jepang cenderung menarik dana dari aset luar negeri dan memindahkannya ke dalam negeri. Pola ini berpotensi memicu tekanan tambahan di pasar obligasi global, termasuk obligasi AS, yang bisa memperlebar gelombang aksi jual.
Untuk pasar kripto, kenaikan imbal hasil obligasi global berarti biaya modal naik dan likuiditas menyusut. Selama krisis Hormuz belum mereda dan harga energi tetap tinggi, ini menjadi salah satu tekanan struktural yang membatasi ruang kenaikan Bitcoin maupun aset berisiko lainnya.
Jika Jepang benar-benar mulai menarik dana dalam skala besar dari obligasi AS, tekanan terhadap Dolar AS bisa melebar ke pasar negara berkembang, termasuk Rupiah. Perkembangan imbal hasil obligasi Jepang dalam beberapa pekan ke depan layak masuk radar kamu sebagai investor.