Larry Fink, CEO BlackRock selaku perusahaan pengelola investasi terbesar di dunia dengan aset lebih dari US$10 triliun, mengeluarkan peringatan keras soal dampak konflik Iran terhadap ekonomi global.
Fink menyebut bahwa jika Iran terus menjadi ancaman terhadap pasokan minyak dunia, harga minyak bisa bertahan di kisaran US$100 hingga US$150 per barel selama bertahun-tahun. Jika skenario itu terwujud, resesi global hampir tidak bisa dihindari.
Peringatan ini bukan sekadar spekulasi. BlackRock mengelola lebih dari US$10 triliun aset global, dan pandangan Fink secara historis menjadi salah satu referensi utama para manajer investasi besar dunia dalam mengambil keputusan alokasi portofolio. Ketika Fink berbicara soal risiko makro, pasar mendengarkan.
Dampaknya ke Indonesia tidak kecil. Harga minyak di atas US$100 per barel berarti biaya impor energi melonjak dan tekanan terhadap Rupiah meningkat. Inflasi domestik akan lebih sulit dikendalikan, dan Bank Indonesia berpotensi menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Langkah itu pada akhirnya menekan pasar saham domestik dan aset berisiko termasuk kripto dalam jangka pendek.