Negara penghasil minyak terbesar di OPEC ternyata tidak kebal dari dampak perang Iran. Arab Saudi yang biasanya jadi penyelamat saat dunia krisis energi, sekarang justru jadi salah satu negara yang paling terpukul. Ekspor minyak Saudi anjlok 50% dalam sebulan, ekonominya pun ikut melambat. Buat Indonesia sebagai importir minyak, situasi ini bikin tekanan ke Rupiah dan APBN makin berat.
Apa yang Sebenarnya Terjadi di Saudi
Bloomberg melaporkan bahwa ekspor minyak Saudi pada Maret 2026 turun 50% dibanding bulan sebelumnya. Pengiriman minyak rata-rata cuma 3,33 juta barel per hari sepanjang Maret, padahal sebelumnya bisa di atas 6 juta barel per hari. Penyebab utamanya adalah penutupan Selat Hormuz yang bikin sebagian besar tanker Saudi terjebak di pelabuhan-pelabuhan Teluk Persia.
Data OPEC bulan April mencatat produksi minyak Saudi anjlok 23% dari 10,1 juta barel per hari di Februari ke 7,8 juta barel per hari di Maret. Kapasitas produksi juga terpangkas 600 ribu barel per hari akibat serangan Iran ke infrastruktur energi Saudi.
Saudi Sebenarnya Punya Plan B yang Juga Diserang Iran
Kalau ada negara yang seharusnya paling siap menghadapi penutupan Selat Hormuz, itu adalah Saudi. Negara ini punya pipeline East-West sepanjang 1.200 kilometer yang dibangun di tahun 1980-an khusus untuk menghindari Hormuz. Pipeline ini bisa mengalirkan 7 juta barel per hari langsung ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Tapi Iran tidak tinggal diam. Pipeline strategis ini ikut diserang dalam beberapa minggu terakhir. Berdasarkan data dari Saudi Press Agency, kapasitas pipeline berkurang 700 ribu barel per hari akibat serangan tersebut. Saudi sekarang berada dalam posisi yang sangat sulit, jalur utama ditutup, jalur cadangan diserang.
Negara Teluk Lain Juga Hancur
Saudi tidak sendirian. Hampir semua produsen minyak besar di Teluk Arab ikut terpukul. Data OPEC menunjukkan Iraq paling parah dengan produksi anjlok 61%, dari 4,2 juta jadi 1,6 juta barel per hari. Kuwait turun 53% dan UAE turun 44%.
Kalau dijumlahkan, produksi minyak gabungan dari Saudi, Iraq, Kuwait, dan UAE turun sekitar 10 juta barel per hari di puncak krisis. Ini setara dengan 10% pasokan minyak global yang hilang dalam waktu singkat. International Energy Agency menyebut ini sebagai gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.
Kenapa Saudi Tidak Bisa Jadi Penyelamat Kali Ini
Biasanya saat dunia menghadapi krisis pasokan minyak, mata semua orang langsung tertuju ke Saudi. Sebagai pemimpin OPEC+ dan satu-satunya negara dengan kapasitas produksi cadangan yang signifikan, Saudi sering jadi penyelamat. Tapi situasi sekarang beda total.
Dengan jalur ekspor utama tertutup dan jalur cadangan ikut diserang, kemampuan Saudi untuk mengalirkan lebih banyak minyak ke pasar global jadi sangat terbatas. Bahkan kalau Saudi mau genjot produksi, minyak yang sudah dipompa pun tidak bisa keluar dari Teluk. Inilah yang bikin pasar minyak global panik dan harga melonjak ke level yang belum pernah dilihat dalam beberapa dekade.
Dampak ke Harga Minyak Dunia
Harga minyak dunia mencerminkan situasi mencekik ini. Brent crude sempat tembus $120 per barel di puncak krisis, level yang tidak terlihat sejak invasi Rusia ke Ukraina. Saat ini Brent bertahan di kisaran $107 per barel, masih jauh di atas level normal sebelum perang.
AS dan negara-negara besar lainnya sudah keluarkan cadangan minyak strategis untuk menahan harga. International Energy Agency mengoordinasikan pelepasan cadangan sampai 3 juta barel per hari. Tapi langkah ini cuma bisa menahan, tidak menyelesaikan masalah pasokan.
Apa Artinya Buat Indonesia
Indonesia adalah negara importir minyak. Setiap kenaikan harga minyak global langsung tercermin di beban impor energi nasional. Beberapa dampak konkret yang sudah terasa:
Tekanan ke Rupiah. Rupiah sudah sentuh rekor terlemah sepanjang sejarah di Rp17.353 per dolar AS pada 30 April 2026. Tekanan ini sebagian besar berasal dari kebutuhan dolar untuk impor minyak yang lebih mahal.
APBN 2026 makin tertekan. Asumsi harga minyak di APBN 2026 dipatok di $70 per barel. Dengan harga aktual di $107, selisihnya signifikan. Setiap kenaikan ICP sebesar $1 menambah defisit anggaran Indonesia sekitar Rp6,8 triliun.
Subsidi energi membengkak. Pemerintah masih menahan harga BBM bersubsidi tidak naik. Tapi konsekuensinya, beban subsidi di APBN makin berat. Menkeu Purbaya sudah menegaskan akan mempertahankan harga BBM subsidi sampai akhir 2026, tapi ini butuh fiscal space yang besar.
Inflasi domestik bisa terdorong naik. Harga BBM non-subsidi dan bahan bakar industri yang naik akan berdampak ke logistik, transportasi, dan harga barang konsumen.
Pelajaran Penting Soal Ketahanan Energi
Krisis ini memberi pelajaran penting buat semua negara, termasuk Indonesia. Bahkan negara yang punya cadangan minyak besar seperti Saudi bisa kewalahan kalau jalur distribusi terganggu. Apalagi negara importir minyak seperti Indonesia, ketergantungan pada pasokan global jadi titik lemah yang serius.
Inilah kenapa hilirisasi energi yang baru-baru ini diresmikan pemerintah jadi langkah strategis. Kilang bensin baru di Cilacap dan Dumai, plus konversi batu bara jadi gas DME pengganti LPG impor, adalah upaya mengurangi ketergantungan pada pasokan luar negeri. Kalau eksekusinya berjalan, dampak krisis seperti ini ke depan bisa lebih ringan untuk Indonesia.
Yang Perlu Dipantau ke Depan
Beberapa hal yang patut diperhatikan dalam beberapa minggu ke depan:
Status Selat Hormuz. Apakah ada kesepakatan damai yang membuka kembali jalur ini, atau blokade tetap berlanjut.
Pergerakan harga Brent dan WTI. Harga di kisaran $100 sampai $120 per barel jadi range yang dianggap “normal baru” selama perang berlangsung.
Kebijakan Bank Indonesia menjaga Rupiah. Apakah BI akan naikkan suku bunga lagi untuk menahan pelemahan, atau pakai instrumen lain.
Dampak ke saham emiten energi Indonesia. Saham seperti MEDC, ADRO, ITMG, dan PGAS biasanya terpengaruh signifikan oleh pergerakan harga minyak global.
Selama perang Iran belum benar-benar selesai dan Selat Hormuz belum normal, tekanan ke pasar minyak global akan terus berlanjut. Buat investor Indonesia, ini momen untuk memantau dengan teliti dan memikirkan strategi diversifikasi yang sesuai dengan profil risiko masing-masing.