Kasus insider trading paling mencengangkan di pasar kripto tahun ini baru saja terungkap. Gannon Ken Van Dyke, seorang Master Sergeant dari Pasukan Khusus AS yang bertugas di Fort Bragg, North Carolina, resmi ditangkap dan didakwa oleh Departemen Kehakiman AS pada Kamis (23/4/2026). Dia terbukti menggunakan informasi rahasia militer untuk meraup keuntungan hampir Rp6,6 miliar di pasar prediksi Polymarket.
Van Dyke adalah bagian dari tim perencanaan Operasi Absolute Resolve, misi militer AS untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada Januari 2026. Operasi ini berhasil dilaksanakan dan Maduro kini tengah menghadapi dakwaan terkait perdagangan narkotika di pengadilan federal New York. Namun di balik keberhasilan operasi, ada skandal besar yang baru terbongkar bulan ini.
Berdasarkan dakwaan yang dibuka publik, Van Dyke membuka akun Polymarket pada akhir Desember 2025, tidak lama sebelum operasi militer dimulai. Dia memasang total 13 taruhan senilai $33.034 atau sekitar Rp500 juta pada berbagai prediksi terkait Venezuela dan nasib Maduro. Taruhan terbesarnya, senilai $32.537, adalah bet bahwa Maduro akan lengser dari kekuasaan sebelum 31 Januari 2026. Ketika operasi berhasil dan Maduro benar-benar ditangkap, taruhan itu menghasilkan keuntungan 1.242% atau sekitar $404.222. Total keuntungannya mencapai hampir $410.000 atau sekitar Rp6,6 miliar hanya dalam hitungan hari.
Yang membuat kasus ini masuk kategori insider trading adalah fakta bahwa Van Dyke sudah menandatangani perjanjian kerahasiaan militer. Dia dilarang membocorkan atau menggunakan informasi klasifikasi dalam bentuk apapun untuk kepentingan pribadi. Pakai informasi tersebut untuk cuan di pasar finansial adalah pelanggaran serius yang masuk dalam definisi klasik insider trading, hanya saja kali ini instrumennya bukan saham tradisional melainkan kontrak prediksi berbasis kripto.
Ini bukan kasus biasa. CFTC atau Commodity Futures Trading Commission menyebutnya sebagai kasus pertama dalam sejarah mereka yang menuntut insider trading di pasar prediksi berbasis event. Van Dyke hadapi 5 dakwaan federal sekaligus, termasuk penggunaan ilegal informasi pemerintah untuk keuntungan pribadi, pencurian informasi pemerintah non-publik, penipuan komoditas, penipuan kawat, dan transaksi moneter ilegal. Menariknya, justru Polymarket sendiri yang melaporkan aktivitas mencurigakan ini ke Departemen Kehakiman setelah mereka melacak pola taruhan yang tidak wajar dari akun anonim tersebut.
Kasus Van Dyke ini membuka diskusi besar soal integritas pasar prediksi kripto. Polymarket dan platform sejenis seperti Kalshi tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir, dengan total transaksi mencapai miliaran dolar per minggu. Bedanya dengan pasar saham tradisional, pasar prediksi memungkinkan siapa saja taruhan anonim terkait kejadian geopolitik, pemilu, hingga operasi militer. Ini justru yang menarik perhatian orang dalam yang punya akses ke informasi rahasia, termasuk pejabat pemerintah, tentara, dan pegawai institusi strategis.
Presiden Donald Trump sendiri sempat mengomentari kasus ini dengan nada prihatin. Menurutnya, dunia saat ini sudah berubah menjadi semacam kasino. Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran yang sama soal potensi pegawai federal memasang taruhan di pasar prediksi terkait konflik Iran dan perkembangan geopolitik lainnya. Regulator global kini mulai mempertimbangkan penerapan aturan yang sama seperti pasar saham tradisional ke pasar prediksi kripto, termasuk kewajiban pelaporan transaksi mencurigakan dan larangan bagi individu dengan akses ke informasi rahasia untuk berpartisipasi di pasar tertentu.
Bagi trader kripto di Indonesia, kasus ini jadi pengingat penting bahwa pasar kripto belum sepenuhnya bebas dari manipulasi dan penyalahgunaan. Selama aturan belum jelas dan regulator belum punya tools pengawasan yang memadai, trader biasa harus lebih hati-hati dalam membaca pergerakan harga yang tidak wajar, karena bisa saja itu tanda ada pemain dalam yang main kotor.