Presiden AS Donald Trump menyatakan pertimbangan untuk menarik AS dari NATO sudah “melampaui pertimbangan ulang,” pernyataan paling keras dalam sejarah hubungan transatlantik. Dalam wawancara dengan The Telegraph yang diterbitkan Rabu (1 April 2026), Trump menyebut sekutu Eropa “pengecut” karena menolak mendukung perang AS dan Israel terhadap Iran, melansir AP.
Perpecahan ini dipicu oleh penolakan menyeluruh dari sekutu Eropa untuk membantu AS di Selat Hormuz. Spanyol menutup wilayah udaranya untuk pesawat militer AS. Jerman menyebut perang Iran sebagai “kesalahan berbahaya” yang melanggar hukum internasional. Prancis menyatakan ide membebaskan Selat Hormuz secara paksa “tidak realistis.” Tidak ada satupun dari 32 anggota NATO yang mengirim kapal perang ke selat tersebut, melansir AP dan CNN.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio mempertegas posisi Washington. Ia menyatakan kepada Al Jazeera bahwa jika aliansi “hanya soal melindungi Eropa” tanpa timbal balik, maka AS “harus meninjau ulang nilainya.” Menteri Pertahanan Pete Hegseth menolak menjawab langsung saat ditanya apakah AS masih mendukung Pasal 5, klausul pertahanan kolektif NATO yang menjadi fondasi aliansi, melansir Axios.
Inti konflik ini bersifat fundamental. Trump memulai perang terhadap Iran pada 28 Februari 2026 tanpa konsultasi dengan sekutu NATO. Satu bulan kemudian, ia menuntut sekutu yang sama untuk menanggung konsekuensi konflik yang tidak mereka setujui. CNN menyebut posisi Trump sebagai pendekatan yang belum pernah digunakan AS terhadap sekutunya sejak aliansi ini didirikan pada 1949.
Dampak ekonominya sudah terasa dan akan semakin berat. Eropa yang kehilangan jaminan keamanan AS akan dipaksa meningkatkan belanja militer secara drastis, mengalihkan dana dari stimulus ekonomi di tengah krisis energi akibat penutupan Selat Hormuz. Harga minyak Brent di atas US$103 per barel sudah memukul ekonomi Eropa, dan perpecahan NATO akan memperburuk tekanan ini. Bagi investor global, runtuhnya aliansi yang menjaga stabilitas dunia selama 77 tahun berarti memasuki era ketidakpastian geopolitik yang belum pernah terjadi sebelumnya.