Sektor teknologi Amerika Serikat sedang mengalami kontraksi tenaga kerja terpanjang dalam sejarah modern. Sejak mencapai puncaknya pada November 2022, industri ini telah kehilangan sekitar 330.000 pekerjaan, menurunkan total tenaga kerja ke sekitar 2,79 juta, level terendah sejak pertengahan 2021 dan kini bahkan di bawah level sebelum pandemi, kembali ke angka yang terakhir terlihat pada 2016.
Dalam 12 bulan terakhir saja, sektor ini kehilangan sekitar 43.000 posisi, menjadikannya penurunan tahunan terbesar sejak awal 2024. Yang membuat data ini mengejutkan adalah skalanya: kontraksi ini lebih dalam dibanding penurunan yang terjadi selama pandemi 2020 maupun krisis finansial global 2008. Penurunan juga telah berlangsung selama lebih dari dua tahun berturut-turut tanpa tanda pemulihan yang berarti.
Di balik angka ini, gelombang PHK massal terus menghantam perusahaan teknologi terbesar di dunia. Melansir Computerworld, sektor teknologi AS kehilangan 52.050 pekerjaan hanya dalam tiga bulan pertama 2026, melampaui 37.097 yang hilang di periode yang sama tahun lalu. Amazon memangkas 16.000 posisi meski membukukan pendapatan rekor $716,9 miliar di 2025. Oracle dilaporkan mempertimbangkan pemangkasan hingga 30.000 posisi. Meta memotong 1.500 pekerja dari divisi Reality Labs, sementara Dell, Salesforce, dan Atlassian masing-masing memangkas ribuan karyawan.
Penggerak utama di balik kontraksi ini adalah percepatan adopsi kecerdasan buatan. AI kini disebut sebagai alasan di balik lebih dari 54.000 PHK di AS sepanjang 2026 sejauh ini, naik dari 3% ke 5% dari total seluruh PHK nasional hanya dalam satu bulan, menurut data Challenger, Gray & Christmas. Perusahaan tidak sekadar mengurangi biaya, mereka sedang membangun ulang seluruh struktur organisasi di sekitar sistem otomasi dan AI. Fungsi yang sebelumnya membutuhkan tim besar, mulai dari pengembangan perangkat lunak hingga layanan pelanggan, kini bisa dijalankan dengan tenaga kerja yang jauh lebih ramping.
Ironinya, paradoks terbesar justru muncul dari sini. Di saat perusahaan teknologi memangkas ratusan ribu pekerja, 87% pemimpin teknologi justru melaporkan kesulitan menemukan tenaga kerja dengan keahlian baru yang dibutuhkan, menurut Robert Half. Lowongan kerja teknologi yang membutuhkan kompetensi AI, keamanan siber, dan analisis data justru meningkat tiga bulan berturut-turut di awal 2026. Industri ini menyusut secara volume, tapi kebutuhan akan keahlian baru melonjak tajam. Bagi investor dan pelaku pasar, ini adalah sinyal ganda: efisiensi AI mendorong profitabilitas perusahaan, tapi hilangnya ratusan ribu pekerjaan bergaji tinggi di sektor yang selama satu dekade menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi AS bisa mengurangi daya beli konsumen dan menekan permintaan terhadap aset berisiko, termasuk crypto, dalam jangka menengah.